Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Kebuasan Singa Lapar


__ADS_3

"Apa kamu keberatan Aku menginap disini?" tanya Faraz mengulangi pertanyaannya.


"Tidak Papa mertua, Silahkan saja, Tidurlah dengan nyaman, Semoga mimpi indah," ucap Bryan terseyum basa-basi.


"E.. Ayah dan ibu mau pulang, Sejak beberapa hari ini kita sudah begitu sibuk jadi Ayah ingin beristirahat di rumah dengan nyaman," ucap Zhehzad.


"Tidak masalah Ayah," ucap Faraz.


"Mas, Apa tidak sebaiknya kita pulang saja? Bryan juga pasti capek, Biarkan mereka istirahat,"


"Beristirahatlah, Memang Aku menyuruhnya berjaga sampai Aku tertidur?"


Alia menarik nafas dalam-dalam, Andai saja kedua mertuanya tidak ada, Pasti ia akan membuat suaminya luluh dengan apa yang ia katakan.


•••


Setelah Zhehzad dan Zeenat meminta izin pulang, Zayd dan Zayn juga minta ikut pulang bersama Oma dan Opanya, Mereka yang sudah lama tidak menginap di rumah Opa mengambil momen ini untuk menginap di sana. Kini hanya tinggal Alia dan Faraz yang ada di rumah menantunya. Meskipun Alia menuruti keinginan Faraz untuk menginap di rumah Bryan, Namun Alia sudah memiliki rencana agar suaminya itu tidak kembali menganggu anak dan menantunya.


"Untuk apa kita terus berada di kamar, Ini kan masih jam 19.00 wib?" tanya Faraz yang sudah di ajak masuk ke kamar oleh Alia.


"Untuk apa lagi, Aku ingin kembali menikmati kebersamaan kita layaknya pengantin baru," ucap dengan nada menggoda.


"Jadi kamu merasa iri dengan Zia?"


"Tentu saja, Ayo kita lakukan lagi, Apakah Mas masih kuat sampai pagi?"


"Jangan kembali menantang ku, Bagaimana kalau Aku tidak mengampuni mu, Hem?" Faraz yang mulai terpancing dengan rayuan Alia, Langsung lupa jika niat awalnya menginap di rumah Bryan ingin kembali menggagalkan malam pertama mereka.


Sedangkan di luar, Bryan yang tidak ingin lagi di ganggu oleh Papa mertuanya membawa Zia lari dari rumahnya secara diam-diam.


"Mau kemana Om?"


"Hsssttt, Diam saja," ucap Bryan yang terus berlari meninggalkan rumah dan menuju mobilnya.


"Masuklah,"


Meskipun merasa bingung, Zia hanya mengangguk dan menuruti permintaan Bryan.


JEBRETTT...!


Suara pintu mobil dan mesin yang baru di nyalakan membuat Faraz yang baru memulai pemanasan mengangkat kepalanya dari ceruk leher Alia. Kemudian memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan lebih jelas suara mobil yang baru saja ia dengar tadi. Namun Alia segera menarik pundak Faraz untuk kembali melanjutkan pemasarannya. Faraz pun kembali melupakan kecurigaannya dan kembali mencum'bui sang istri.

__ADS_1


•••


Bryan menghentikan mobilnya di apartemen miliknya. Kali ini ia hanya ingin berdua dengan istri kecilnya saja tanpa ada gangguan dari siapapun.


"Turunlah Sayang," ucap Bryan membukakan pintu mobil untuk istri kecilnya.


"Om kok kesini?" tanya Zia bingung.


"Mau bagaimana lagi, Papa mu selalu menganggu kita, Jadi biarkan saja Papa tidur di rumah dan kita nikmati malam pertama kita disini."


"Hah! M-malam pertama?" mendengar kata itu membuat Zia begitu tegang memikirkanan bagaimana ia nanti berada di bawah Singa lapar ini.


"Aku sudah tidak sabar ingin memakan mu Sayang." Bryan langsung membopong tubuh mungil Zia dan membawanya masuk ke kamar yang sudah asistennya siapkan untuk menyambut pengantin baru tersebut.



Zia terseyum lebar melihat apa yang ada di depannya.


"Ini terlihat sangat romantis Om,"


"Zia suka?"


"Sangat."


Setelah ia berhasil membuka pakaiannya kini tangan kekar itu meraba punggung sang istri untuk mencari pengait kain yang menutupi buah kenyal yang selama ini ia jaga untuk malam pertamanya.


Bryan melepas pagutannya menatap dua buah kenyal yang sudah menyembul tanpa terhalang penyangganya. Dengan gerakan sedikit mendorong Bryan langsung melahap pucuk buah kenyal itu dengan satu tangannya meremad sisi lainnya. Seperti bayi yang kelaparan ia melahap dengan buas buah kenyal itu hingga membuat Zia menengadahkan kepalanya keatas merasakan esapan kuat di dadanya.


"Ssshhh Ahhhh..." kakinya tidak lagi bisa diam merasakan yang di bawah sana berdenyut tak karuan saat tubuh Bryan mulai menindihnya hingga senjata milik Bryan dapat ia rasakan kerasnya meskipun masih terhalang celananya.


Setelah puas menikmati kedua buah kenyal istri kecilnya Bryan menurunkan kecupannya ke perut ratanya dengan tangan yang terus bergerak aktif membuka kain terakhir yang menutupi inti yang selama ini mereka jaga bersama.


Zia langsung merapatkan kakinya saat Bryan mematung menatap bagian inti nya yang sudah tak terhalang oleh sehelai benang pun.


"Biarkan saja Sayang." Bryan menyibak kedua kaki itu hingga memperlihatkan buah kecilnya yang bewarna merah muda di dalamnya.


"Om... Hhh..." Zia kembali menutupi dengan satu tangannya namun Bryan kembali menyingkirkan tangan Zia dan langsung membenamkan wajahnya di sana.


"Ssshhh Ahhhh, Om...." Zia terus meliak-liukan pinggulnya saat lidah basah Bryan menari-nari di area sensitifnya. Sebuah kenikmatan yang belum pernah Ia rasakan seumur hidupnya. Zia yang awalnya merasa malu di perlakukan seperti itu kini malah membuka kedua pahanya lebar-lebar dan semakin ingin di beri kenikmatan yang lebih oleh suaminya.


Melihat hal itu Bryan menyeringai dan memberikan esapan kuat di buah kecilnya yang berwarna peach itu hingga membuat Zia menggelinjang hebat dan seketika itu juga ia lemas.

__ADS_1


Dadanya naik turun menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja Bryan berikan.


"Giliran ku Sayang," Bryan membuka celananya hingga menyembulkan senjatanya yang sudah tegak berdiri seperti senjata laras panjang.


Melihat benda yang lebih besar bentuknya daripada yang ia bayangkan membuat Zia membulatkan matanya hingga ia begitu kesulitan menelan salivanya.


"Kamu mau memegangnya?" Bryan menyeringai menarik tangan sang istri dan mengarahkannya ke senjatanya.


Dua genggaman tangan Zia masih belum mampu menutupi seluruh senjata suaminya, Bagaimana benda sebesar dan sepanjang ini merangsek masuk ke miliknya, Zia menggelengkan kepalanya.


"Hanya sakit sebentar Sayang," bisik Bryan dengan sedikit mendorong tubuh Zia dan menarik pinggul sang istri kemudian mengarahkan senjatanya.


Zia begitu tegang saat senjata itu mulai menyentuh miliknya.


Ia menggigit bibir bawahnya dengan terus memejamkan mata saat senjata laras panjang itu mulai memaksa masuk memecahkan selaput dara nya.


"Aaaaaaaaaaaaa... Sssstttt..." air bening dari ujung mata Zia terlepas bebarengan dengan pecahnya selaput dara nya.


Tak hanya Zia, Bryan juga mengerang hebat saat senjata laras panjangnya berhasil menembus sempitnya milik Zia. Sebuah kenikmatan yang sudah begitu lama tidak ia rasakan hingga ia hampir lupa bagaimana nikmatnya dihimpit lembah sempit nan hangat itu.


Kemudian Bryan mendiamkan sejenak dan menusap kepala sang istri untuk memberikan ciuman lembut agar sedikit mengalihkan rasa sakitnya.


Setelah melihat Zia tenang, Bryan mulai memaju mundurkan pinggulnya. Zia meraih selimut dan menggigitnya untuk mengurangi rasa yang semakin aneh ia rasakan, Bagian intinya begitu sakit tapi tubuhnya mendapat kenikmatan yang belum pernah Ia rasakan.


Suara desa'han saling beersautan mengiringi bagaimana panasnya medan tempur dua insan yang terpaut usia jauh tersebut.


Sambil meremad buah kenyal yang sejak tadi berguncang indah Bryan terus menghentakkan senjata laras panjangnya hingga Zia yang awalnya merasa kesakitan kini berganti kenikmatan yang luar biasa.


"Om... Ssshh... Oughhh..." Tidak ada kata-kata yang terucap selain desa'han dan racauan tak jelas dari keduanya hingga pada akhirnya Bryan menyusul Zia yang sudah terlebih dahulu mencapai puncak kenikmatan yang ke dua kalinya.


"Arrrgghhhh..." Bryan memuntahkan lahar panas yang begitu banyak hingga rahim Zia tak dapat menampungnya.


"Ini gila Sayang," bisik Bryan menciumi istri kecilnya yang terlihat begitu kelelahan mengimbangi kebuasannya.


"Beristirahatlah, Sebelum kita lanjutkan lagi permainan kita," ucap Bryan terseyum puas.


Zia hanya menatap lemah wajah tampan sang suami sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.


Bersambung...


__ADS_1


Om Bryan, Ufff 🥵🥵🥵🔥🔥🔥



__ADS_2