
🍁🍁Bisakah aku sekali saja bersandar disana saat akhir sudah tak sanggup untuk bertahan 🍁🍁
Seperti saat itu aku hanya diam saja dan menangis meluapkan semua rasa sedih juga piluku didalam ruang bahasa dan barulah aku keluar saat semua siswa sudah pulang. Kembali ke kelas untuk mengambil tas sekolah ku dan lagi-lagi barang-barang ku sudah berserakan dimana-mana.
Aku menghela nafas panjang. Air mataku sudah hampir kering dan belum lagi mataku sudah terasa sangat bengkak karena sejak tadi menangis.
Aku berjalan keluar kelas dengan enggan. Mungkin hari ini juga aku masih belum bisa ke tempat mbak Nana untuk pamit. Ia akan khawatir jika melihat keadaan ku yang hancur ini.
Tin,, tin.
Aku kaget saat kulihat mas Albar sudah ada di depan gerbang dengan melambaikan tangannya kearahku. Kenapa dia ada disini? Bukankah hari ini ia ada kerja yah?.
Aku berjalan pelan menuju tempat ia memarkirkan mobil nya dan ia juga turun dari mobil. Aku sebenarnya was-was apakah masih ada siswa yang tersisa? Bagaimana jika ada yg melihat mas Albar datang. Bisa-bisa makin panjang masalahku.
"Ada apa tuan? Apakah ada sesuatu yang harus saya lakukan? " Aku bertanya.
Bukannya menjawab ia malah melihat heran kearah ku dengan wajah khawatir nya.
"Kenapa dengan mu? Kamu sehabis menangis yah? Ada yang menganggu disini? " Tanya mas Albar dengan penuh ke khawatir an.
Aku sampai kaget kenapa ia tumben sekali sekhawatir ini? Astaga aku lupa ternyata mataku masih bengkak. Aduhh ginana dong.
"Tidak ada tuan, tadi kami menonton bersama dikelas dan kisahnya sangat menyedihkan kami semua menangis dan jadilah mata saya bengkak begini. " Aku mencoba untuk berbohong karena tak ingin mas Albar tau apa yang sedang kualami. Bukan karena takut ia akan khwatir tapi aku rasa ia tak perlu tau karena kami tidak sedekat itu.
"Masa sih gara-gara nonton? Bengkak banget. "Mas Albar masuk kedalam mobil laku kuikuti karena mendapat perintah nya.
" Aapa ada urusan penting tuan? "Tanyaku dengan pelan.
" Tadi ayah menyuruh ku untuk membawa mu jalan-jalan. Kamu tidak lupa kan kalau saya adalah anak yang berbakti? Yasudah kita turuti sajalah apa yang ayah perintah kan. "
Aku hanya mengangguk saja karena hari ini aku juga sangat butuh refreshing. Tenaga kuda sudah habis karena menahan sakit hati seharian.
"Aku tidak percaya telah berbohong dan menjual nama ayahku sendiri, kenapa aku bisa melakukan hal bodoh ini untuk bisa bersama dengan nya? " Batin Albar.
Setelah percakapan itu kami sama-sama diam. Aku merenung melihat kearah luar sedang mas Albar fokus mengendarai mobilnya.
"Bagaimana disekolah? " Tiba-tiba saja mas Albar bertanya tentang sekolah. Aku lagi-lagi teringat dengan semua perlakuan mereka padaku. Aku tak mungkin memberitahu mas Albar dengan semua yang sudah kulakui ini. Apalagi mengingat saat itu ia pernah berkata bahwa jangan sampai melibatkan ia dengan urusan ku sendiri.
__ADS_1
"Huh, biasa saja tuan. " Aku meremas rok ku menahan sakit karena aku sama sekali sudah tak sanggup untuk datang kesana.
Mas Albar sangat berbeda hari ini. Ia sejak tadi berbicara banyak hal dan bercerita dengan senyuman yang sangat kembang hingga kami sudah sampai di tempat tujuan yang mas Albar ingin tuju.
"Loh kenapa kita disini tuan? Apa kita masih punya acara keluarga lagi? " Tanyaku bingung saat mas Albar membawa ku ke toko pakaian yang kami kunjungi dulu bahkan dengan ragil pun aku pernah kesini.
"Kenapa harus ada acara keluarga dulu baru datang kesini? Sudahlah mari masuk. " Mas Albar menarik tanganku dengan lembut. Biasanya ia akan menarik nya dengan kasar.
"Selamat datang tuan. Ada yg bisa kami bantu?" Pelayan di tempat itu tersenyum dengan ramah.
"Keluarkan semua baju yang paling bagus kualitas nya dan berikan kepada istri saya. "
Deg,
Kenapa tiba-tiba sekali dia mengakui ku sebagai istrinya? Padahal kan tidak ada anggota keluarga di tempat ini. Kenapa sih dengan mas Albar.
"Baik tuan, mari nyonya ikut saya. "
Aku melihat kearah mas Albar dan ia mengangguk dengan cepat "Pergilah ikut dengan nya. " Lagi-lagi aku kaget saat ia tersenyum mengatakan itu. Kenapa sih dengan nya? Bikin merinding saja.
Pelayan ditoko itu memberikan banyak sekali baju kepadaku dan modelnya sangat cantik semuanya. Tak ada satupun yang tidak bagus. Pasti harganya sangat mahal sekali.
"Tunggu sebentar yah mbak. " Aku memberikan seluruh baju itu kepada pelayan.
"Bagaimana? Tidak ada baju yang cocok yah? " Tanya mas Albar saat melihat aku datang.
"Eughh begini tuan, sebenarnya tuan membelikan baju untuk saya dalam rangka apa yah? "
Ia terlihat sedikit berpikir " Ayah yang menyuruh saya untuk membelinya. Memangnya kenapa? Tidak ada yang cocok yah? Padahal tempat ini terkenal dengan baju yang bagus. Kita cari tempat lain saja kalau begitu. "
"Maafkan Albar ayah karena sudah menjual namamu untuk kesekian kalinya. " Albar membatin.
"Bukan tuan, semua najua yang ada disini sangat bagus sekali. Tapi,, saya rasa tuan tidak perlu membelinya untuk saya. Harganya sangat mahal dan saya tidak pantas untuk menerima nya."
"Kenapa aku malah semakin jatuh hati saat melihat kesederhanaan nya ini? Biasanya Naya akan meminta yang lebih mahal seperti rumah dan mobil. Sedangkan ia, hanya baju saja sudah membuat ia sungkan. " Batin Albar.
"Kamu mau membantah perintah ayah? Yasudah kalau kamu ingin berdosa. Jangan seret saya yah. " Mas Albar.
__ADS_1
Melihat ekspresi nya aku sungguh jadi sungkan untuk menolaknya. Tapi baju mahal itu terlalu mahal untuk ku.
"Baiklah tuan, tapi hanya satu saja bagaimana tuan? "
"Ayah memerintahkan saya untuk membelinya sebanyak-banyaknya. "
"Bagaimana kalau tiga saja tuan? Harganya bukan main mahalnya saya jadi tidak enak tuan. Ayah sudah banyak ku repotkan. "
"Baiklah kalau itu maumu, cepatlah pilih baju mana yg akan kamu pilih. " Mas Albar duduk kembali.
Aku pun memasuki ruangan khusus ganti dan memakai baju berwarna peach tepat di lutut. Polos namum terkesan sangat mewah.
"Tuan? Bagaimana dengan baju yang ini? Ini adalah harga yang lumayan dibawah baju yang lainnya. " Aku memang sengaja mencari harga yang paling rendah.
"Sial, kenapa jantung ku semakin tak karuan saja? Gadis ini benar-benar sudah membuat ku tak bisa berpaling dari menatap nya. " Batin Albar.
"Hemmm terserah saja, kamu ambil saja mana yang menurutmu nyaman. " Mas Albar dengan mata masih saja melihat kearahku.
"Eh jangan ganti bajumu, pelayan tolong bungkus baju seragam nya yah. Karena kami masih punya tujuan lain setelah ini. " Aku kaget saat mas Albar mengatakan itu.
"Tuan, kita mau kemana setelah ini? " Tanya ku bingung.
"Setelah membeli baju ayah menyuruh saya untuk membawa mu jalan-jalan. Kamu tau sendiri kan kalau perintah ayah itu harus kita turuti. " Mas Albar pasti sangat kesal karena ayah menyuruhnya membawa ku seperti ini.
"Maaf yah tuan, saya sudah membuat tuan jadi repot seperti ini." Aku merasa bersalah sekali.
"Yatuhan kenapa dia terlihat semakin sempurna di mata ku? Wajah imut itu membuat ku tidak tahan. " Batin Albar tak karuan.
"Sudahlah tidak ada yang merasa direpotkan. Itung-itung saya sedang berbakti kepada ayah saya. "
"Berbakti dengkul mu, " Batin Albar merasa bodoh dengan dirinya.
🍁🍁bersambung 🍁🍁
Albar ih ngakak banget 🤣🤣 ganteng doang nge-gebet cewek pake nama bapak🤣🤣
Jangan lupa yah like komen dan vote😍
__ADS_1
Pai pai🍁