Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Penawar Hati


__ADS_3

Zia mengurai pelukannya dan begitu terharu menatap Bryan.


Zia pikir dia akan kehilangan kepercayaan Bryan dan akan terjadi salah paham, Tapi ternyata yang terjadi malah sebaliknya.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bryan mengusap sisa air mata yang menetes di pipi Zia.


"Aku..." Zia menghentikan ucapannya begitu melihat punggung tangan Bryan yang terluka dan mengeluarkan cukup banyak darah.


"Tangan Om kenapa?" tanya Zia khawatir.


"Tidak papa Sayang, Aku begitu khawatir mendengar mu mengendarai mobil sendiri, Sementara Bella tidak mau mengangkat ponselnya jadi Aku meluapkan pada meja."


"Aku akan mengobatinya."


"Tenang saja Zia, Ini tidak papa, Bagaimana dengan mu, Apa ada yang sakit, Apa kamu terluka?" Bryan menelisik seluruh tubuh Zia untuk memastikan jika istri kecilnya baik-baik saja.


"Tapi kening mu lebam?"


"E... Mungkin ini kebentur saat Aku menghindari mobil dari arah berlawanan, Tapi ini tidak papa Om,"


"Jangan lakukan ini lagi Sayang, Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada mu." Bryan mencoba mengecup wajah Zia. Namun Zia menahan dadanya.


"Ada apa Sayang?" tanya Bryan bingung.


"Biar Aku membersihkan diri dulu,"


Bryan mengangguk paham, Ia tau istrinya merasa kotor karena telah di sentuh laki-laki bajingan itu.


"Aku akan mengantar mu." Bryan langsung membopong tubuh Zia menaiki anak tangga.


"Tangan Om masih sakit."


"Aku masih cukup kuat untuk menggendong mu sampai ke atas."


Zia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Bryan sambil mengalungkan kedua tangannya.


Sesampainya di depan kamar mandi, Bryan menurunkan Zia dan mengambilkan handuk untuknya.


"Dengar Sayang, Kamu tidak perlu mengingat bajin'gan itu karena telah mencoba menyentuh mu, Hal itu tidak akan merubah apapun. Kamu adalah Zia ku, Apapun yang terjadi selamanya kamu akan menjadi wanita yang istimewa untuk ku."

__ADS_1


Zia tersenyum lega dan masuk ke kamar mandi.


Sambil menunggu Zia mandi, Bryan pergi ke kamar Bella untuk melihat apa yang tengah putrinya lakukan. Sesampainya di depan kamar Bryan yang akan mengetuk pintu kamarnya mengurungkan niatnya karena mendengar Bella tengah berbicara dengan seseorang.


"Apa lagi yang harus ku dengarkan semua sudah jelas, Selama ini Mas..."


Bhrukkk...!!!


Bella menghentikan ucapannya saat mendengar pintu kamarnya di buka dengan begitu kerasnya. Bella yang melihat Papahnya sudah berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajamnya langsung memutus sambungan teleponnya.


"P-papah..."


Dengan penuh kemarahan Bryan mendekati sang putri yang masih saja menerima panggilan dari Rendra.


"Kamu masih menerima telepon dari bajingan itu!"


"Pah..."


"Bella! Kenapa kamu sulit sekali di atur, Apa kasih sayang Papah selama ini masih kurang sampai kamu terus saja mencari kasih sayang di luar dan terus saja jatuh kepada pria yang salah? Tidak bisakah kamu menilai mana laki-laki baik dan mana yang bajin'gan?"


Bryan terus menumpahkan kekecewaannya pada putri semata wayangnya, Pengorbanannya selama hampir 20th hingga ia rela tidak menikah lagi seolah tak berarti karena putri satu-satunya selalu membangkang apa yang ia katakan.


Bella yang belum pernah melihat Papahnya begitu marah terhadapnya hanya bisa menunduk takut, Selama ini Papahnya tidak pernah sebegitu marahnya bahkan saat ia melarangnya berhubungan dengan Zia.


Bella mengangkat wajahnya dan menatap Papahnya dengan tatapan tak percaya.


"Bella, Berikan ponsel mu!"


"Tapi Pah..."


"Tidak ada kata tapi."


Bella masih terdiam dan enggan memberikan ponselnya.


"Bellaaaa!!!" triak Bryan hingga membuat Bella terlonjak kaget.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Bella menyerahkan ponselnya kepada Papahnya.


Setelah menyita ponsel Bella, Bryan kembali mengingatkan putrinya agar tidak kembali membangkang apa lagi bertindak macam-macam tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


Jebrettt...!!!


Zia begitu terkejut mendengar suara pintu yang di tutup begitu kerasnya. Zia terenyuh melihat Bryan yang menyandarkan tubuhnya di belakang pintu sambil menengadahkan kepalanya ke atas dengan memejamkan matanya. Kemudian Zia memberanikan diri mendekati sang suami dan langsung memeluknya.


Bryan langsung menurunkan pandangannya dan melihat istri kecilnya yang membenamkan wajahnya di dadanya. Melihat hal itu seketika membuat hatinya menjadi dingin dan membalas pelukan sang istri.


Cukup lama mereka berdiam diri menikmati pelukan hangat yang begitu menenangkan hati hingga akhirnya Bryan membopong tubuh Zia dan membaringkannya di ranjang. Tidak melepaskan begitu saja, Bryan terus menatap wajah istri kecilnya yang selalu bisa membuatnya tenang dalam kondisi apapun.


Mendapat tatapan yang begitu lekat dari suaminya membuat Zia tersipu malu dan memeluk Bryan hingga membuatnya jatuh di ceruk lehernya. Tidak membuang kesempatan, Bryan langsung menciumi ceruk leher Zia dan menyusuri setiap incinya hingga membuat Zia menengadah ke atas. Hal itu mempermudah Bryan untuk memberikan esapan-esapan kuat hingga membuat sang istri mendesis lirih.


Mendengar desisannya membuat Bryan semakin bergairah dan menciumi rahang bawahnya kemudian menghentikan di dagu dan menggigit dengan gemasnya.


"Om.. Akhhh..." Zia menahan kedua pundak Bryan yang seakan ingin memakannya tanpa ampun.


Melihat hal itu Bryan tersenyum dan mengubah posisinya dengan membuat Zia berada di atasnya. Kemudian Bryan kembali bangkit dan meraih bibir Zia dengan tangan yang bergerak cepat melucuti pakaiannya. Setelah semua terlepas Bryan kembali berbaring menatap sang istri yang telah polos duduk di antara kedua pinggulnya.


"Giliran mu Sayang,"


Seperti anak yang penurut, Zia mengangguk dan membuka ikat pinggang Bryan kemudian menurunkannya hingga hanya menyisakan pakaian terakhir yang membentuk segitiga.


"Kenapa tidak sekalian melepaskannya?" dengan senyum menggoda Bryan membukanya dan langsung menarik tubuh sang istri untuk kembali naik ke atasnya.


"Lakukan Sayang, Aku ingin melihat mu menari indah di atas tubuhku."


Mendengar hal itu membuat aliran darah Zia berdesir hebat dan dengan sendirinya ia mulai menyatukan miliknya. Keduanya memejamkan mata menikmati penyatuan itu hingga menyatu sempurna. Setelah mendiamkan beberapa menit Bryan kembali menyuruh sang istri untuk menari di atas tubuhnya. Dengan gerakan yang masih amatir Zia hanya menaik turunkan tubuhnya tanpa memberikan sensasi lebih.


"Lebih cepat lagi Sayang, Putarkan pinggul mu." Bryan meremad kedua buah kenyal milik Zia yang sejak tadi berguncang indah sesuai pergerakan tubuhnya. Tidak mau hanya diam menikmati, Bryan ikut memberi hentakan kuat hingga membuat Zia mendes'ah hebat saat merasa senjata milik suaminya menembus begitu dalam.


Begitupun dengan Bryan yang terus melenguh nikmat dengan mulut menganga menikmati senjatanya yang serasa di cengkraman hebat dari dalam sana.


"Zia... Oughhh..."


"Ommm... Hhhh..."


Keduanya seakan berlomba mencapai puncak kenikmatan hingga lenguhan dan desah'an Jahanam saling bersautan di bibir keduanya hingga keduanya melenguh panjang ketika sama-sama sampai ke puncak kenikmatannya. Zia yang seketika merasa lemas langsung menjatuhkan diri memeluk Bryan yang sudah penuh peluh akibat permainan panas mereka.


Dengan senyum penuh kepuasan Bryan mengecup pundak sang istri kemudian mendekapnya erat hingga keduanya terlelap dalam tidurnya.


Bersambung...

__ADS_1



Jangan Salfok Ama gambar nya wkwkwk 🤣🥵🔥


__ADS_2