
Bryan yang melihat Faraz pergi meninggalkan restoran memberi isyarat pada Zia untuk menemuinya.
Zia menganggukan kepalanya dan beranjak dari duduknya.
"Mau kemana Sayang?" tanya Alia.
"E... Mau keliling Ma, Bosen nunggu Papa gak balik-balik."
"Ikut Kakak!" Zayd menarik tangan Zia ikut bersamanya, Om Bryan yang melihat bergegas mengikutinya.
"Zayd... Zia... Kok ninggalin Mama sendiri sih." pekik Alia yang sudah tidak di hiraukan oleh Zayd.
Zayd melepaskan tangan Zia dan mulai mengintrogasinya.
"Jadi Kau mengajak Om Bryan kemari?"
"Kak Zayd bilang apa, Kenapa Aku mengajaknya, Aku kan..."
"Berhenti berpura-pura Zia, Kakak lihat sendiri jika Om Bryan ada di hotel ini."
"Lalu apa karena Om Bryan ada di hotel ini, Itu berarti bahwa Aku yang mengajaknya? Dulu di Bali juga Kita satu hotel dengan kamar yang bersebelahan, Tapi bukan Aku yang mengajaknya."
"Itu beda! Dulu kalian tidak saling mengenal tapi sekarang kalian pacaran."
"Lalu kenapa Kak, Kak Zayd juga pacaran dan Papa tidak marah, Nanti gak lama lagi Om Bryan juga akan bicara sama Papa."
Zia yang melihat tidak ada lagi pertanyaan dari Zayd segera pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Beberapa meter Zia berjalan, Bryan menarik tangan Zia menjauh dari keramaian.
"Om..."
Bryan membuat Zia merapat ke dinding dan mengungkung dengan kedua tangannya, Sementara Netranya mengawasi kanan kiri agar tidak sampai Mereka tertangkap basah.
"Om ngapain sih, Ini tempat terbuka, Banyak yang berlalu lalang di sini, Bagaimana kalau Papa Faraz, Mama Alia atau Kakak kembarku mergokin Kita?"
Bryan hanya tersenyum, Ntah kenapa Ia seperti ketagihan menguji adrenalinnya dengan terus menemui Zia di tempat-tempat yang menantang baginya.
"Om..." Zia memukul dada Om Bryan yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Hsssttt diamlah Zia, Papamu sedang menuju kemari."
"Hah! Benarkah, Lalu bagaimana ini, Gimana kalau Papa menangkap basah Kita, Bagaimana kalau Zia di masukin ke pesantren, Zia nggak mau Om, Nanti Zia nggak bisa ketemu Om lagi."
"Iiihhh... Bawel banget sih." dengan gemas Om Bryan mencubit kedua pipi Zia.
Om Bryan tertawa melihat kepanikan Zia.
"Jadi Om bohongi Zia?"
"Bukan bohong, Tapi bercanda," ucap Om Bryan yang kembali tertawa. Namun tawanya terhenti saat Ia benar-benar melihat Faraz berjalan tak jauh dari Mereka.
"Om pergi dulu ya, Papmu benar-benar datang." dengan cepat Om Bryan berlari meninggalkan Zia namun Ia kembali dan mencium pipi Zia lalu kembali berlari meninggalkan kekasih kecilnya yang membuat dirinya ingin selalu bersamanya.
Zia keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Papanya yang terlihat kesal. Zia yang begitu dekat dengan sang Papa dan selau bisa mencairkan hatinya langsung memeluk Papanya.
__ADS_1
Mendapat pelukan hangat dari putri kesayangannya, Faraz memaksakan senyumnya dan membelai rambut Zia.
"Apa Papa merasa lebih baik?" tanya Zia mendongak ke atas menatap wajah Papanya.
"Ya, Papa akan selalu baik jika Zia memeluk Papa seperti ini."
"Zia sangat menyayangi Papa, Maafin Zia jika belum bisa menjadi anak yang berbakti pada Papa."
"Kenapa Zia jadi bicara seperti itu?"
"Zia sedih aja liat Papa sedih."
"Papa gak papa Sayang lupakan itu semua, Bukankah kita kesini untuk bersenang-senang?"
Zia melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya.
"Panggil Mama dan kedua kakak mu kemari, Hari ini Kita belanja."
Zia mengangguk dan pergi sesuai perintah.
•••
Faraz mengajak keluarganya untuk berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut untuk membeli keperluan ulang tahun Anak-anaknya yang akan tiba tepat di pergantian malam ini. Faraz sengaja meminta izin satu minggu pada pesantren agar Zayn juga bisa merayakan ulang tahun bersama saudara kembar dan keluarganya.
Setelah lebih dari setengah hari bekeliling ke pusat perbelanjaan yang hanya tiga lantai tersebut, Mereka mampir ke rumah makan lesehan untuk makan siang.
Tak terasa sampai hotel sudah hampir pukul 15.00 wib.
__ADS_1
Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat menyimpan tenaga dan rasa ngantuk untuk acara nanti malam.
Bersambung...