Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Malam Yang Syahdu


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Faraz langsung melempar tas kerjanya, Kemudian mencoba melepas dasinya, Namun perasaan kesal di hatinya membuat ia kesulitan melepas dasi tersebut


"Kenapa dasi ini susah sekali, Benar-benar menyebalkan, Sama menyebalkan nya kaya Bryan!"


Alia yang mendengar teriakan Faraz masuk melihat apa yang terjadi dengan suaminya.


"Ada apa, Kenapa marah-marah?"


"Lihatlah dasi ini begitu sulit di lepaskan."


Alia menghelai nafas panjang dan mencoba membantu melepaskan dasi tersebut. Hanya butuh beberapa detik, Dengan mudah Alia berhasil membukanya, Kemudian ia mengusap-usap dada Faraz yang naik turun karena kekesalan di hatinya.


"Apa yang membuat Mas marah, Tadi Aku dengar Mas sebut-sebut nama Bryan?"


"Dia selalu membuat ku naik darah, Dia terlambat datang meeting tapi dengan santainya dia memberi alasan jika dia habis..." Faraz menghentikan ucapannya dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Habis?" Alia masih menunggu kelanjutan ucapan Faraz.


"Sayang... Kamu tau kan Baby Ziyan baru berusia empat puluh hari, Dan Bryan... Dia... Dia..."


Alia mengangguk sambil menahan tawanya mendengarkan apa yang coba akan Faraz katakan. Melihat Alia menahan tawanya Faraz menjadi bertambah kesal.


"Apa kamu tertawa?"


Alia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tapi Aku melihat mu menahan tawa!"


Alia tersenyum dan membuat Faraz duduk di tepi ranjang. Kemudian ia kembali mengusap-usap dada Faraz untuk membuatnya tenang.


"Lepaskan!" Faraz mencoba menepis tangan Alia dengan kesal. Namun Alia malah menaikkan satu kakinya ke pangkuan Faraz.

__ADS_1


Faraz menepis kaki Alia dari pangkuannya. Namun Alia kembali menaikannya dan di tepis kembali oleh Faraz. Tapi hal itu tidak membust Alia kesal, Justru dengan gerakan menggoda, Alia membuka satu persatu kancing kemeja Faraz dan memainkan jari telunjuknya di dada bidangnya.


"Kenapa marah-marah terus, Mas kaya gak pernah aja, Dulu pas Aku baru selesai nifas, Mas juga begitu sampai Zia hadir sebelum waktunya."


Kekesalan Faraz mulai mereda, Ia menatap wajah Alia dan mengingat moment pertama kali ia memiliki momongan. Kemudian dengan terus saling menatap, Alia membuat Faraz berbaring dan menurunkan jemarinya ke bawah hingga membuat Faraz merasakan desiran aneh mengalir dalam darahnya.


"Alia, Kamu membuatnya bangun." Faraz memegang tangan Alia yang hampir mencapai senjata kebanggaan nya. Kemudian ia bangkit dan menjatuhkan tubuh Alia menjadi di bawah kungkungannya.


"Jadi begini cara mu mendinginkan hati suami mu?!"


"Apa sekarang hati Mas merasa dingin?"


"Mustahil! Kamu semakin membuat ku panas." Faraz langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Alia dan menelusuri setiap inci tubuh sang istri dengan penuh gai'rah.


•••


Bryan yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya berjalan ke arah cermin.


Namun tiba-tiba ia di kagetkan oleh kedua tangan yang melingkar di dada bidangnya.


Bryan langsung tersenyum memegang kedua tangan lentik itu dan mengecupnya. Sementara Zia membenamkan wajahnya menghirup punggung Bryan yang kini terasa begitu segar akan aroma sabun mandi yang ia gunakan.


"Ziyan sudah tidur?" tanya Bryan sambil memutar tubuhnya menatap istri kecilnya.


Dengan manja Zia menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Bryan. Kini ia menempelkan sebelah pipinya di dada bidangnya seolah mendengarkan detak jantung suaminya.


Bryan tersenyum dan mengecup pucuk kepala Zia. Sikap manja yang Zia tunjukan bukannya membuat Bryan kesal justru membuat Bryan semakin gemas saja pada Zia.


Bryan tertawa mengingat kekesalan Faraz yang menganggap dirinya tidak pernah mengampuni Zia dalam urusan ranjangnya.


"Belum tau saja jika putrinya yang selalu membuatnya tidak tahan untuk menerkamnya." batin Bryan.

__ADS_1


Zia yang merasa dada Bryan berguncang akibat tawanya melepaskan pelukannya.


"Apa Babe tertawa?"


"Sedikit," ucap Bryan menahan tawanya.


"Apa yang membuat Babe tertawa, Apa ada yang aneh padaku?" tanya Zia sambil menelisik tubuhnya sendiri.


"Tidak Sayang... Aku hanya sedang mengingat Papa mu yang melarang ku untuk menyentuh mu."


"Apa! Papa melarang Babe menyentuh ku?"


"E... Sebenarnya bukan melarang sih, Tapi Papa Faraz merasa menghawatir jika Aku terlalu kuat menghentak mu sehingga kamu mengalami pendarahan."


Mendengar hal itu bukannya membuat Zia takut, Justru malah membuat tubuhnya berdesir hebat.


"Babe... Justru Aku sangat menyukai saat Babe menghentak ku dengan kuat." Zia menggigit bibir bawahnya dan meraba lilitan handuk yang melingkar di pinggang Bryan.


"Kamu menginginkannya?" Bryan menyeringai karena dengan satu kata hentakan saja yang sengaja ia ucapkan membuat Zia terang'sang.


"Aku selalu menginginkannya." dengan suara yang terdengar seperti desah'an Zia menarik handuk yang menutupi benda kesukaannya yang telah berdiri menantang.


"Kau sungguh nakal Zia!" dengan gemas Bryan mengangkat tubuh Zia dan membuatnya duduk di depan cermin.


📌 Wes Lanjutin dewek-dewek bersama pasangan halalnya masing-masing 🤣🔥



Couple Ziyan ❤️


__ADS_1


Couple FaLia ❤️


__ADS_2