
Seperti menunggu pergantian tahun, Mereka menunggu pergantian tanggal dan menghitung mundur jam yang tingal beberapa detik lagi akan berganti hari.
"Tiga... Dua... Satu..."
"Selamat Ulang Tahun..." Suara riuh rendah para tamu yang menghadiri pesta tanpa undangan itu turut memeriahkan pesta ulang tahun ketiga anak Faraz.
Zayn, Zayd dan Zia bersama-sama meniup lilin dan memotong kue ulang tahun yang berukuran 1x2 meter.
Kemudian Mereka menyuapi kedua orang tuanya dan saling menyuapi satu sama lain.
"Selamat ulang tahun Sayang," Faraz dan Alia memeluk satu persatu Anak-anaknya. Kemudian Zayn dan Zayd serta Zia juga saling berpelukan dan mengucapkan selamat satu sama lain.
Faraz terseyum melihat Anak-anaknya yang kini genap berusia 19th untuk Si kembar dan 18th untuk putri bungsunya.
Kemudian Faraz memeluk ketiganya dan meraih Alia untuk turut serta memeluk Anak-anaknya.
•••
Setelah pesta berakhir, Mereka kembali ke kamar masing-masing pada pukul 02.00 dini hari.
Zia membuka ponselnya berharap ada ucapan selamat ulang tahun dari Om Bryan. Namun Zia harus gigit jari karena Om Bryan tidak mengirim pesan sama sekali.
Zia mengerucutkan bibirnya dan merasa kesal karena di hari ulang tahunnya, Om Bryan malah tidak muncul maupun mengirim pesan sama sekali.
Triiing...
Seketika Zia berbunga melihat Nama Om Bryan muncul di layar ponselnya.
"Buka Pintu." Zia yang membaca pesan Om Bryan langsung terseyum lebar dan berlari membuka pintu.
"Om..." Zia langsung melompat memeluk Om Bryan dengan manja.
Om Bryan terseyum sambil mengangkat tubuh mungil Zia dengan satu tangannya, Sementara tangan satunya mengunci pintu.
__ADS_1
Kemudian Om Bryan menatap kekasih kecilnya dan meraih tangan Zia untuk memasukan cincin ke jari manisnya.
"Om ini?" Zia membuka mulutnya lebar-lebar melihat apa yang Om Bryan berikan padanya.
"Happy Birthday Zia Sayang," ucap Om Bryan yang langsung menutup mulut Zia dengan kecupannya.
Zia menutup mulutnya dan kembali menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Zia suka?" tanya Om Bryan.
"Sangat," Zia kembali memeluk Om Bryan.
"Zia fikir Om kemana, Sejak pagi Om tidak menemui Zia, Om juga tidak mengirim pesan sama sekali."
"Apa Zia takut Om pergi? Atau Zia merindukan Om?"
"Keduanya."
Om Bryan tersenyum dan duduk di tepi ranjang.
Om Bryan mendekap tubuh Zia dan meraih wajahnya untuk menyatukan bibirnya.
Seperti menenggak air cinta, Om Bryan mengesap lidah Zia kuat-kuat hingga menimbulkan suara khas orang yang bertukar air liur.
"Zia Sayang..."
"Om..." Desa'han penuh gai'rah cinta membara menguasai diri Mereka.
Status Duda yang terlalu lama di sandang dan Gadis remaja yang penasaran merasakan kenikmatan yang lebih, Lebih dan lebih lagi membuat keduanya terus menerus ingin meluapkan rasa cinta dengan tautan bibirnya. Namun meskipun begitu, Om Bryan masih bisa mengendalikan diri dan tidak mau mengambil kesempatan atas tubuh Zia yang sebenarnya dengan mudah Ia dapatkan.
Bryan kembali mengangkat tubuh Zia dan membaringkannya di ranjang. Kemudian Om Bryan merangkak naik dan mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
"Nggak terasa ya pertemuan Kita sudah satu tahun," ucap Om Bryan sembari memainkan rambut Zia.
__ADS_1
"Ya, Tepat satu tahun lalu Zia jatuh cinta pada Om, Jatuh cinta pada pandangan pertama, Tapi bagaimana dengan Om, Sepertinya Om sama sekali tidak tertarik pada Zia?"
"Entahlah, Saat itu Om hanya melihat mu seperti anak kecil pada umumnya dan Om tidak pernah menyangka jika sekarang Om begitu mencintaimu." Om Bryan kembali mencium tengkuk leher Zia dan membenamkan wajahnya di sana.
"Akhhhhh, Om..." Zia menengadahkan kepalanya ke atas dan membuat Om Bryan semakin leuasa menyusuri leher jenjangnya.
Esapan kenikmatan Om Bryan berikan hingga meninggalkan beberapa Kiss marks di sana.
Kemudian mereka mengakhiri gai'rahnya dengan tatapan penuh cinta.
"Sebentar lagi Om berangkat ke Jakarta," ucap Bryan dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Apa! Kok mendadak sih Om?"
"Sudah banyak kerjaan yang menunggu, Om juga akan meyakinkan Bella untuk menerima hubungan Kita, Setelah itu Om akan bicara pada Papa mu, Jadi Om duluan ya," ucap Bryan sembari turun dari atas tubuh Zia.
"Tapi gimana kalau Zia merindukan Om?"
"Hanya sebentar Sayang." Om Bryan mengecup kening Zia yang kini sudah duduk di tepi ranjang.
Zia menganggukan kepalannya dan kembali memeluk Om Bryan.
"Baiklah, Om pergi sekarang, Takut ketiduran lagi kalau kelamaan sama Zia," ucap Bryan tertawa.
"Hati-hati Om," Zia kembali meraih tangan yom Bryan.
"Iya, Sampai ketemu di Jakarta ya." Bryan mengusap lembut pipi Zia.
Zia mengangguk dan mengantar Om Bryan sampai pintu.
Om Bryan terseyum melambaikan tangannya dan meninggalkan kamar Zia.
Bersambung...
__ADS_1
Buat yang sudah baca di Perjalanan Cinta Sang Duda pasti tau perbedaannya, Dan di sini Author bikin lebih Hot, Nyesel kalau gak baca lagi 🤣