Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
99. kek bocah


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸKamu memang sangat berbeda dengan pertama kali aku melihat mu๐Ÿ๐Ÿ


Albar memang sengaja pulang cepat hari ini, apalagi kalau bukan karena merindukan istrinya itu. Ia hanya ingin berada di dekat zhia bahwa saat di kantor pun ia tak habisnya memikirkan gadis itu.


"Kemana dia? " Albar sudah mencari-cari zhia namun ia tak menemukan gadis itu dirumah ini.


"Ayah,, ayah,, zhia kemana? " Albar berteriak mengetuk keras pintu kamar ayahnya.


Ayah keluar dengan wajah heran "Kamu kenapa sih? "


"Zhia istriku dimana ayah? Kenapa sekeliling rumah dia juga ngk ada? "


Ayah tersenyum berpura-pura tidak tau padahal tadi ragil sudah minta izin.


"Kamu yang suaminya kenapa tidak tau? Bagaimana sih kamu ini tetap saja tidak berubah. Jangan lalai bagaimana jika istrimu itu diculik orang. " Goda ayah membuat Albar semakin panik saja.


"Ihh jangan asal ngomong deh yah, ayah mau menantu ayah diculik oleh orang lain? " Kesal Alba membuat ayah hampir saja tertawa keras.


"Ihh sudahlah biar aku cari sendiri saja, ngk guna ngomong sama ayah. " Albar menaiki tangga menuju kamar saat ayahnya hendak memberitahu nya.


"Yasudah kalau tidak mau tau hahah, cari aja sendiri. " Ayah menutup pintu sambil tertawa membayangkan betapa khawatir nya Albar.


Berkali-kali ia menghubungi nomor zhia namun tak ada sahutan dan barulah ia mendengar bunyi dering dari kamar saat ia sudah berada dikamar.


"Sial, kemana dia? HPnya juga ketinggalan. Bikin khawatir saja. " Albar tak bisa diam dan bingung harus mencari zhia entah kemana.


Sementara kini lea, zhia dan ragil sedang duduk di taman setelah lea meminta izin untuk tidak bekerja hari ini.


Zhia memegang tangan lea dan menatap kearah nya dengan tersenyum meskipun air matanya masih saja membekas disana.


"Aku ngk pernah benci sama kamu lea, bagaimana pun itu kamu tetap menjadi salah satu orang berharga. " Zhia menahan air matanya.


Lea sendiri masih saja menangis dengan rasa bersalah yang sangat kuat.


"Hiks,, lu kenapa ngk benci sama gua? Gua udah jahat sama lu. Gua egois dan bahkan udah buat lu celaka hiks,, gua sendiri benci sama diri gua yg ngk bisa gua kendaliin. "


Zhia menggeleng dengan cepat lalu memeluk lea dengan menepuk pelan punggung nya.


"Aku ngk bisa benci sama orang yang aku sayang, aku udah lupain itu, aku tau kamu pasti ngk mau kayak gitu. "


"Hiks,,, maafin gua zhia, gua udah salah dan jahat sama lu. " Lea tak hentinya menangis dan meminta maaf.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Mata aku masih sembab yah gil? " Zhia mencoba untuk menanyakan apakah ia masih terlihat seperti baru menangis.


Karena hari sudah mulai sore mereka pulang kerumah setelah ragil mengantarkan lea untuk pulang kerumah barunya yang ukurannya sangat sederhana. Keluarga nya bangkrut dan ia harus ikut bekerja untuk menghidupi keluarga nya.

__ADS_1


Belum lagi kini ayahnya lea stroke karena tiba-tiba bangkrut.


"Udah ngkpp kok. " Ragil.


Mereka berdua masuk kedalam rumah dan disana Albar sudah duduk disofa menunggu zhia pulang. Seharian ia sudah gencar mencari zhia kemana-mana. Salah sendiri ngk mau dengerin orang tua(by: papah mertua)


"Mas, kenapa pulangnya tumben secepat itu? " Zhia berjalan menghampiri Albar namun Albar dengan wajah masam bangkit lalu berjalan kekamar.


Zhia memandang kearah ragil dan ragil juga memandang kearah zhia. Mereka terlihat heran kenapa dengan Albar.


"Aku ke atas yah gil. Makasih yah hari ini. " Zhia pergi kearah kamar dengan cepat.


Sedang ragil hanya mengangguk sembari memandang zhia yang mulai hilang di balik pintu.


"Apa udah saat nya gua nyerah? Tapi kenapa hati seakan menolak untuk itu? " Batin ragil.


Zhia berjalan pelan kearah balkon mendekati Albar yang masih saja tak mau melihat kearahnya.


"Mas, mas kenapa? " Zhia mencoba untuk bertanya kembali namun Albar bahkan tak melihat kearahnya.


Zhia meremas pakaian nya dengan pelan, ia sungguh tak tau salahnya dimana. Kenapa dengan Albar yang tiba-tiba seperti ini.


"Mas,mas marah sama aku? Maaf yah mas kalau aku salah. " Zhia masih saja mencoba untuk membujuknya.


Albar masih saja diam dan memandang kearah luar. Ia masih tak mau bersuara bahkan setelah zhia sudah banyak mengajukan pertanyaan padanya.


"Mas, mas ken,, mbp. "


"Mashh mas kenapa? Jangan gini meluknya. Aku sesek banget. " Dan Albar melonggarkan sedikit pelukan nya.


"Hiks,, "


"Loh, kok masnya nangis? Ada masalah yah mas? " Zhia bingung kenapa tiba-tiba Albar menangis setelah mendiami juga memeluknya tadi?.


Albar masih saja tak menjawab dengan meneruskan tangisannya hingga baju zhia terasa basah karena air mata Albar.


Zhia hanya diam saja membiarkan Albar menangis dan menepuk punggung suaminya itu dengan pelan.


"Sst udah yah mas, aku ngk tau mas kenapa. Tapi aku yakin semua akan baik-baik aja. " Zhia mencoba untuk menghibur Albar.


"Hiks,, "


Albar masih saja menangis dipelukan zhia yang sangat khawatir karena melihat Albar menangis. Suaminya itu bukanlah laki-laki yang mudah menangis, tapi kenapa sekarang ia menangis?.


"Aku khawatir sama kamu, kamu pergi ngk ada kabar, HP kamu tinggal dan aku ngk tau mau nyari kamu kemana, aku takut kamu ninggalin aku hiks,, "


Zhia hampir saja tertawa saat mendengar itu dari Albar suaminya itu. Kenapa dia bisa selucu itu yah? Kemana zhia akan pergi saat hatinya sudah dikunci oleh Albar.

__ADS_1


Zhia tersenyum mencoba untuk melepaskan pelukan nya agar ia bisa melihat wajah lucu suaminya namun Albar tak mengizinkan.


"Mas lepas dulu dong liat aku. "


"Ngk mau, mas malu karena baru menangis tadi. " Albar masih saja memeluk pinggang zhia.


Zhia berjalan dengan pelan masih dengan posisi memeluk Albar, ia tuntun tubuh besar dan gagah itu untuk duduk diatas kasur.


Ia melepaskan paksa pelukan itu namun masih terkesan halus, ia menatap wajah suaminya yang baru saja menangis itu. Mata memerah itu sungguh sangat imut dimata zhia.


"Aku ngk bakal pergi mas, kenapa mas berpikir aku akan pergi? " Zhia memegang tangan suaminya itu.


Albar sedikit cemberut seperti seorang bocah yang sedang kesal"Kamu sih pergi ngk izin, mana HP ditinggal aku kan jadi khawatir sayang. "Albar.


" Maaf yah mas, tadi aku senang banget karena tau dimana lea jadi lupa minta izin. "Zhia mencium tangan suaminya itu.


" Lain kali kalau mau kemana-mana izin dulu yah sayang, mas seperti orang gila nyariin kamu tadi. "


"Maaf yah mas. " Zhia merasa bersalah karena sudah membuat suaminya itu khawatir.


Tiba-tiba saja Albar menindih tubuh itu hingga zhia kaget bukan main.


"Loh mas, mas kenapa? "


"Kamu mas hukum karena sudah berani keluar dengan ragil tadi. "


Zhia menaikkan alis karena heran"Memangnya kenapa mas? Lebih baik sama ragil dari pada yang lain. Ragil kan udah aku kenal dari dulu. "Zhia mencoba untuk menjelaskan namun Albar tetap tak mau tau.


" Lain kali jangan mau keluar dengan siapapun selain sama mas. "


"Loh tapmmhp. "


Albar sudah lebih dulu mencium bibir mungil itu.


"Ngk ada tapi lagi, kamu hanya boleh dekat dengan ku seorang. "


"Ihh bukan gitu juga mas, aku kan cuma mphhh. "


Ragil Lagi-lagi tak membiarkan zhia berbicara dengan membungkam bibir itu lalu mel*matnya pelan.


"Mas ngk nerima penolakan sayang atau malam ini kamu mas nikmati. "


Zhia langsung diam, Albar sendiri tersenyum karena sudah punya senjata ampuh untuk mengendalikan istrinya itu.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Duilahh kirain mau marah eh rupanya si abang Albar khawatir gaes๐Ÿ˜„

__ADS_1


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2