Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Kejutan Dari Zia


__ADS_3

"Apa lagi peraturan mu hari ini pada Bryan?" tanya Alia yang sudah becekak pinggang di belakang Faraz.


"Tidak, Aku hanya menyuruhnya untuk mendaftarkan kuliah Zia."


"Jika Zia ingin menunda kuliah dan menikmati masa-masa pengantin baru mereka biarkan saja, Kenapa Mas yang sibuk mengatur mereka harus ini harus itu? inget loh Mas, Zia bukan tanggung jawab kamu lagi, Yang lebih tanggung jawab terhadap Zia itu Bryan bukan Mas!"


"Tapi orang tua tidak ada salahnya mengarahkan."


"Mengarahkan boleh saja, Tapi jangan terlalu jauh mencampuri rumah tangga mereka, Mas tau sendiri kan sejak awal Zia yang mengejar-ngejar Bryan, Jadi jangan sampai Bryan merasa tertekan dan bosan menjalani rumah tangganya dengan Zia."


"Jika Bryan bosan, Berarti dia tidak benar-benar mencintai Zia."


"Ayolah Mas, Aku tau Mas tidak pernah menikmati masa-masa indah pengantin baru baik dengan Kavita maupun dengan ku, Tapi Bryan dan Zia kini saling mencintai, Jadi jangan perlakukan mereka sama seperti awal pernikahan mu, Biarkan mereka bahagia sesuai keinginan mereka."


"Alia... Aku hanya merasa kehilangan Zia, Setelah Zayn ke pesantren Zayd sibuk dengan pekerjaannya sekarang Aku harus berpisah dengan putri kecil ku."


"Begitulah kehidupan Mas, Seperti Mas meninggalkan kedua orang tua Mas untuk ku, Anak-anak juga akan meninggalkan kita untuk menjalani fase kehidupan selanjutnya."


Faraz terdiam mendengar semua nasehat sang istri. Ia tidak dapat menyangkal bahwa yang dikatakan Alia memang ada benarnya. Tapi sudah berapa kali ia mencoba mengikhlaskan kepergian putri kecilnya Namun ia belum bisa benar-benar merelakan sepenuhnya.


•••


Bryan terkejut melihat Zia yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Seketika ia teringat saat pertama kali gadis kecil itu datang ke kantornya di tengah hujan deras.


Zia melempar senyum dan berlari kecil memeluk suami yang baru beberapa meninggalkannya.


"Hey! Kok jam segini dateng, Aku kan sebentar lagi pulang?"


"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," ucap Zia bergelayut manja dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Bryan.


"Ahh jangan seperti ini, Kamu membuatku tidak tahan. Sedangkan kamu sedang tidak bisa melayani ku." Bryan mengalihkan wajahnya sambil cemberut.


Zia terkekeh geli mendengarnya.


"Aku akan mencobanya."


"Kamu yakin?"


Zia menaikkan kedua alisnya dengan senyum menggodanya.


"Menarik, Ayo kita coba sekarang." Bryan langsung menggendong Zia ke kamar yang tersedia di dalam ruang pribadinya. Kemudian ia menurunkan Zia di lantai sementara Bryan langsung membuka seluruh pakaiannya dan duduk di sofa kecil yang tersedia di kamar tersebut.


Dengan kedua tangan membentangkan kedua tangannya ke sandaran sofa, Bryan memberikan isyarat pada Zia untuk segera melakukannya.


Zia menengguk ludahnya dengan susah payah melihat senjata suaminya yang sudah menegang sempurna.

__ADS_1


"Ayo Sayang, Kamu yang memancingku, Jadi kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya."


Perlahan Zia mendekat dan berjongkok di depan senjata suaminya.


Kemudian ia memegang senjata itu dan dengan perasaan tegang Zia menempelkan ke bibirnya.


Bryan tersenyum mengusap kepala sang istri yang masih terlihat ragu melakukannya. Namun Bryan tidak ingin memaksa dan membiarkan Zia melakukan apa yang ia inginkan. dan kesabarannya itu tidak lah sia-sia karena perlahan-lahan Zia mulai memasukkan ujung senjatanya ke mulutnya.


"Oughhh..." Bryan menengadah ke atas saat merasa ujung senjatanya menyentuh lidah lembut Zia.


Mendengar hal itu Zia semakin penasaran dan kembali memperdalam kul'umannya dan memberikan esapan yang cukup kuat hingga membuat Bryan semakin mengerang nikmat.


"Yah seperti itu sayang, Oughhh..." Bryan mengangkat sedikit pinggulnya dan terus menengadahkan kepalanya ke atas dengan mulut terbuka mengeluarkan desa' han jahanamnya.


"Ziaaaa..." Bryan yang sudah merasa tidak tahan lagi menggenggam rambut Zia dan membuatnya memaju mundurkan esapannya.


"Ough.... Oughhh... Arghhhhh..." Bryan terus menegang keras hingga ia menyemburkan cairan hangatnya.


Zia langsung melepaskan esapannya dan menutupi mulutnya yang pertama kali merasakan ****** ***** dari suaminya. Dengan senyum kepuasan Bryan meraih dagu sang istri dan menyesap bibir mungil yang baru saja membuatnya melayang.


"Ini sudah lebih baik sayang, Kini giliran ku memberi ku kenikmatan tanpa penyatuan."


Bersambung...

__ADS_1


📌 Lanjut sendiri-sendiri sama suami masing-masing wkwkwk 😜🔥


__ADS_2