
Bryan menghentikan mobilnya di gang perumahan.
Kemudian tanpa mengatakan apapun Zia membuka blouse nya dan menyisakan tank top hitam yang panjangnya tak sampai pusar.
"Zia mau ngapain?" tanya Bryan yang menjadi panik melihat ulah kekasih kecilnya.
"Ini untuk mengelabui Mama dan Papa Om." ucap Zia yang kemudian melanjutkan dengan menurunkan skirt denim dan menyisakan hot pants minim yang memperlihatkan paha mulusnya.
"Zia, Astaga, Ah!" Bryan menepuk mata hingga keningnya sendiri.
"Memang kenapa sih Om, Dengan ini Zia kan bisa pulang dengan alasan lari pagi."
"Lari pagi dengan pakaian minim seperti ini?"
Zia mengangguk-anggukan kepalanya sembari mencebikan bibirnya.
"Zia itu terlalu minim Sayang, Orang-orang akan menatap mu penuh syahwat!"
"Cuma di sekitar komplek gak sampai 30 menit,"
"Tetep saja Sayang, Om gak mau kamu seperti ini lagi, Om gak rela tubuh indah mu di lihat oleh orang lain."
"Ya udah, Ini yang terakhir." Zia bergegas membuka pintu. Namun Bryan menghentikan dengan memegang tangannya.
Zia menaikan dagu dan kedua alisnya untuk memberi isyarat kenapa Om Bryan menghentikannya.
"Kenapa gak di buka saat tidur sama Om?" Bryan menggigit bibir bawah sambil melirik lekuk tubuh kekasih kecilnya.
"Iiihhh dasar mesum." Zia menepis wajah Om Bryan yang sudah semakin mendekat.
Bryan tertawa dan memaksa kekasih kecilnya duduk di pangkuannya.
"Om! Nanti keburu Papa ke kantor."
"Berikan ciuman mu terlebih dahulu baru Om lepasin."
"Nggak mau, Kalau begitu biarkan saja Papa lewat dan menangkap basah Kita."
__ADS_1
"Kamu ingin di paksa?" Bryan langsung mendaratkan bibirnya di dada Zia yang tepat berada di depan wajahnya.
"Om cukup! jangan tinggalkan tanda merah di leher ku, Atau Papa akan curiga."
"Baiklah, Tidak akan di leher mu, Tapi... Cup!"
"Eummhhh!" Zia memejamkan mata sejenak saat bibirnya di esap dengan kuat.
Setelah puas menyesapnya, Bryan melepaskan kekasih kecilnya.
"Turunlah, Kita bertemu di rumah."
Sebelum turun Zia meraih botol minum di dekat Om Bryan dan memercikkan air tubuhnya untuk mengelabui Papanya.
Percikan air yang membasahi wajah dan dada Zia membuat Bryan pening menggendalikan pikirannya yang semakin di buat tak karuan oleh kekasih kecilnya.
Tanpa rasa bersalah Zia terseyum menggoda dan turun meninggalkan Om Bryan. Kemudian Zia berlari santai layaknya berjogging di pagi hari seperti yang biasa ia lakukan.
•••
Setelah menunggu beberapa menit Bryan menjalankan mobilnya dan menuju rumah calon mertuanya.
"Zia berapa kali Papa bilang kalau jogging jangan menggunakan pakaian minim seperti itu!" pekik Faraz yang melihat Zia masuk ke rumah tanpa sedikitpun mencurigainya.
Tet Tottt...
Faraz menghentikan omelannya begitu mendengar suara bunyi klakson di depan rumahnya.
Bryan yang akan turun melihat pakaian Zia yang berserak di jok mobilnya.
"Gadis ini selalu membuat ku hilang konsentrasi," ucap Bryan yang kemudian menyinggahkan pakaian Zia dan menyembunyikan di bawah joknya.
"Mau ngapain Duda karatan itu kemari?" gumam Faraz yang menjadi kesal jika bertemu Bryan di luar pekerjaannya.
"Pa.." Zia berlari mendekati Papanya.
"Eh, Zia stop! Jangan keluar dengan pakaian seperti itu, Masuk ke kamar sebelum mata Om Duda karatan itu melihat tubuh mu!"
Zia mengerucutkan bibirnya dan kembali masuk ke dalam tanpa menyapa kekasih dudanya.
__ADS_1
Bryan hanya melihat punggung Zia sekilas dan menyapa calon mertuanya yang sudah menghadangnya di depan pintu.
"Selamat pagi Tuan Faraz."
"Untuk apa kemari bukankah seharusnya kamu ke kantor?"
"Aku akan cuti beberapa hari untuk mengurus pernikahan."
"Pernikahan? Dengan siapa, Bukankah Aku belum menyetujuinya?"
"Tapi Mama sudah menyetujuinya," ucap Zia yang kembali dengan menegang Fotokopi KTP dan akta nikah yang ia dapat dari Mamanya.
"Zia kamu! Kamu belum mengganti pakaian mu! Cepatlah masuk dan berikan itu pada Papa!" Faraz mencoba merebutnya dari Zia. Namun Zia segera berlari dari kejaran Papanya.
"Zia! Aliaaa, Arghhh!" Faraz menarik tangan Alia ke sisinya karena dengan mudah memberikan apa yang Zia minta.
"Alia, Kemarin Aku sudah memperingatkan mu agar tidak mudah membiarkan mereka menikah, Tapi kenapa..."
"Kenapa Mas bersikeras menghalanginya, Biarkan saja Zia menikah dalam waktu dekat, Zayn juga akan segera menikah, Jadi biar gantian."
"Apa! Zayn mau nikah?"
"Ya, Barusan Dia telfon, Katanya Pak Kiai menyetujui hubungannya dengan Ning... Faza."
"Jadi biarkan Zia yang nikah duluan ya Pa?" rengek Zia.
"Zia! Kenapa sih ngebet banget pengen nikah sama Om Duda karatan itu?"
"Mass..."
"Biarin karatan yang penting lebih ganteng dari Papa." ejek Zia.
"Zia! Masuk dan ganti pakaian mu atau Papa gak akan pernah merestui pernikahan mu dengannya!"
"Ya.. Ya baiklah, Tapi Papa janji gak boleh ingkar lagi." Zia memberikan persyaratan pernikahan yang ada di tangannya kepada Om Bryan. Kemudian Zia berlari ke atas untuk mengganti pakaiannya.
"Terimakasih Nyonya Alia," ucap Bryan terseyum.
"Lakukan saja apa yang kalian inginkan, Aku juga akan melakukan apa yang Aku inginkan. Lihat saja nanti." Faraz mengambil tas kerjanya dan meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Jangan di fikirkan, Di mulut Mas Faraz bisa mengatakan apapun, Tapi yang sebenarnya Dia hanya merasa belum siap jika putri kesayangannya pergi meninggalkannya," ucap Alia menggelengkan kepalanya melihat sikap suaminya yang semakin posesif terhadap putri bungsunya.
Bersambung...