
Bimo begitu terpesona melihat penampilan Bella yang nampak begitu cantik. Ia yang awalnya duduk di apit kedua orang tuanya, Langsung berdiri begitu melihat Bella sampai di hadapannya.
"Bimo jaga sikap mu," ucap Hadi menarik tangan Bimo hingga duduk kembali.
Bryan tersenyum melihat Bimo yang terlihat begitu konyol.
"E... Maaf Om," ucap Bimo malu-malu.
"Gak papa."
"Bella beri salam pada mereka." lanjut Bryan.
Dengan patuh Bella menjabat tangan kedua calon mertuanya. Sementara kepada Bimo Bella hanya menganggukkan kepala dengan ekspresi datarnya.
"Baiklah Tuan Bryan, Seperti yang sudah kita bicarakan di telfon, Maksud kedatangan kami kesini ya itu untuk melamar putri Anda sekaligus menetapkan tanggal pernikahan mereka. Tapi sebelum itu kami ingin dengar terlebih dahulu dari Nak Bella langsung, Apakah Nak Bella bersedia menjadi istri putra kami Bimo?"
Bryan dan Zia memandang tegang Bella yang hingga beberapa menit tidak juga memberikan jawabannya.
"Begini Tuan Bryan, Kami tidak ingin ada keterpaksaan dalam pernikahan ini, Karena kami tidak ingin kedepannya terjadi masalah dengan pernikahan mereka jika..."
"Aku menerima pernikahan ini." tegas Bella memotong ucapan calon Ayah mertuanya.
Bryan menghelai nafas lega mendengar jawaban putrinya.
"Syukurlah, Kalau begitu mari kita cari tanggal yang baik."
Setelah mencocokkan tanggal antara Bimo dan Bella akhirnya mereka menemukan tanggal yang pas untuk pernikahan mereka, Ya itu satu bulan dari sekarang.
"Jadi kita sepakat?" tanya Tuan Hadi.
"Ya."
"Kalau begitu biarkan mereka saling mengenal terlebih dahulu sebelum kami pulang."
"Ya tentu." saut Bryan memberi isyarat pada Bella untuk berbicara berdua dengan Bimo.
Dengan patuh Bella beranjak dari duduknya dan mengikuti Bimo yang mengajaknya bicara di teras.
Setelah berbasa-basi memperkenalkan diri. Kini Bimo mencoba untuk menarik perhatian Bella dengan celotehnya.
__ADS_1
"Sejak mengenal mu berat badanku nambah terus, Kamu tau kenapa?"
Bella hanya menggeleng pelan.
"Karena kamu juga berat," ucapnya tersenyum.
"Apa menurutmu Aku gendut?!"
"Berat untuk dilupakan."
Mendengar hal itu seketika membuat perasaan Bella berubah dan menyembunyikan senyumnya yang tertahan.
"Dan kata orang tua jaman dulu, Jangan menikah dengan wanita sekampung, Makanya Aku ingin menikah dengan mu."
"Ya iyalah, Menikah ya cukup satu wanita saja, Paling banyak empat, Masa wanita sekampung mau kamu nikahi semua!"
"Hahahaha gak lucu ya?"
"Garing!"
"Baiklah Aku memang tidak pandai merayu, Tapi kalau kamu ajak Aku melompat bersama dengan mu, Maka Aku tidak akan pernah mau."
"Iyalah, Mending Aku lari ke bawah dan menangkap mu biar tidak terjadi sesuatu pada mu."
Lagi-lagi Bella menahan senyumnya yang nyaris tak bisa ia tahan melihat Bimo yang penuh percaya diri menaik turunkan kedua alisnya dengan senyum yang terukir di bibirnya.
"Ternyata Bimo cukup menyenangkan." batinnya.
Setelah cukup lama mereka berbincang Bimo dan keluarganya pamit pulang. Tidak seperti kedatangan Bimo yang sebelumnya. Kali ini Bella ikut mengantar Bimo dan keluarganya hingga ke teras hingga mobil keluarga Bimo meninggalkan rumahnya.
"Bagaimana mana Bella, Kamu menyukai Bimo?"
"Tidak terlalu buruk Pah, Bimo asik kok."
"Syukurlah, Papah berharap kamu akan hidup bahagia dengan nya." dengan memegang kedua sisi pipinya Bryan mengecup kening putrinya.
Bella menganggukkan kepala dan meminta izin untuk pergi ke kamarnya.
Bryan menatap Zia dan meraih tubuhnya ke pelukannya.
__ADS_1
"Kita ke kamar?"
Seperti biasa, Tanpa menunggu Zia menjawab pertanyaan nya, Bryan membopong tubuh Zia dengan tidak berhenti memberi kecupan mesranya.
Zia terkekeh geli menghindari kecupan Bryan yang bertubi-tubi. Berpuasa satu Minggu membuat Bryan begitu gemas seakan ingin memakan istri kecilnya. Namun mengingat pesan Dokter. Bryan harus menahannya demi kesehatan istri dan calon bayinya.
"Istirahatlah," ucap Bryan membaringkan tubuh Zia.
"Kamu menginginkannya?" tanya Zia yang masih mengalungkan kedua tangannya di leher Bryan.
"Aku selalu menginginkan mu, Tapi Aku bisa menahannya demi dirimu dan calon bayi kita." dengan menyingkap baju Zia, Bryan mengecup perut Zia yang nampak masih rata.
Zia tersenyum dan mengusap kepala Bryan yang kini menatapnya.
"Aku akan memberikannya,"
"Apa yang kamu katakan Sayang, Kamu belum sepenuhnya pulih."
"Aku bisa menyenangkan Om tanpa membahayakan bayi kita." Zia langsung bangkit dan mendorong Bryan berbaring.
"Aku merindukan aroma tubuh ini." ujar Zia yang secepat kilat sudah membuka kancing kemeja Bryan dan menyusuri dada bidangnya. Seketika Bryan menggeliat. Tubuhnya berdesir hebat saat Zia terus menelusuri tubuhnya hingga ke bawah dan langsung membuka celananya.
Zia terdiam memandangi benda itu yang sudah lebih satu minggu tidak ia rasakan kehangatannya. Dengan pandangan yang sudah penuh kabut gair'ah Zia mulai memainkan dengan bibir dan lidahnya hingga membuat Bryan mendes'ah nikmat merasakan setiap sensasi yang Zia berikan.
"Kamu semakin hebat Sayang, Oughhh...." racaunya.
Mendengar pujian itu membuat Zia semakin bersemangat dan mempercepat gerakannya hingga membuat Bryan menggelinjang hebat saat merasakan miliknya akan segera melesakkan cairan hangatnya.
"Ziaaaa.... Akhhh...." Bryan menggenggam rambut Zia dengan kuat berbarengan dengan ledakan hangat yang menyembur begitu banyaknya.
Zia langsung melepaskannya dan mengatur nafasnya yang memburu akibat aktivitasnya yang membuat mulutnya penuh dan sulit bernafas. Namun melihat suaminya begitu terlihat puas membuat Zia tersenyum senang lalu merangkak naik ke atas tubuh Bryan kemudian memeluknya dengan berbantalkan dadanya yang penuh keringat yang ia ciptakan.
Bryan tersenyum memeluk tubuh Zia kemudian mengusap kepalanya dan nengecup pucuk kepala Zia dengan penuh kasih.
"Terimakasih Sayang, Aku akan membayar nya setelah kamu kembali pulih."
"Om harus membayarnya tiga kali lipat dari ini," ucap Zia yang mulai memejamkan matanya.
Bryan terkekeh dan mempererat pelukannya.
__ADS_1
Bersambung..