
Setelah puas bercum'bu Bryan menarik kedua tangan Zia untuk duduk dengan benar. Kemudian merapikan rambut Zia yang berantakan dan memberikan kecupan mesra di kepalanya.
"Bella tidak memberikan keputusannya Om,"
"Jangan khawatir, Cepat atau lambat Bella akan setuju, Kamu jangan memikirkan tentang Bella, Kamu sudah menemuinya dan biarkan Dia memahami apa yang kamu ucapkan. Sekarang kamu hanya perlu fokus pada pelajaran dan bersiaplah menghadapi ujian terakhir mu."
"Apa kita akan menikah setelah Zia lulus?"
"Tentu saja, Om sudah tidak tahan ingin segera memakan mu." Bryan mengatupkan bibirnya dan mencubit pipi Zia dengan gemas.
Seperti biasa, Dengan susah payah Zia menelan salivanya mendengar apa yang Om Bryan katakan.
"Kita makan malam?"
"Ya."
"Om panggil Bella dulu ya."
Zia mengangguk dan merapikan pakaiannya yang kusut karena ulah kekasih Dudanya.
Bryan yang sudah berdiri di depan pintu kamar Bella segera mengetuknya.
"Sayang, Kita makan malam."
Tok... Tok... Tok...
Bella menarik nafas dalam-dalam dan membukakan pintu untuk Papahnya.
"Kita makan malem?"
Bella mengangguk kecil dan mengikuti Papahnya.
"Zia, Ayo Sayang."
__ADS_1
Melihat Papahnya memanggil Zia dengan sebutan sayang dan menitah gadis kecil itu ke meja makan, Membuat darah Bella seakan mendidih.
Ditambah lagi dengan perlakuan Papahnya yang begitu memanjangkan Zia dengan menarik mundur kursi makan untuk mempersiapkan kekasih kecilnya duduk, Serta menyiapkan piring dan menyajikan makanan sendiri untuk Zia, Semakin membuat Bella merasa cinta Papahnya kini terfokus untuk gadis kecil itu.
"Bella, Kamu mau makan apa sayang?" tanya Bryan yang melihat piring Bella masih juga kosong.
"Apa aja Pah." saut Bella yang tidak melepaskan pandangannya pada Zia.
Bryan terseyum dan menyajikan makanan untuk putri tercintanya.
Namun Bella yang tidak menyukai Zia, Merasa perlakuan Papahnya tetap tidak seperti kepada Zia.
"Segini cukup?"
"Ya, Cukup Pah."
"Selamat makan sayang,"
Bella mengangguk kecil dan terus memperhatikan Zia dan Papahnya yang terus memandang satu sama lain dengan senyum bahagianya.
Bryan dan Zia terkejut menatap Bella yang tiba-tiba membanting sendok ke piringnya.
"M-m-maaf Aku tidak sengaja," ucap Bella yang sebenarnya sengaja melakukan itu.
"Tidak papa Sayang."
"Oh ya Pah kan udah ngenalin kekasih Papah pada Bella, Besok giliran Bella Kenalin kekasih Bella sama Papah ya?"
"Apa! jadi Bella sudah punya kekasih?" tanya Bryan terkejut.
"Ya,"
"Apa Papah kenal?"
__ADS_1
"Tentu tidak, Makanya besok Bella kenalin."
"Oke baiklah, Papah sudah tidak sabar seperti apa pria yang bisa mencuri hati putri cantik Papah."
Bella terseyum malu-malu.
Setelah makan malam selesai, Bryan berpamitan pada Bella untuk mengantar pulang Zia, Bella hanya mengangguk kecil dan pergi ke kamarnya.
Meskipun belum ada kepastian dari putrinya, Bryan sudah merasa sedikit lega karena sudah membuat kedua wanita yang Ia cintai bertemu.
"Ayok Sayang." titah Bryan.
"Om sudah gak sabar ya pengin Zia cepat pulang?"
Bryan tertawa mendengarnya.
"Jika Zia anak sebatang kara, Maka tidak akan Om biarkan pergi kemanapun. Tapi Zia putri kesayangan Papa Faraz, Kalau Om gak anterin Zia tepat waktu, Bisa-bisa Om gak boleh ketemu Zia lagi."
"Baiklah..." Zia melangkah pasrah mendahului Om Bryan.
"Kok ngambek?"
"Siapa yang ngambek." dengan mengerucutkan bibirnya Zia masuk kedalam mobil.
Bryan hanya menggelengkan kepalanya dan menyusul Zia.
"Emang tadi belum puas, Hem?" Bryan mencubit pipi Zia dengan gemas.
"Gak gitu juga Om, Emang kalau Zia pengin sama Om, Zia penginnya di cium terus."
"Terus pengin di apain, Pengin di liatin punya Om?"
"Iiiih Om... Apaan sih." Zia mendorong tubuh Bryan yang terus menggodanya.
__ADS_1
Bryan tertawa melihat kekasih kecilnya yang memerah karena kata-katanya.
Bersambung...