
Setelah membiarkan Zia tidur cukup lama, Bryan yang masih tidak bisa tidur karena senjatanya masih tegak berdiri mulai menciumi punggung sang istri. Tangannya meremad dada kenyalnya dengan kuat sehingga empunya tubuh mendesis dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang..." suara parau Bryan di telinga Zia dengan meniupkan nafas hangatnya yang membuat sang istri meremang. Kakinya mulai tidak bisa diam merasakan miliknya yang kembali berdenyut. Namun mata yang masih begitu ngantuk membuat Zia kembali diam tak bergerak.
Namun Bryan tidak mempedulikan itu dan kembali mengarahkan senjatanya dengan mengangkat sebelah pa'ha sang istri kemudian menghujamkan senjatanya.
"Arrrgghhhh.... Sssshhhh..." Bryan mengerang nikmat merasakan senjatanya yang begitu terasa terjepit.
"Eehhh..." erang Zia yang mulai membuka matan merasakan miliknya kembali di penuhi senjata Bryan.
"Sayang... Ohhhhh...." Bryan menikmati pijitan hangat dari dalam sana, Kenikmatan luar biasa yang sudah lama tidak ia rasakan membuatnya ingin berlama-lama memanjakan senjatanya di lembah yang begitu sempit.
"Om... Ahhhh...." lenguh Zia saat Bryan mulai menghentakkan senjatanya.
"Akhhh... Akhhh... Akhhh..." Zia yang tadinya begitu ngantuk kembali menikmati setiap hentakan keras yang terasa kian dalam menghujam tubuhnya.
"Zia.... Oughhh... Ini nikmat sekali..."
"Akhhhhh... Om," Zia meremad seprei dengan kuat posisi seperti itu membuat miliknya terasa lebih sakit dari sebelumnya. Namun ia mengabaikan rasa sakit itu karena rasa nikmat jauh lebih ia rasakan.
"Zia Sayang, Arrrgghhhh..." Bryan mengerang hebat saat senjatanya kembali meledakkan laharnya yang tidak kalah banyak dari sebelumnya. Tangannya menggenggam kuat kedua buah kenyal Zia. Sedangkan wajahnya ia benamkan di punggung sang istri yang kini basah oleh peluh mereka yang bercpur menjadi satu. Hawa dingin dari AC seolah tak mampu mendinginkan panasnya permainan mereka.
Dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh mungil sang istri. Ke-duanya terdiam menikmati sisa-sisa kenikmatan mereka.
"I love you Sayang," bisik Bryan yang kembali bangkit dan membalik tubuh sang istri.
Zia sedikit tersentak. Nafasnya saja masih naik turun, Tapi sang suami sudah kembali bertenaga seolah tidak ada lelahnya.
"Sekali lagi Sayang." tawar Bryan.
Belum sempat Zia menolak Bryan sudah kembali menghujamkan senjatanya.
"Akhhhhh..." Zia memekik keras saat Bryan langsung menghentakkan senjatanya sambil memegangi pinggulnya dengan sesekali memberikan gigitan di pundaknya.
Desa'han saling bersautan kembali mengiringi permainan pengantin baru tersebut. Mereka baru menghentikan permainan panasnya ketika melihat jam telah menunjukkan puku empat dini hari.
•••
Faraz keluar dari kamar dan hanya melihat para asisten rumah tangga yang tengah melakukan pekerjaannya. Kemudian ia kembali naik berniat untuk membangunkan Anak dan menantunya.
"Bryan! Tok... Tok..."
"Bryan!" Faraz terus menggedor pintu kamar Bryan dengan kuat.
"Singa buas ini pasti telah memakan habis putriku sehingga jam segini belum juga bangun," gumam Faraz.
"Bry...."
__ADS_1
"Maaf Tuan..."
"Ya," Faraz menoleh ke Bi Lastri yang memanggilnya.
"Tuan Bryan tidak ada di kamarnya,"
"Maksudnya tidak ada di kamar?"
"Sejak semalam Tuan Bryan dan Non Zia meninggalkan rumah, Sampai sekarang mereka belum kembali."
"Sialan, Jadi dia menculik putriku di saat Aku lengah." batin Faraz.
"Ada yang Tuan perlukan?"
"E... Tidak, Terimakasih."
Faraz langsung pergi meninggalkan kamar Bryan dan kembali ke kamarnya dengan kesal. Ia langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Zia.
Tuuutttt.... Tuuutttt....
"Apa yang sedang Singa buas itu lakukan pada putri ku sampai jam segini ia masih tidak mengangkatnya," ucapnya kesal.
Zia yang masih berada dalam pelukan hangat Bryan mulai membuka mata saat sayup-sayup mendengar getaran ponselnya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat wajah tampan suaminya yang masih tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka.
Zia terseyum dan mencoba menaikan tubuhnya. Namun ia merasakan bagian inti nya begitu sangat sakit ia rasakan.
"Ada apa Sayang?" tanya Bryan khawatir melihat Zia yang meringis menahan rasa sakit di bagian inti nya.
"Sakittt Om."
Bryan langsung beranjak duduk dan mencoba membantu sang istri duduk.
"Ahhh..." Zia kembali meringis memegangi perut bagian bawahnya.
"Zia tunggu sini, Aku akan menyiapkan air hangat untuk mu."
"Om..." Zia menghentikan Bryan yang ingin turun dari ranjangnya.
"Ada apa?"
"Om tidak pakai apapun?"
"Kenapa, Bukankah kamu sudah melihatnya, Jadi untuk apa di tutupi." ucapnya tertawa.
Seketika Zia memerah memalingkan wajahnya melihat suaminya yang pergi ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh atletisnya.
Beberapa menit kemudian Bryan kembali keluar.
__ADS_1
"Ayo Sayang," Bryan langsung membopong tubuh polos Zia dengan entengnya.
Zia langsung bersembunyi di ceruk leher Bryan untuk mengurangi rasa malu karena tubuhnya yang polos.
Bryan menurunkan Zia kedalam bathub yang berisi air hangat.
Dan mengusap lembut kepalanya.
"Berendam lah beberapa menit, Kamu akan merasa lebih baik."
Zia mengangguk dan melihat Bryan meninggalkan kamar mandi.
Bryan melilitkan handuk ke pinggangnya untuk membersihkan sprei sebelum ia menyusul Zia mandi. Ia mulai melempar bantal dan guling ke sofa dan menarik sprei putih bekas percintaan panas mereka.
Bryan terseyum melihat noda merah di dalam sprei yang menandakan ia tidak sedang bermimpi jika semalam telah memecahkan selaput dara Istri kecilnya.
Memikirkan hal itu seketika yang di bawah sana menegang keras.
"Ahhh sial." umpat Bryan yang mengingat istri kecilnya sedang menahan sakitnya karena ulahnya yang minta di layani sampai pagi.
Bryan kembali menggulung sprei itu dan meletakkan di dekat pintu. Kemudian ia mengambil sprei dari lemari untuk menggantinya.
Drrrttttttt... Drrrttttttt...
Bryan menghentikan pekerjaannya mendengar ponsel Zia yang terus bergetar. Ia pun mengambil benda pipih itu dari atas nakas.
Melihat nama Papa Faraz memanggil, Membuat ide jailnya muncul.
"Hallo Papa mertua."
"Berhenti memanggil ku Papa mertua, Sekarang katakan kemana kamu membawa putri ku!"
"Papa mertua, Putri mu adalah istri ku, Aku bebas membawanya kemanapun." Bryan menahan tawa mendengar suara Faraz yang terdengar begitu kesal.
"Menantu tidak tau diri, Mertuanya nginep bukannya di hormati malah membawa lari putrinya."
"Maafkan Aku Papa mertua, Ini salah Papa sendiri kenapa selalu menggagalkan malam pertama ku." Bryan pura-pura sedih melalui nada bicaranya.
"Apa! Malam pertama? Jadi Kau sudah..."
"Sudah Papa, Bahkan putrimu sampai tidak bisa berjalan." Bryan kembali menahan tawanya yang hampir tidak bisa ia tahan.
"Bryan Kau!" Faraz mengepalkan tangannya. Rahangnya juga mengeras, Jika saja Bryan ada di depannya mungkin ia akan langsung menonjok wajahnya yang membuat putrinya tergila-gila.
Bryan menutup ponselnya dan tertawa puas karena telah membalas Papa mertua yang selalu menganggu malam pertamanya dengan Zia.
Bersambung...
__ADS_1