Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Waspada


__ADS_3

Sebelum berangkat kuliah, Zia menemui Bi Asih di dapur,


Zia yang sudah menganggap Bi Asih seperti keluarganya sendiri mengungkapkan keresahannya tentang Rina yang memperlihatkan gelagat yang tak biasa terhadap suaminya. Dengan itu Zia menyuruh Bi Asih agar mengawasi Rina selama ia kuliah.


"Tolong ya Bi," pungkasnya.


"Jangan khawatir Non, Bibi akan terus mengawasinya."


"Terimakasih Bi"


Kemudian Zia pergi ke kamar Ziyan. Mengecupnya dengan penuh kasih sayang kemudian menatap Rina yang berdiri di samping box bayinya.


"Jaga Ziyan baik-baik, Jangan sampai dia kelaparan, Aku akan pulang petang."


"Baik Nyonya, Jangan khawatir."


Setelah Zia keluar dari kamar, Diam-diam Rina mengikuti Zia hingga masuk ke mobil bersama Bryan yang dengan mesra membukakan pintu untuknya seperti Tuan Puteri.


"Enak banget jadi Nyonya Zia, Punya suami ganteng, Penyayang dan jago di ranjang." batinnya.


Rina terus menghayalkan jika dirinya berada dalam dekapan hangat Bryan. Berbagi peluh hingga mengerang nikmat seperti yang ia dengar kala itu, Sebelumnya ia hanya begitu mengagumi ketampanan majikannya. Namun setelah kejadian itu membuat hasratnya begitu menggebu kepada sang majikan.


"Rina, Sedang apa disini, Apa kamu tidak dengar Ziyan menangis?" tegur Bi Asih.


Tanpa menjawab Bi Asih, Rina pergi ke kamar Ziyan dengan kesal.


•••

__ADS_1


Sesampainya di kampus, Zia memandang Bryan seolah berat untuk turun dari mobil, Bukan hanya karena ini hari pertama Zia masuk kuliah setelah cuti hamil dan melahirkan, Melainkan ia masih terganggu dengan sikap Rina kepada Bryan.


Melihat Zia yang belum juga turun dan terus menatapnya lekat.


Bryan mencubit kecil pipi Zia. "Apa yang kamu pikirkan Sayang, Kenapa menatap ku seperti itu?"


"Apa selain sekertaris, Di kantor juga banyak wanita cantik yang berpenampilan seksi dan menarik?"


"Kenapa bertanya seperti itu?" Bryan terkekeh mendengar pertanyaan Zia yang seakan baru mengenalnya.


"Babeee... Kenapa malah tertawa? Jawaaabbb..."


"Sayang... Tidak ada yang lebih menarik daripada dirimu."


Zia terdiam. Hatinya masih tidak puas dengan jawaban Bryan. Entah kenapa firasatnya pada Rina benar-benar tidak enak.


"Babe... Aku merasa Rina menyukai mu."


"Apa?! Cuma karena kejadian tadi pagi kamu langsung berpikir seperti itu?"


"Babe... Aku ini seorang wanita, Dan Aku melihat gelagatnya. Dia bersikap seperti saat Aku awal-awal jatuh cinta padamu."


"Oke... Aku tidak akan pernah mengabaikan kekhawatiran mu. Jika memang itu benar, Aku akan langsung memecatnya jika satu bukti saja kita temukan. Hmm?"


Mendengar hal itu Zia dapat tersenyum tenang. Kemudian ia menangkup kedua sisi pipi Bryan dan mengecup pipinya kuat-kuat hingga tubuhnya condong ke arahnya.


"Babe memang suami terbaik." pujinya.

__ADS_1


"Hanya itu hadiahnya?" tawar Bryan.


"Aku akan memberikannya tapi tidak sekarang." Zia tersipu dan mencoba membuka pintu mobilnya. Namun Bryan kembali menarik ke sisinya.


"Bagaimana jika Aku memintanya sekarang?"


"Apa Babe sudah gila, Ini di kampus lihatlah banyak orang berlalu-lalang."


Bryan terkekeh. Suka sekali ia melihat mimik wajah Zia yang begitu menggemaskan saat ia menggodanya.


"Aku hanya bercanda, Pergilah belajar yang pinter."


"Aku pikir Babe akan benar-benar melakukannya."


"Aku tidak senakal dirimu." dengan gemas Bryan mencubit pipi Zia.


"Tapi Babe suka kan?" Zia menaikturunkan kedua alisnya dengan senyum manjanya.


"Sangat... Makanya kamu tidak perlu khawatir Aku akan tergoda dengan Rina maupun wanita di luar sana."


"Baiklah... Cup... Bye..." Zia langsung turun dari mobil setelah kembali memberikan kecupan di pipi Bryan.


Sementara Bryan hanya tersenyum melihat langkah riang Zia hingga memasuki gerbang kampusnya.



Tebar pesona Babe dulu yang suka bikin emak-emak kepanasan wkwkwk 🤣

__ADS_1


__ADS_2