Mengejar Duda Teman Papa

Mengejar Duda Teman Papa
Pernikahan Bella


__ADS_3

Keesokan harinya Bryan dan Zia datang ke rumah Papa Faraz untuk mengabarkan pernikahan Bella yang tidak lama lagi akan berlangsung.


Kabar ini membuat Faraz seketika terdiam hingga membuat Alia, Bryan dan Zia bertanya-tanya apa yang tengah Faraz pikirkan.


"Mas..." lirih Alia sambil menyikut lengan Faraz.


"Kok malah bengong sih?"


"E... Aku sedang berfikir, Jika Bella akan menikah, Berarti dia akan memiliki anak, Jika dia memiliki anak berarti Bryan akan jadi Kakek, Jika Bryan di panggil Kakek, Berarti putri kecil kita akan di panggil Nenek?" Faraz menjeda ucapannya dan menatap Alia.


"Lalu apa masalahnya itu kan hanya sebutan?"


"Jelas jadi masalah, Putri kita masih terlalu muda untuk di panggil Nenek." rengek Faraz.


"Papa kenapa itu saja di masalahkan, Aku tidak merasa keberatan nenenk, Oma atau apapun, Sudahlah Papa juga sebentar lagi akan di panggil Kakek, Semua orang akan tua begitupun dengan Zia."


"Mas dengar itu, Bahkan Zia lebih bersikap dewasa daripada Mas."


Bryan hanya menahan senyum dan menggelengkan kepalanya melihat teman sekaligus mertuanya yang masih larut dalam pikirannya.


Sementara di rumah Opa Zhehzad Bimo juga datang untuk mengabarkan jika dirinya akan menikahi Bella yang tak lain Anak sambung dari Zia adik sahabatnya itu. Sama seperti dengan Faraz Zayn juga tidak kalah terkejut dengan kabar yang Bimo sampaikan.


"Apa! Kamu mau menikah dengan Bella, Anak sambung Adik ku?!"


Melihat keterkejutan Zayn Bimo hanya tertawa sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi Zia tidak bilang jika akan dapat menantu sompkak seperti mu?"


"Hahahaha... Masih mending dapat menantu seperti ku, Daripada Pak Kiai punya menantu model tersesat seperti mu!"


keduanya terus saling mengejek dan melempar apapun yang ada di depannya hingga keduanya tercengang saat bantal yang Bimo lempar mengenai Opa Zhehzad yang baru datang.


"O-opa..." ucap Bimo gugup.


"Mampus lu," lirih Zayn menahan tawanya.


"M-maafkan Bimo Opa Zhehzad," Bimo langsung menjabat tangan Opa Shehzad dengan hormat.


"Kalian ini, Udah pada dewasa kelakuan masih kaya bocah," ucap Opa Zhehzad sambil duduk di depan mereka.


Setelah suasana kembali santai, Bimo pun mengutarakan maksud kedatangannya dan mengundang serta Opa Zhehzad dan Oma Zeenat untuk menghadiri pernikahannya.

__ADS_1


•••


Waktu pernikahan Bella dan Bimo pun tiba.


Bryan menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Sementara Zia mendampingi Bella untuk bersiap untuk melakukan akad yang sebentar lagi Akan berlangsung. Tidak terlihat lagi keterpaksaan dalam raut wajah Bella. Yang ada hanya senyum merona dengan sesekali menunduk seperti tengah mengingat sesuatu yang membuat hatinya bahagia. Melihat hal itu Zia mencoba mengorek informasi dari putri sambungnya tersebut.


"Apa kamu mengingat...?"


Seketika Bella mengangkat wajahnya mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Zia.


"Tidak Aku tidak mengingat Bimo."


Zia tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Apa Aku menyebut nama Bimo?"


Bella terdiam gugup.


"Aku hanya bertanya apa kamu mengingat, dan pertanyaan ku belum selesai."


"E... M-mengingat apa Mom?"


"Saat pertama kali kamu merestui hubungan ku dengan Papah Bryan. Saat itu Aku benar-benar bahagia. Bukan karena akhirnya Aku bisa mendapatkan Om Bryan, Tapi karena Aku juga akan mendapat sahabat seusiaku,"


"Bella, Meskipun awal-awal hubungan kita kurang baik, Tapi percayalah Aku sangat menyayangi mu, Sebagai temanku, Sahabat ku, Anak sambung ku dan sekarang saat pernikahan mu tiba. Aku sudah merasa begitu sedih karena kamu akan meninggalkan kami," ucapnya sedih.


"Mommy Zia..." Bella menjadi terharu dan memeluk Zia dengan menyandarkan kepalanya di pundak Zia.


"Maafkan Aku, Selama ini Aku selalu bersikap kurang baik pada mu, padahal selama ini kamu selalu mencoba menunjukkan kasih sayang mu kepada ku, Tapi karena rasa cemburuku, Aku selalu menganggap mu seperti sebagai anak kecil yang tidak pantas menasehati ku."


"Tidak apa-apa Bella, Mungkin jika Aku ada di posisi mu, Aku juga akan bersikap seperti itu."


Bryan yang datang ingin memanggil mereka menjadi haru melihat kedua wanita yang begitu ia cintai saling berpelukan dengan tangis harunya.


"Tidak ada pemandangan yang lebih indah dari apa yang Papah lihat saat ini."


Bella dan Zia yang mendengarnya memgurai pelukannya dan menatap Bryan yang mendekati mereka.


"Ini hari yang paling membahagiakan untuk Papah." Bryan mengecup kening Bella. Kemudian mengecup kening istrinya.


"Maafin atas semua kesalahan yang telah Bella lakukan selama ini Pah."

__ADS_1


"Lupakan Sayang, Papah juga minta maaf jika Papah marah pada mu."


Bella mengangguk dan memeluk Bryan hingga makeup nya menempel di jas hitamnya.


"Apa ini Bella?" protes Bryan.


"Kamu membuat jas papa kotor, Dan makeup mu juga luntur, Padahal Papah kemari ingin memanggil mu karena mempelai pria sudah datang."


Bella hanya tertawa dan kembali memeluk Papahnya.


Bryan tersenyum dan mengecup pucuk kepala Bella.


"Tetaplah bahagia Sayang." Kemudian Bryan juga meraih tubuh Zia ke pelukannya. Ia merasa benar-benar bahagia Akhirnya putri dan istrinya bisa rukun seperti harapannya. Terlebih Bella sudah benar-benar menerima pernikahannya tanpa paksaan. Membuat Bryan merasa lega dan tidak merasa bersalah kepadanya."


Setelah cukup lama, Bryan mengurai pelukannya dan mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipi putrinya.


Tanpa menunggu perintah team makeup pun merapikan kembali makeup Bella yang luntur. Setelah itu dengan di apit Bryan dan Zia, Mereka turun menuju meja akad.


Bimo yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya calon pengantinnya langsung beranjak dari duduknya. Namun dengan cepat Zayn yang duduk di belakangnya langsung membuatnya duduk kembali.


"Duduklah, Kenapa tidak sabaran. Dia akan segera menjadi milik mu" ucap Zayn dengan menekan kedua pundak Bimo.


Dengan menuruti apa yang Zayn katakan. Bimo tidak melepaskan pandangannya pada Bella yang kini terlihat semakin cantik dengan balutan gaun pengantin muslimah lengkap dengan hijabnya sesuai yang Bimo sarankan. Hingga Bella duduk di sampingnya dan Bryan mengulurkan tangan untuk memulai akad, Bimo baru tersentak dari pandangannya.


"Silahkan di mulai," ucap Pak Penghulu.


Bryan mengangguk dan mulai mengucapkan lafal ijab untuk menikahkan sendiri putri kesayangannya.


Dengan satu kali tarikan nafas Bimo berhasil mengucapkan lafal qabul dan kata SAH dari para saksi dan undangan menandakan bahwa Mereka kini telah resmi menjadi suami istri.


Bella menjabat tangan Bimo dan mengecupnya dengan hormat. Begitupun dengan Bimo yang untuk pertama kalinya mengusap kepala dan mengecup kening Bella dengan tatapan penuh kasih.


Kemudian mereka menyelesaikan semua rangkaian prosesi yang harus mereka jalani setelah ijab.


"Selamat Bella, Bimo," ucap Zia memeluk putri sambungnya tersebut.


"Terimakasih Mommy Zia."


"Selamat Sayang, Tetaplah bahagia." lanjut Bryan.


"Terimakasih Pah."

__ADS_1


Silih berganti seluruh keluarga memberikan selamat kepada mereka dan di lanjutkan para tamu yang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai dan keluarga.


Bersambung...


__ADS_2