Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Melahirkan


__ADS_3

Bimo tersenyum mengulurkan tangannya pada Bella, Melihat hal itu Bella mengukir senyum dan segera menepis sisa-sisa perasaannya pada Zayn. "Apa yang ku pikirkan, Aku sudah memiliki Bimo yang begitu menyenangkan dan memahami ku, Tidak seharusnya Aku mengingat tentang perasaan yang pernah ku rasakan pada Zayn." batin Bella.


"Ada apa?" tanya Bimo yang melihat Bella masih berdiam diri. Dan itu di lihat oleh Zayn dan Faza yang juga ikut menoleh ke belakang.


"Tidak." Bella meraih uluran tangan Bimo dan tersenyum melangkah ke sisinya.


Zayn yang melihat tersenyum dan mempererat pegangan tangannya pada Faza lalu kembali melangkah masuk.


Sementara di ruang bersalin Faraz dan Bryan masih berdebat siapa yang akan mendampingi Zia melahirkan. Pasalnya Dokter meminta hanya satu orang saja yang bisa mendampingi Zia melahirkan. Namun mertua dan menantu itu tidak ada yang mau mengalah, Keduanya bersikeras mendampingi Zia hingga membuat mereka bersitegang.


"Aku suaminya jadi Aku lebih berhak mendampingi Zia."


"Aku Papa nya, Aku yang mengurusnya dari dia bayi hingga Aku menyerahkannya pada mu, dan kali ini di masa tersulitnya Aku ingin mendamp..."


"Hentikan!" triak Zia di tengah kesakitannya.


"Sayang..." ucap Faraz dan Bryan bebarengan dengan sama-sama memegang wajah Zia di kanan kirinya. Hal itu membuat Faraz dan Bryan saling melihat hingga Zia kembali marah dan menarik kerah kemeja Bryan ke arahnya dengan kasar.


"Aku begitu kesakitan tapi Om malah terus saja bertengkar dengan Papa!" pekik Zia.


"Maafkan Aku Sayang, Tapi Aku suami mu, Aku yang lebih berhak mendampingi mu."


"Aku Papanya, Aku Opanya, Aku juga berhak mendampinginya."


"Tolong tenanglah, Pasien sudah pembukaan sepuluh, Ia harus fokus untuk melahirkan bayinya!" tegas Dokter.


"Maka izinkan kami disini Dok," ucap Faraz dan Bryan lagi-lagi berbarengan.


"Biarkan saja mereka disini dokter sekarang bantu Aku, Ini sakit sekali, Aaaaa...."


Mendengar hal itu akhirnya Dokter membiarkan Faraz dan Bryan mendampingi Zia hingga kepala sang bayi mulai terlihat.


Zia mengejan kuat-kuat sambil menggenggam erat kemeja Bryan hingga kukunya terasa menancap perih ke dadanya. Namun Bryan mengabaikan semua itu dan terus mengusap kepala Zia yang di basahi keringat dengan sesekali mengecupnya dengan penuh kasih.


Sementara Faraz yang berdiri di sisi lain melihat dengan tegang saat perlahan-lahan cucunya mulai terlihat semakin jelas.


"Sedikit lagi Sayang, Sedikit lagi putra kita akan kahir," bisik Bryan sambil terus menciumi Zia. Mendapat perlakuan dengan begitu lembut dari suaminya Zia mengejan sekuat tenaga hingga suara tangis bayi pecah memenuhi ruang bersalin.


"Oweee... Oweee... Oweee..."

__ADS_1


Faraz yang berdiri lebih dekat dengan sang bayi, Terdiam takjub melihat bayi kecil yang baru di lahikan oleh putri kesayangannya. Ia seakan tak percaya jika putri yang di anggapnya masih kecil telah menjadi seorang ibu dan menjadikan dirinya seorang kakek.


"Putraku," ucap Bryan yang langsung mendekati bayinya hingga mengagetkan lamunan Faraz.


"Tunggu sebentar Tuan," ucap perawat yang kemudian meletakkan sang bayi ke perut Zia dengan keadaan polos dan masih berlumuran darah.


Zia merasa begitu lega melihat sang bayi yang telah lahir dengan selamat, Kemudian ia menatap Bryan dan mengusap pipinya dengan penuh haru.


Bryan tersenyum dan menyatukan kening dan hidungnya dengan mengusap serta bayi kecil mereka.


"Terimakasih Sayang, Terimakasih telah melahirkan putra ku dengan selamat."


"Dia juga putraku," ucap Zia tersenyum.


"Dan dia adalah cucuku, Berikan pada ku biar Aku yang mengadzani nya," ucap Faraz yang langsung ingin mengambil sang bayi dari tangan Zia.


"Tidak-tidak, Aku Ayahnya, Aku lebih berhak mengadzani nya," protes Bryan.


Mertua dan menantu itu kembali berdebat berebut mengadzani sang bayi. hingga akhirnya mereka terdiam saat di bentak oleh Dokter.


"Begini saja Tuan-tuan, Ayah yang mengadzani dan Kakek membacakan iqomah, Adil bukan?" tanya Dokter.


Zia terkekeh menggelengkan kepala melihat Suami dan Papahnya saling melihat memikirkan apa yang Dokter katakan.


Mendengar pertama kalinya Zia memanggilnya Babe (Sayang) membuat Bryan tersenyum dan setuju dengan apa yang Dokter sarankan.


"Baiklah Sayang." Bryan mengecup kening Zia sekilas kemudian mengambil bayinya untuk di adzani, Setelah selesai Faraz mengambil sang bayi dari tangan Bryan untuk membacakan iqomah.


Sementara keluarga yang lain merasa begitu lega setah di beritahu Dokter jika Zia telah melahirkan bayi laki-laki dengan selamat.


Mereka pun begitu bahagia dan saling berpelukan satu sama lain menyambut anggota baru di keluarga besar mereka.


"Kalau begitu apa kami sudah boleh melihatnya?" tanya Alia.


"Tentu, Silahkan."


Seluruh keluarga besar pun masuk untuk melihat Zia dan memberikan selamat satu persatu pada Zia dan Bryan. Setelah itu Alia memeluk Faraz dan begitu terharu karena kini mereka telah memiliki cucu.


"Apa kian sudah memiliki nama?" tanya Faraz sambil memeluk Alia.

__ADS_1


"Tentu saja." saut Bryan yang langsung merangkul sang istri dan mengecup keningnya.


"Ziyan" sambung Zia.


"Ziyan?" tanya Faraz memastikan.


"Ya, Ziyan adalah gabungan nama Zia dan Bryan. Dia adalah lambang cinta kami, Maka dari itu kami ingin menyematkan nama kami kepadanya seperti Papa menyematkan nama Papa dan mama pada Zia."


Mendengar hal itu Faraz dan Alia tersenyum saling memandang.


"Tetaplah bahagia sayang," ucap Alia.


"Papa sangat mencintai mu, Tetaplah bahagia," lanjut Faraz.


Seluruh keluarga besar tersenyum bahagia menyambut Ziyan yang kembali di berikan kepada Zia oleh perawat setelah di bersihkan. Termasuk Oma dan opa Zhehzad yang juga telah datang.


"Hati-hati Sayang," ucap Alia yang melihat Zia untuk pertama kalinya memangku bayinya.


"Dia sangat tampan Sayang," ucap Bryan kembali mengecup Zia.


"Seperti dirimu," puji Zia.


"Dia lebih mirip Papa Faraz kali," protes Faraz.


"Opa kali," timpal Zayn.


"Nggak, Ziyan juga harus memanggil ku Papa Faraz, Aku terlalu tampan untuk di panggil Opa,"


Seluruh keluarga tertawa menggelengkan kepala melihat Faraz yang menolak tua.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


📌 Terimakasih sudah yang membaca dari Perjalanan Cinta Sang Duda hingga pindah kesini, Untuk sementara Om Duda sampai disini dulu ya, kapan-kapan kita lanjutkan lagi.


Setelah ini Mau namatin BERSAING CINTA DENGAN USTADZ dan MENGEJAR JANDA YANG TERLUKA di sela-sela pusa yang begitu menyibukkan.


Untuk karya baru tunggu saja ya kalau author sudah tidak sibuk,


Terus ikuti Authordi aplikasi dan add FB Author @i'tsmenoor biar tau kabarnya Author kalau di aplikasi gak nongol-nongol 😂

__ADS_1


Terimakasih untuk kalian semua, Dalam Cinta dari Author dan Om Bryan kesayangan kita semua 😘❤️❤️❤️



__ADS_2