
Hari terus berganti hari, Pernikahan Bella pun mulai di siapkan.
Seperti saat menyiapkan pernikahannya dengan Zia yang harus sempurna. Bryan juga ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahan putri kesayangannya. Bryan sendiri yang mendampingi putrinya untuk membeli segala kebutuhan yang Bella perlukan, Tak terkecuali membeli cincin dan memesan gaun pengantin. Meskipun Bimo telah menemaninya. Namun Bryan ikut mendampingi sesuai permintaan Bella.
Bimo yang melihat calon mertuanya tengah berbincang dengan pihak wedding organizer yang akan menangani pernikahan mereka. Mengambil kesempatan untuk mendekati Bella.
"Hust... Hust..."
Bella menoleh ke arah Bimo "Apa?"
"Sejak kenal kamu, Bawaannya Aku pengen belajar terus."
"Baguslah biar makin pinter."
"Iiih gak asik banget, Orang mah kalau di gombalin jawab kek kenapa, Kok bisa. Kamu mah jawabnya gitu."
"Lah terus apa, Belajar kan emang biar pinter."
"Iya tapi kan bukan kesitu maksud ku."
"Ya baiklah, Kok bisa?" Bella menahan senyumnya melihat mimik wajah Bimo.
"Karena nama kita jika di gabungkan menjadi Bimbel."
"Iiih gak lucu banget sih."
"Emang gak lucu tapi gak papa yang penting sudah usaha."
Mereka kembali terdiam beberapa saat. Bimo terlihat tengah memikirkan sesuatu untuk merayu Bella dengan gombalan recehannya sementara Bella mencuri-curi pandang kepada pria yang akan menikahinya tidak lama lagi.
"Kalau di perhatikan Bimo cakep juga, Humoris lagi." batinnya.
Seketika itu juga Bella langsung salah tingkah saat Bimo mengangkat wajahnya dan menatapnya.
"Cieee curi-curi pandang sama calon suami ya?"
"Iiih PD banget sih." elak Bella.
__ADS_1
Bimo hanya terkekeh melihat Bella yang memerah.
"Dek Bella suka ngemil nggak?"
"Nggak!" jawabnya cepat.
"Sama, Tapi sekarang Aku jadi pengin ngemil deh, Ngemilikin kamu sepenuhnya." ucapnya tertawa.
Bryan yang melihat mereka dari kejauhan merasa senang Bimo yang terus berusaha mendekati Bella dengan caranya sendiri hingga berhasil membuat putrinya tersenyum meskipun senyuman itu masih tertahan karena gengsinya.
Setelah selesai berbincang Bryan mendekati Bella dan merangkul pundaknya. "Jika suka ekspresi kan saja, Jangan pertahankan gengsimu." bisik Bryan.
"Iiih apaan sih Papah, Mana ada, Biasa aja deh." elak Bella.
Bryan tertawa dan mengajak mereka pergi untuk mengurus keperluan lainnya.
•••
Hingga hari berganti malam Bryan dan Bella baru sampai di rumah setelah sebelumnya mengantar Bimo pulang terlebih dahulu.
Bella yang merasa kelelahan meminta izin untuk langsung ke kamarnya. Begitu juga dengan Bryan yang langsung menuju kamarnya.
Bryan memandang ranjang besarnya dan melihat Zia yang sudah tertidur pulas di bawah selimut tebalnya. Kemudian Bryan mengecup kening Zia sekilas dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Lebih dari lima belas menit di dalam kamar mandi akhirnya Bryan keluar dengan hanya melilitkan handuk ke pinggangnya kemudian menuju lemari pakaian.
Saat memilah-milah pakaian mana yang ingin ia kenakan. Bryan di kejutkan oleh tangan lembut yang tiba-tiba melingkar di perutnya. Seketika tubuhnya berdesir saat merasa hembusan nafas menyapu punggungnya. Kecupan kecupan lembut ia rasakan dan membuat Bryan kembali menutup pintu lemari dan memutar tubuhnya untuk menangkap pelakunya.
"Kamu memancingku?" tubuh mungil Zia kini sudah berada dalam dekapan tangan Bryan yang dipenuhi otot-otot kekarnya. Namun Zia hanya tersenyum dan kembali memberikan kecupanan bertubi-tubi di dada bidang Bryan. Kemudian menghirup aroma tubuhnya yang selalu membuatnya candu.
"Sayang..." lenguh Bryan sambilmenurunkan kedua tangannya meremad bo'kong Zia hingga lingerie yang Zia kenakan tersingkap ke atas.
Zia mengangkat wajahnya dari dada Bryan dan menengadahkan kepalanya sambil membuka bibirnya. Bryan yang tau betul keinginan sang istri langsung menyambarnya dan menyesapnya dengan penuh gair'ah. Saling balas esapan dan lilitan lidah membuat mereka tidak betah berdiri lama-lama. Dengan tidak melepaskan pagutannya Bryan mendekap tubuh Zia dengan gerakan mendorong dan membuatnya berbaring dengan sangat hati-hati mengingat kondisi Zia yang tengah mengandung.
"Dasar gadis nakal, Udah tau gak boleh main masih mancing-mancing aja," ucap Bryan di sela-sela ciumannya.
"Aku sudah merasa sehat."
__ADS_1
"Benarkah?"
"Hmm."
"Kamu yakin."
"Sangat yakin."
Bryan menatap lekat wajah Zia dan tersenyum mendengar apa yang Zia kstakan.
"Sekarang Om harus membayar hutang Om tiga kali lipat," ucap Zia yang sudah di penuhi kabut bira'hi.
"Dengan senang hati sayang." Bryan langsung menurunkan tali lingerie seksi yang Zia kenakan dan langsung melahap kedua buah kenyal favoritnya. Rasa dahaga yang sudah lama tidak mereka penuhi membuat keduanya saling menyerang dengan begitu buas.
Setelah puas menelusuri setiap inci tubuh sang istri Bryan membalik tubuh Zia dan bersiap menyatukan miliknya yang sudah lama tidak mendapat kehangatan di dalam lembah kenikmatan yang selalu membuatnya Ingin lagi lagi dan lagi.
"Ssshhh Akhhh...."
Desah'an jahanam dari keduanya seolah menggambarkan kerinduan miliknya yang sudah lama tidak menyatu.
Lenguhan nikmat saling bersautan di setiap hentakan menggambarkan betapa membaranya permainan panas yang mereka lakukan hingga setelah mencapai pelepasannya mereka tidak beristirahat dan kembali melanjutkan ke permainan selanjutnya.
Hingga menjelang pagi. Kedua insan yang saling merindukan itu terus bergu'mul hingga permainan mereka lebih dari tiga kali seperti yang Zia inginkan.
"Plus bunganya," ucap Bryan yang langsung menjatuhkan diri ke samping tubuh Zia yang sudah tumbang terlebih dahulu.
Zia hanya tertawa kecil sambil memejamkan mata menikmati sisa-sisa kenikmatan pelepasan terakhirnya.
Bryan mengusap kepala Zia dan mengecupnya dengan lembut.
Kemudian mengusap perutnya dan mengecupnya berkali-kali.
Bersambung...
✔️ Komentarlah sesuai tempatnya. Disini sejak awal konsepnya memang kawasan emak-emak berdaster yang suka mencari kehangatan wkwkwk. Makanya Ukhti Salehah di larang mampir.
Jadi yang merasa Shalihah sebaiknya mampir ke Novel "Bersaing Cinta Dengan Ustadz" karena disini tidak sesuai dengan kalian.
__ADS_1
Jangan maunya kesini dan tidak mau kesana tapi komennya bilang "Novel Vulgar Mulu" itu kan namanya Munaroh. Mata pengin baca, Jari mengingkari 😏