Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Damai


__ADS_3

Kini hanya tinggal Bryan Zia dan Bella.


Dengan masih berdiri di belakang Papahnya Bella memandang Zia dengan perasaan bersalah.


Bryan segera menggeser tubuhnya hingga kini Anak dan istrinya saling berhadapan daei jarak yang begitu dekat.


"Bella, Kamu tidak ingin meminta maaf pada Mommy Zia?" tanya Bryan yang melihat putrinya masih berdiri tak meminta maaf pada Zia.


"Tidak perlu Om, Bella tidak sengaja dan Aku tidak marah padanya."


"Tapi Aku harus tetap minta maaf," saut Bella.


Zia memandang sedih putri sambungnya dan memeluknya dengan penuh kasih. Bella pun menjadi hari dan menangis di pundak ibu kecilnya tersebut. "Maafkan Aku Mommy Zia, Maafkan Aku."


"Tidak Bella, Kamu tidak melakukannya dengan sengaja."


Melihat kedua wanita yang begitu ia cintai saling berpelukan membuat Bryan begitu haru dan memeluk mereka berdua.


"Tetaplah seperti ini Sayang," ucap Bryan sambil mengecup pucuk kepala keduanya.


Zia dan Bella tersenyum dan melepaskan pelukannya.


"Istirahat lah Mommy, Momy masih terlihat begitu lemah."


"Terimakasih kasih Bella,"


Bella menganggukkan kepala dan merasa begitu lega karena telah berdamai dengan ibu sambungnya.


"Boleh Papah menggendong Mommy Zia?" tanya Bryan pada Bella.

__ADS_1


"Ya tentu," Bella tersenyum di sisa-sisa tangisnya.


Dengan seizin putrinya Bryan membopong tubuh Zia dan membawanya ke kamar.


Bella menghelai nafas panjang memandang mereka hingga keduanya hilang dari pandangan nya.


Sesampainya di kamar Bryan membaringkan tubuh Zia dengan sangat hati-hati. Ia merasa begitu lega akhirnya ketegangan dua hari ini terselesaikan sesuai harapannya. Zia tetap tinggal bersamanya dan Bella menerima Zia kembali.


"Apa yang Om pikirkan?" tanya Zia yang melihat Bryan termenung menggenggam tangannya.


"Tidak ada Sayang, Aku hanya sedang bersyukur Bella sudah mau menerima mu kembali, Dan si kecil yang ada di perutmu juga selamat," ucap Bryan sambil mengusap perut Zia yang masih rata.


"Apa kamu bahagia mendengar Aku mengandung?"


"Tentu saja, Kenapa masih bertanya? Aku begitu bahagia dan tidak menyangka jika kamu akan memberiku keturunan dengan begitu cepat."


"Aku juga masih merasa tak percaya jika Aku akan menjadi seorang ibu, Kayaknya baru kemarin deh Zia ngejar-ngejar Om pake seragam sekolah."


"Beristirahatlah Sayang, Agar kamu kembali pulih."


Zia langsung menarik tangan Bryan yang akan beranjak dari duduknya.


"Om tidak ingin tidur memeluk ku?"


"Ya. Tentu." Bryan naik ke ranjang dan membuat tubuh Zia miring membelakanginya. Kemudian Bryan memeluknya dan membenamkan wajahnya di punggung Zia.


•••


Seminggu kemudian keluarga Bimo beserta rombongan datang membawa lamaran untuk Bella.

__ADS_1


Bryan menyambut mereka dengan hangat. Sementara Zia yang sudah mulai pulih kembali membantu Bella mempersiapkan diri.


Dengan mengenakan balutan gaun panjang dengan bagian atasnya bertabur kristal membuat penampilan Bella menjadi terlihat mewah dan mempesona.


"Kamu sangat cantik Bella." puji Zia.


"Terimakasih Mommy Zia." saut Bella dengan senyum tipisnya.


"Bella, Maafkan Aku karena tidak bisa menghentikan perjodohan ini dan membuat Papah mu memberimu kesempatan memilih calon mu sendiri, Tapi percayalah Bella, Bimo orang yang sangat baik, Dia juga pintar dan humoris, Kamu tidak akan kesulitan untuk cepat beradaptasi dengan nya."


"Tenang saja Mommy, Aku sudah berjanji menerima lamaran ini jadi Aku akan menjalaninya bagaimana pun nantinya."


Zia terdiam, Ia tau betul Bella belum sepenuhnya menerima perjodohan ini. Namun Zia merasa yakin kelak Bella akan merasa bahagia dan berterima kasih pada Papahnya karena perjodohan ini."


"Kedua wanita cantik Papah kok masih disini," ucap Bryan yang baru datang.


"Mereka sudah tidak sabar menunggu calon mempelai wanitanya loh." Bryan mencubit kecil dagu Bella dengan ekspresi gemasnya.


Bella yang melihat kebahagiaan terpancar di wajah Papahnya mengukir senyum nya dan menyembunyikan kegusaran dalam hatinya.


"Kamu cantik sekali sayang." puji Bryan.


"Terimakasih Pah."


"Sama-sama. Sekarang kita keluar?"


Bella mengangguk dan meraih tangan Papahnya yang terlebih dahulu mengulurkan tangan kepadanya. Kemudian tangan lainnya meraih tangan Zia dan menuntunnya turut serta bersamanya.


Bersambung...

__ADS_1


Maaf dikit, Ngantuk banget nih gak kuat 🥱😴


__ADS_2