
Ciu'man itu masih berlanjut hingga tubuh Zia terdorong ke dinding kaca. Gelora Pria dewasa yang sudah menduda sekian lama dan gadis remaja yang begitu penasaran bagaimana nikmatnya bercinta menjadikan keduanya terus ingin bercum'bu di setiap kesempatan.
Seperti memakan sesuatu Om Bryan mengunyah bibir Zia dengan lidah dan bibirnya.
Zia semakin tak karuan. Seluruh tubuhnya terasa bergetar saat tangan Om Bryan terus bergeliaran sesuai nalurinya.
"Om ahh..." desa'han manja yang keluar dari bibir Zia membuat Om Bryan semakin gemas dan memutar tubuh Zia menghadap ke dinding kaca kemudian menggigit daun telinganya.
Zia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan Om Bryan yang selalu membuat tubuhnya berdesir hebat.
Om Bryan menyingkap rambut Zia yang menutupi leher jenjangnya kemudian menyapunya dengan bibir dan lidahnya secara bergantian.
Dengan kedua tangan yang kini sudah berada di kedua bukit kenyal Zia, Om Bryan sedikit menurunkan pakaian Zia untuk menciumi pundak mulusnya.
"Om.." Zia merasa lututnya lemah hingga tubuhnya merosot ke bawah. Namun Om Bryan langsung mendekap erat tubuhnya dan membopongnya.
Zia mengalungkan kedua tangannya ke leher Om Bryan sambil terus menatap wajah tampan kekasih dudanya.
Dengan senyum manisnya Om Bryan membawa Zia ke kamarnya dan menurunkan tubuhnya di ranjang besarnya.
"Om..." Zia melihat semua sisi ranjang dan menatap Om Bryan.
"Kamu harus banyak belajar. Masa baru di gituin doang sudah lemas, Gimana kalau di masukin?" ucap Bryan tertawa.
Dengan susah payah Zia menelan salivanya mendengar kata di masukin. Fikirannya langsung traveling jauh membayangkan bagaimana miliknya menyatu dengan milik Om Bryan yang katanya besar itu.
Zia semakin tegang saat Om Bryan membuka pakaiannya dan hanya menggunakan celana pendek hingga memperlihatkan seluruh otot-otot yang terbentuk sempurna.
"Om tinggal mandi dulu ya."
"Hah!"
"Apa? Apa Zia fikir Om mau menggagahi Zia malam ini?" tanya Bryan dengan senyum menggoda.
__ADS_1
Zia menggeleng tegang dengan tubuh yang setengah berbaring bertumpu kepada kedua sikunya.
"Zia mau mandi juga?"
"Nggak, Tadi mau kesini udah mandi."
"Ya udah, Om tinggal dulu ya, Zia beristirahatlah."
Zia mengangguk dan melihat Om Bryan masuk hingga kamar mandi tertutup rapat.
Zia memejamkan mata sambil menghelai nafas lega. Namun baru saja hatinya merasa lega, Suara Om Bryan dari dalam kamar mandi memanggilnya.
"Zia Sayang..."
"Ya..." pekik Zia.
"Ambilin Om handuk dong, Om lupa."
Mendengar hal itu membuat Zia tegang dan tetap duduk mematung di tepi ranjang.
"Hah! Iya Om,"
"Iya, Om keluar gak pake handuk?"
"E... B-b.. Bukan, Maksudnya biar Zia ambilin, Di mana handuknya?"
Bryan yang berdiri di depan pintu dengan hanya memperlihatkan kepalanya terkekeh melihat kegugupan Zia.
"Di lemari Sayang."
Zia melangkah membuka lemari yang tingginya hampir mencapai plafon. Netra nya mencari-cari di mana letak handuknya.
"Ada di bagian atas Sayang." pekik Bryan yang merasa terlalu lama menunggu.
__ADS_1
Zia menengadahkan kepalanya ke atas melihat tumpukan handuk yang tersusun rapi di bagian atas lemari.
Tinggi badannya yang tidak menjangkau membuat Zia menjinjitkan kakinya. Namun hal itu masih juga belum menjangkaunya.
Zia yang merasa bingung berfikir untuk mengambil kursi. Namun baru saja ia memutar tubuhnya. Om Bryan sudah berdiri di depannya hingga tubuh mereka bertabrakan.
"Hah!" Zia membulatkan matanya melihat tubuh kekar Om Bryan tepat di depan matanya. Kemudian Zia kembali memutar tubuhnya membelakangi Om Bryan.
Bryan terseyum dan mengambil handuk di dalam lemari hingga tubuh polosnya merapat ke punggung Zia.
Zia menggengam erat kerah pakaiannya sambil memejam mata merasakan kesegaran tubuh Om Bryan yang begitu semerbak menusuk hidungnya.
Tanpa mengatakan apapun Bryan memutar tubuh Zia dan mengapitnya dengan satu tangannya.
"Om..." Zia yang masih gugup melihat kebawah dan merasa sedikit lega karena Om Bryan sudah melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kenapa?" goda Om Bryan.
"T-t.. Tidak, Om pakailah baju, Aku akan keluar dulu." Zia melangkah melewati Om Bryan. Namun kembali di tarik olehnya.
"Om terbiasa tidur dengan tidak pakai baju." Om Bryan langsung membopong tubuh mungil Zia dan kembali membaringkannya di ranjang.
Kemudian Bryan kembali ke lemari dan mengambil celana pendek untuk mengganti handuk yang melilit di pinggangnya.
Masih belum hilang kebingungan Zia, Om Bryan menggeser tubuh Zia dan berbaring di sampingnya. Kemudian Om Bryan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Zia dan mengapitnya dari belakang.
"Malam ini Om pingin tidur meluk Zia," ucapnya sambil mengecup pundak Zia.
"Tapi gimana kalau Papa nyariin."
"Sebelum matahari terbit, Om akan antar Zia pulang, Ayolah... Hanya tidur, Om tidak akan macam-macam."
Zia mengangguk setuju dan memegang tangan Om Bryan yang berada di perutnya.
__ADS_1
Bersambung...