Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Extra bab


__ADS_3

Bryan mencoba membantu Bella. Namun ia menjadi bingung karena mendengar Zia yang kembali mual-mual.


"Huwek.... Huwek...!!!"


"Aaaaa... Sakiiiit..."


Seperti bersautan Bella dan Zia membuat Brian menjadi kalang kabut tak tau mana yang harus ia tolong terlebih dahulu.


"Bryan kenapa kamu membuatku pusing!" triak Faraz yang terganggu oleh Bryan yang hanya berlari kesana-kemari.


"Zia... Bella..." saut Bryan.


"Lihatlah Bella sudah di bawa suaminya dan Zia ada Aku yang akan selalu mendampinginya, Kenapa kamu jadi terlihat tak berguna."


"Mas Faraz..." tegur Alia yang melihat Bryan menunduk kesal.


"Hehe... Aku hanya bercanda."


"Bryan, Jika kamu mau mendampingi Bella terlebih dahulu, Pergilah, Ada Aku dan Mas Faraz yang akan menemani Baby Ziyan dan Zia."


"Sudah sana pergilah."


"Mas Faraz..."


"Apa lagi salah ku, Kamu juga menyuruhnya pergi, Kenapa Aku tidak boleh menyuruhnya pergi?"


"Cara bicaranya biasa saja." saut Bryan yang kemudian mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Heh mau ngapain, Bukankah seharusnya kamu lebih memilih menemani putrimu?" tanya Faraz yang akan keberatan melihat Bryan yang malah menunggu Zia.


"Aku akan menemani putriku, Tapi Aku akan minta izin istri ku terlebih dahulu."

__ADS_1


"Dia putri ku."


"Ya Aku tau, Aku belum pikun seperti mu."


"Apa kamu bilang?!"


"Mas Faraaaz..." Alia menyeret tangan Faraz menjauh dari Bryan.


"Kenapa Mas Faraz semakin posesif kepada Zia setelah mendengar Zia kembali mengandung?"


"Kamu masih tanya kenapa, Lihatlah dia masih begitu kecil," ucap Faraz sembari menunjuk baby Ziyan yang ada di gendongan Alia.


"Tapi Bryan si mantan duda karatan itu telah memberinya seorang adik." lanjutnya lagi.


"Lalu apa masalahnya, Apa Mas lupa jika Mas juga memberikan Zayn dan Zayd seorang adik ketika usia mereka masih beberapa bulan?"


Faraz terdiam mengingat dimana saat itu mereka baru mengetahui jika Alia hamil ketika usia kandungannya sudah mencapai depan bulan.


Faraz tertawa lebar dan mendekap Alia ke sisinya.


"Ckleekkk..." Zia keluar dengan lemah. Melihat hal itu Bryan mencoba menyentuh kedua bahu Zia. Namun belum sempat ia memegang Zia langsung menghentikannya.


"Stop!"


"Ada apa Sayang?"


"Jangan dulu menyentuh ku, Aku sudah lemas sekali, Nanti Aku mual lagi."


Mendengar itu Bryan mengernyitkan keningnya kemudian mencium aroma ketiaknya sendiri.


Faraz yang melihatnya terkekeh dan mendekatinya.

__ADS_1


"Sudahlah Bryan, Temani dulu putrimu, Biar Zia Aku yang urus."


"Baiklah..." Bryan setuju pasrah.


"Sayang Aku pergi dulu yah, Jaga dirimu," ucap Bryan sembari merapikan anak rambut yang sedikit menutupi wajah Zia.


Bryan yang sebenarnya ingin mengecup kening istrinya mengurungkan niatnya karena tidak ingin membuatnya kembali merasa mual.


"Menyebalkan sekali jika selama Zia hamil akan seperti ini." gumam Bryan yang kemudian berlalu meninggalkan kamar.


"Entah apa yang dia ucapkan," ucap Faraz yang melihat Bryan berkomat-kamit tanpa mendengar apa yang ia ucapkan.


***


Di rumah sakit Bimo tengah mondar-mandir di depan pintu bersalin menunggu Bella yang tengah berjuang keras untuk melahirkan bayinya.


Tak lama kemudian, Bryan sampai dan langsung berlari menuju ruang bersalin setelah bertanya kepada perawat.


"Bimo... Kamu ngapain masih di sini, Tidak menemani Bella di dalam?"


"Bella mengusir ku Pah, Dia tidak ingin aku yang menemaninya."


"Memangnya apa yang kamu lakukan, Hah?" Sambil menunggu jawaban dari Bimo, Brian melangkah mendekati pintu.


"Tidak ada, Aku hanya memberinya semangat agar kuat untuk mengeluarkan bayi kita."


"Caramu memberinya semangat pasti seperti cheerleaders," ucap Bryan yang kemudian masuk ke dalam.


📌 Kemarin yang komen banyak banget kirain mah udah pada unfavorit 😁


Kalau sekarang rame lagi. Insya Allah akan sering Update lagi 🤗

__ADS_1


__ADS_2