Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Cemburu Again


__ADS_3

"Babe sudah tidak marah lagi?" tanya Zia sambil merapikan pakaiannya.


"Masih," ucap Bryan yang juga memakai kembali celananya dengan benar.


"Kok masih? Lalu apa yang tadi kita lakukan?"


"Itu hanya pemanasan, Kamu harus membayar kesalahan mu lebih dari tadi, Sekarang Aku harus mengurus yang lebih penting dulu."


Zia mengerucutkan bibirnya kemudian menyusul Bryan meninggalkan ruang CCTV.


Melihat Bryan datang kedua petugas keamanan langsung menyeret Rina ke hadapannya. Bukannya merasa takut Rina masih sempat mencuri pandang pada Bryan yang tidak menutup tiga kancing kemeja bagian atas memperlihatkan dada bidang yang mengalir keringat.


Sangat seksi dan menggai'rahkan hingga membuat Rina menggigit bibir bawahnya.


Zia yang berdiri di samping Bryan membelalakkan mata dan melihat apa yang tengah babysitter itu lihat. Dengan kesal Zia langsung menutup kancing kemeja sang suami dan berdiri di depannya.


"Kamu masih berani menatap suami ku seperti itu?!"


Rina yang sudah kepalang basah hanya tersenyum smirk tak menunjukkan raaa penyesalannya.


"Rina! Apa yang ada dalam pikiran mu, Kenapa kamu senekat itu hingga mengabaikan harga diri mu?!"


"Cinta," jawaban singkat jelas dan tegas membuat Zia semakin kesal.


"Berrrani sekali kau mencintai suamiku!"


"Zia..." Bryan memegang lengan Zia untuk mengendalikan emosi sang istri yang ingin menjambak rambut Rina. Namun Zia masih saja tidak puas dan terus meluapkan amarahnya.

__ADS_1


"Perasaan yang kau miliki itu hanyalah naf'su! Bukan cinta!" lanjut Zia.


"Sayang... Tidak perlu bicara lagi dengan nya apa lagi mengotori tangan mu dengan menyentuhnya, Sekarang biarkan petugas keamanan membawanya keluar!" Bryan berjalan di depan mereka dan menyuruh kedua penjaga keamanan membawa Rina ke teras.


Sementara Alia yang samar-samar mendengar kegaduhan itu langsung mendorong tubuh Faraz yang tengah menelusuri lehernya.


"Mas dengar itu?"


Faraz memasang telinganya baik-baik untuk mempertajam pendengarannya.


"Ya... Ayo kita lihat ke luar." Faraz langsung bergegas keluar melihat apa yang terjadi.


Sesampainya di teras, Faraz melihat sudah banyak warga berkumpul menyaksikan Rina yang kini tertunduk mendapatkan sorakan dari para warga yang mengetahui apa yang sudah Rina lakukan.


"Sekarang terserah kalian hukuman apa yang pantas untuk nya," ucap Bryan


"Laporkan saja ke polisi." triak salah satu warga.


"Terserah apa yang akan kalian lakukan. Sekarang bawalah dia pergi dari sini!" tegas Bryan.


"Tunggu!" Faraz menghentikan para warga yang akan membawa Rina. Kemudian ia mendekati Bryan dan menanyakan keputusannya.


"Kenapa kamu tidak menghukumnya sendiri, Apa kamu merasa tidak tega dengan nya?"


Mendengar pertanyaan dari Papanya, Zia jadi ikut mempertanyakan tindakan Bryan.


"Apa benar yang Papa bilang? Apa benar Babe melakukan ini karena tidak tega, Apa Babe memiliki perasaan lebih pada Rina?"

__ADS_1


Melihat pertengkaran itu Rina masih bisa tersenyum meskipun nasibnya kini berada di tangan warga.


"Apa yang kamu katakan Zia?"


"Papa mertua, Kenapa Papa menyiram minyak kedalam api?"


"Aku tidak melihat ada api disini, Dan Aku juga tidak membawa minyak."


"Faraaazzz...!!!" ucap Bryan kesal.


"Apa, Aku hanya sekedar bertanya, Apa tidak boleh? Ini kan menyangkut putriku."


"Tapi pertanyaan mu membuat Zia kembali meragukan ku."


"Ya itu bukan kesalahan ku."


"Mas Faraz..."


Melihat sang istri melotot ke arahnya Faraz menghentikan perdebatannya.


"Zia jangan terpengaruh apa yang Papa mu ucapkan, Sudah terbukti Bryan tidak bersalah jadi jangan pernah meragukannya lagi dan membuat suami mu kecewa."


Mendengar nasehat Mama Alia, Dan mengingat kekecewaan Bryan karena ia tidak percaya padanya. Zia mendekati Bryan dan meraih tangan nya.


"Maafkan kan Aku Babe..." ucap Zia memelas.


"Akan ku pikirkan." saut Bryan tanpa menatap wajah Zia.

__ADS_1



Tebar Racun Again 🥰❤️


__ADS_2