
Dalam memilih cincin pernikahan Bryan juga tidak mau asal-asalan.
Ia mengajak Zia mengunjungi Butik perhiasan berlian yang berdiri sejak tahun 2005 yang terkenal sebagai butik perhiasan yang selalu memberikan sesuatu yang berbeda dari yang lain.
Setelah memilih berbagai macam model yang membuat Zia lelah, Akhirnya Bryan menjatuhkan pilihannya kepada salah satu cincin yang di hiasi safir Ceylon 12 karat dengan dikelilingi oleh 14 berlian solitaire yang dilapisi oleh emas putih seharga Rp.9 Miliar. Harga yang membuat Zia melongo namun membuat Bryan terus terseyum puas bisa menemukan cincin sesuai yang ia inginkan.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Zia.
"Tidak ada yang berlebihan untuk gadis secantik dirimu." tanpa mempedulikan pelayan butik yang masih berdiri di depan mereka, Bryan mengecup bibir Zia sekilas.
"Tapi ini terlalu mahal Om,"
"Ayolah Zia, Jangan berpura-pura, Bahkan Papa Faraz selalu memberimu hadiah dengan harga yang lebih mahal dari ini, Seharusnya Om beli yang lebih mahal dari apa yang pernah Papa Faraz kasih pada mu, Tapi Om menyukai ini dan ini sangat cantik di jarimu, Lihatlah." Bryan memasangkan cincin itu dan mengangkat mengangkat lurus tangan Zia untuk memandangi cincin yang terpasang di jari manisnya.
"Bahkan jika Om memberikan cincin tembaga sekalipun Zia akan memakainya dengan senang hati."
"Apa gadis nakal ku sudah pandai merayu?" Bryan mencubit dagu Zia dengan gemas.
Zia terseyum dan menunjukan cincin yang Bryan berikan saat ulang tahunnya yang ke 18th.
"Cincin terindah yang pernah Om berikan, Tidak pernah Zia lepas meskipun kita pernah putus." Zia mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan cincin yang terpasang di jari manisnya.
"Itu cincin tanda cinta Om pada Zia, Sedangkan cincin pernikahan ini tanda Zia telah menjadi milik Om sepenuhnya." Bryan meraih pinggang Zia merapat ke tubuhnya.
"Om..." Zia melirik ke orang-orang di sekitarnya.
Bryan tersentak dan menoleh ke kanan kirinya kemudian melepaskan Zia. Setelah itu Bryan menyelesaikan pembayaran dan meninggalkan butik perhiasan kemudian melanjutkan untuk makan malam.
•••
__ADS_1
Faraz sampai ke rumah dan terkejut melihat ramainya orang yang sibuk kesana kemari dengan membawa berbagai macam perlengkapan dekorasi pelaminan. Seperti orang bingung Faraz kesana kemari mengikuti pekerja untuk menanyakan siapa yang memerintahkan untuk melakukan pekerjaan itu tanpa berdiskusi dengan nya.
"Hey! Kalian, Siapa yang mengizinkan kalian memasang ini di rumah ku tanpa seizin ku?" tanya Faraz yang mengeratkan giginya menahan kekesalannya.
Namun belum sempat para pekerja menjawab Alia sudah datang menyambut suaminya yang belakangan ini bersikap seperti saat muda dulu.
"Bukankah Mas sendiri yang mengatakan agar kita melakukan apapun yang kamu suka?" tanya Alia menahan tawanya.
"Alia, Jadi ini pekerjaan mu?"
Alia menggelengkan kepala sambil mencebikan bibirnya.
"Kalau begitu pasti ini ulah Duda karatan itu!"
"Bukan juga, Tapi ini pekerjaan team profesional yang akan melancarkan pernikahan putri kita," ucap Alia tertawa.
"Alia kamu benar-benar menentangku!" Faraz mencengkeram lengan Alia dengan kesal.
Faraz menoleh ke arah suara dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Kemudian ia neleoaskan cengkraman tangannya pada lengan Alia dan terseyum berlari kearahnya.
"Ibu, Ayah..."
Faraz memeluk Ayah dan ibunya secara bergantian, Karena kesibukan masing-masing mereka jarang sekali bertemu hingga rasa rindu itu kian terasa sangat dalam hati mereka.
"Bagaimana kabar mu Nak? Ibu sangat merindukan mu."
"Aku baik ibu, Ibu kenapa jarang sekali mengunjungi kami?"
"Apakah ibu yang harus mengunjungi mu, Sedangkan kamu sebagai anak tidak mau mengunjungi kami?" Zaanat menjewer telinga Faraz layaknya menjewer anak kecil.
__ADS_1
"Maafkan Aku ibu, Ibu tau kenapa Aku jarang datang kesana,"
"Baiklah tidak masalah, yang jelas sekarang kita sudah berkumpul di hari bahagia putrimu."
Faraz terseyum menganggukkan kepalanya.
"Kemana Anak-anak?" tanya Shehzad.
"Zayn masih masih di pesantren, Mungkin besok Dia akan pulang,
Kalau Zayd masih sibuk dengan pekerjaannya, Sedangkan Zia sibuk mengurus berbagai macam persiapan untuk pernikahannya." saut Alia terseyum.
Sedangkan yang di bicarakan tengah bercum'bu penuh gai'rah seakan tak sabar lagi menantikan pernikahan mereka yang tinggal dua hari lagi.
Dengan tangan yang terus aktif bergeliaran sesuai nalurinya lagi-lagi Bryan membuat kekasih kecilnya lupa jika ia harus segera pulang karena malam semakin larut.
Namun kali ini tidak berjalan mulus seperti malam kemarin karena ponsel Zia terus menerus berdering hingga menggangu kenikmatan yang mereka ciptakan.
Bryan melepaskan kekasih kecilnya dan membiarkannya mengangkat ponselnya.
Zia melihat layar ponselnya dan tertulis Nama Papanya di sana.
"Hallo Zia!"
Suara Faraz seakan memekakkan telinga Zia hingga Zia menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
"Zia pulang sekarang, Ini sudah larut malam, Papa gak mau menerima alasan apapun, Bilang sama kekasih duda karatan mu itu untuk mengantar mu sekarang juga! Jika tidak, Papa akan mengobrak-abrik pelaminan mu yang baru di pasang! Papa akan...."
Faraz terus mengomel seperti jalan tol yang tidak ada pemberhentiannya. Hal itu membuat Bryan menggaruk-garuk kepalanya dan beranjak dari ranjangnya bersiap mengantarkan calon istri kecilnya sesuai perintah calon Papa Mertua.
__ADS_1
Bersambung...