
Bryan menghentikan mobilnya di depan gerbang.
Sebelum Zia turun, Om Bryan kembali menggoda kekasih kecilnya dengan ucapanya yang menggelitik hati.
"Mau di kasih bekal biar mimpi indah gak?"
"Apa, Jangan ngomong yang aneh-aneh deh," protes Zia.
"Hahahaha... Gak lah, Sini mendekat." tak menunggu Zia yang mendekat Om Bryan langsung meraih bibir Zia dengan sekali his'ap.
"Eummhhh!" Zia memukul pundak Om Bryan yang menhi'sap bibirnya begitu kuat hingga bibirnya ketarik.
Bryan hanya tertawa melihat Zia memegangi bibirnya sambil melihat spion dalam mobil.
"Masih utuh," ucap Bryan sembari mengacak-acak rambut kekasih kecilnya dengan gemas.
"Ini bukan utuh tapi bertambah tebal, Ntar kalau Papa tanya gimana?"
"Bilang saja habis di kasih vitamin, Hahaha."
"Iiihhh Om nyebelin banget sih," Zia memukul lengan Om Bryan dan mengerucutkan bibirnya.
"Jangan cemberut begitu ntar Om jadi pengen gigit lagi."
"Ooom, Iih ngeselin." Zia turun dari mobil dengan jengkel.
Tidak mau membiarkan Zia masuk sendiri, Om Bryan turun dari mobil mengikuti Zia sekalian menemui calon mertuanya.
"Zia kamu sudah pulang?" tanya Faraz yang melihat kedatangan Zia yang di ikuti oleh Bryan di belakangnya.
"Sudah Pa, Zia langsung ke atas ya, Ngantuk." Zia langsung berlari ke atas untuk menghindari Papahnya memperhatikan apa yang Ia khawatirkan.
Bryan hanya bisa menatap Zia yang berlari tanpa menoleh lagi ke belakang.
Kemudian Bryan mengalihkan pandangannya dan melihat Faraz yang telah menatapnya dengan tatapan tajamnya.
"A-e... Aku hanya ingin mengantar Zia, Kalau begitu Aku pulang dulu."
Faraz hanya diam dam membiarkan Bryan memutar tubuhnya meninggalkan ruang tamu. Namun baru sampai pintu, Faraz kembali menghentikannya.
"Seminggu sebelum ujian sampai ujian selesai jangan temui Zia, Aku tidak ingin putriku belajar dengan giat tanpa terganggu dengan urusan percintaan."
__ADS_1
Bryan kembali menoleh ke belakang dan kembali berhadapan dengan calon mertuanya yang tak lain adalah temannya.
"Mohon maaf Faraz, Bukan Aku tidak mau mematuhi perintah mu, Tapi bukankah itu malah akan menganggu konsentrasinya?"
"Apa yang coba ingin kamu katakan?"
"Faraz, Kamu tau betul betapa beratnya menahan rindu, Jika saat Zia harus belajar sambil menahan rasa rindunya, Bukankah Ia akan semakin sulit berfikir?"
"Kamu jang mencari alasan untuk terus bertemu dengan putriku."
"Ini kenyataannya Faraz, Biarkan kami bertemu dan Aku pastikan itu tidak akan menganggu ujiannya."
"Baiklah, Tapi jika Zia tidak mendapat peringkat pertama, Maka pernikahan kalian tidak akan terjadi."
Bryan tercengang mendengarnya.
"Bagaimana Bryan, Kamu lebih memilih dua Minggu tidak bertemu, Atau memilih tidak jadi menikah dengan putriku?"
"Zia akan mendapat peringkat pertama, Aku yakin itu."
Faraz terseyum smirk dan menyuruh Bryan pergi.
Pada malam hari berikutnya Bella menelfon Papahnya yang belum pulang juga. Padahal Bella sudah berpesan sebelum Papahnya ke kantor untuk pulang cepat karena ingin mengenalkan kekasihnya.
Sudah beberapa kali Bella mencoba. Namun Papahnya masih belum mengangkat ponselnya.
"Papah pasti sedang bersama kekasih kecilnya." gumam Bella kesal.
Tidak seperti dugaan Bella, Bryan baru keluar dari ruang meeting dan bergegas ke ruangannya untuk bersiap pulang.
Sambil melangkah keluar Bryan membuka ponselnya dan melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Bella.
"Oh ya ampun, Aku terlambat, Pasti Bella akan marah padaku." batin Bryan yang langsung berlari agar mempersingkat waktunya.
Setelah sampai mobil dengan kecepatan tinggi Bryan menuju ke rumahnya, Bryan tidak ingin membuat Bella merasa tidak adil karena sebelumnya Bella dengan tepat waktu menemui Zia, Tapi kini saat giliran Bella ingin mengenalkan kekasihnya, Bryan malah sibuk dengan pekerjaannya.
Bryan mencoba menghubungi Bella untuk memberinya kabar jika Ia tengah di jalan. Namun berkali-kali Bryan mencoba menghubungi Bella tidak juga mengangkatnya, Hal itu membuat Bryan khawatir dan menambah lagi kecepatannya.
"Sayang kamu dimana," gumamnya.
Setelah kurang dari tiga puluh menit, Bryan sampai di rumah.
__ADS_1
Bryan segera turun dari mobil dan melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya. Bryan bergegas masuk dan mencari putrinya. Namun tak nampak sang putri di ruang tamu maupun ruang tengah.
Perasaan Bryan mulai tidak enak dan berfikir putrinya tengah bersama kekasihnya di kamar. Dengan tangan sedikit gemetar Bryan memegang gagang pintu dan membukanya perlahan.
"Bella!"
"Papah!" Bella langsung mendorong tubuh pria yang tengah berada di atas tubuhnya dengan gugup.
"Bella ap..." Bryan menghentikan ucapannya melihat wajah pria yang baru saja mencumbu putrinya.
"David kau!" Bryan begitu terkejut jika kekasih yang Bella maksud adalah David. Orang yang pernah mencoba menodai Zia kekasih kecilnya.
"Papah kenal David?"
Tanpa menjawab pertanyaan Bella, Bryan menarik kerah kemeja David dan menyeretnya turun dari ranjang putrinya.
"Berrraninya kau kemari! Berrraninya kau menyentuh putriku! BHUUKKK!" satu pukulan keras mendarat di perut David.
"Pah.." Bella langsung berlari memeluk David yang hampir tersungkur sembari memegangi perutnya.
"Kenapa Papah memukul David cuma karena Dia mencium ku, Bukankah Papah juga melakukan hal yang sama pada Zia?"
Bryan tercengang mendengar apa yang putrinya ucapkan.
David terseyum smirk melihat Papah dan anak itu bertengkar. Karena memang itu sebagian dari rencananya.
"Sayang bukan hanya itu masalahnya, Tapi Sebelumnya Dia..."
"Dia apa Pah? Dia mencoba memperk'osa kekasih kecilnya Papah?"
"Bella kamu sudah tau?"
"Ya, David telah menceritakan semuanya, Dan itu bukan kesakahan David, Itu kesalahan Zia yang sengaja mengenakan pakaian minim dengan dada rendah dan Dia yang meminta David untuk menyentuhnya agar Papah merasa cemburu dan menerima cintanya. David sudah menceritakan semuanya Pah."
Bryan kembali tercengang mendengar apa yang putrinya ucapkan.
Ia tak percaya putrinya telah di pengaruhi oleh David yang telah memutarbalikkan fakta.
Bersambung...
📌 Beberapa hari ini siang malam Author ngantuk terus, Mohon maaf kalau Slow Up 🙏
__ADS_1