
๐๐Tanpa tau mengapa, hidup ku tidak lebih baik dari yang dulu ๐๐
ย ย Sejak tadi aku tidak ada hentinya menghubungi nomor Lea, ia tak mau mengangkat nya sama sekali, padahal nomornya aktif dan panggilan nya juga masuk.
Aku seharusnya mengejarnya saja tadi, kalau bukan karena Ragil yang menahanku aku sudah bisa mengejar Lea. Kulirik buku yang saat ini ada di genggaman ku. Buku yang Lea jatuhkan saat melihat hal yang tak seharusnya terjadi tadi.
Siapa sangka ragil malah memiliki perasaan pada gadis seperti diriku ini, aku sama sekali sangat jauh dari kriteria yang cocok untuk seorang Ragil. Dan sudah pasti yang paling cocok untuk Ragil adalah Lea.
Bagaimana ini? Lea bahkan tak mau menerima panggilan ku. Bagaimana caraku menjelaskan nya jika ia bahkan tak mau mengangkat nya? Aku ingin mengatakan kalau aku juga tidak tau dengan kejadian tadi. Ragil juga. Aku tak habis pikir kenapa dia bisa menyukai gadis kampung dan tidak jelas seperti diriku ini?.
"Akhh, bagaimana ini? Kenapa semuanya jadi seperti ini? " Aku merasa frustasi sekali dengan kejadian hari ini.
Bagaimana aku tidak pusing, belum juga lama Lea mengaku menyukai ragil dan datang lah ragil menyatakan suka padaku dan Lea melihat itu? Yatuhan kenapa bisa se berantakan ini? Aku tak mau kehilangan mereka berdua.
"Zhia, coba antarkan yah pesanan ini kemeja pojok. " Mbak nana tersenyum kearah ku dan aku pun menurut mengantarkan pesanan itu.
Namun belum juga sampai aku malah terjatuh hingga pesanan itu juga ikut tumpah, untung saja tidak pecah.
Mbak nana langsung datang dengan panik. Aku jadi ikut panik karena kandungan Mbak nana itu, bagaimana dia bisa berlari kearah ku saat ia sedang hamil begitu?.
"Kamu tidak apa-apa kan sayang? " Mbak nana terlihat sangat khawatir dengan ku. Aku jadi terharu karena nya. Seharusnya jika seorang bos melihat pelayanan nya bersikap ceroboh sepertiku mereka tidak akan segan-segan untuk memecatnya. Namun, Mbak Nana sangat berbeda. Ia langsung menanyakan bagaimana keadaan ku. Yatuhan semoga selalu kau berkahi orang orang baik seperti Mbak Nana.
Aku dengan cepat menggeleng "Aku baik-baik saja Mbak, maaf yah Mbak aku ceroboh lagi. Ini bahkan bukan pertama kalinya. " Aku merasa sangat bersalah karena selalu saja bersikap ceroboh.
Ini karena aku terlalu banyak memikirkan sesuatu hingga tidak fokus. Banyak sekali hal yang mengganjal di otakku sejak tadi. Hingga bekerja pun aku tidak fokus.
Mbak Nana masih bisa tersenyum kearah ku"Tidak apa-apa namanya juga manusia sayang, ada saatnya melakukan kesalahan. Mbak mengerti dengan itu. "
16.35pm.
Aku berjalan lesu menuju rumah, pikiranku sangat kacau saat ini. Memikirkan hidupku yang sangat tidak jelas ini saja sudah membuat ku pusing tujuh keliling belum lagi ditambah dengan Ragil juga Lea. Aku sungguh serasa ingin mati saja karena tak tau harus bagaimana lagi.
"Huh, aku harus bagaimana setelah ini? Kenapa semua jadi membingungkan begini? "
__ADS_1
Perlahan kubuka pintu dan langsung kaget karena mas Albar sudah disofa duduk dengan bersedekap dada sembari melihat kearah ku.
"Kenapa baru pulang sekarang? Setau saya sekolah mu itu memiliki waktu pulang sekitar jam 14 lewat dan sekarang sudah hampir jam 17 menjelang maghrib. Kemana saja kamu? " Mas Albar bertanya sembari berdiri melihat kearahku dengan wajah datarnya itu.
Bagaimana ini? Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku baru pulang kerja.
"Maaf tuan, kami baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok. " Tidak lupa ku tunjukkan buku yang saat ini ada ditangan ku.
Mas Albar awalnya masih menatap curiga kearahku namun ia hanya diam saja.
"Awas kalau saya sampai tau kamu berbohong dan ternyata malah keluyuran. Habis kamu. " Mas Albar duduk lagi.
"Cepat ganti bajumu dan langsung datang kesini. " Mas Albar tiba-tiba.
"Se,, sekarang tuan? " Tanyaku bingung.
"Bukan, tahun lalu. Yah sekarang dungu. " Ia terlihat sangat kesal hingga aku langsung panik.
Buru-buru aku menaiki tangga dan berjalan kearah kamar untuk menukar pakaian ku. Aku tak sempat melihat baju mana yang mulai, lagian tidak terlalu banyak yang harus dipilih karena Mas Albar hanya memberikan ku beberapa pakaian saja. Aku pun asal memakai pakaian yang kuambil sembarangan.
Mas Albar langsung menarik tanganku bahkan ia tak melihat kearah ku sama sekali. Mau kemana dia membawa ku?.
"Kita mau kemana tuan? " Tanyaku saat Mas Albar sudah menghentikan langkah kami di dekat pintu mobilnya.
Seperti biasa, bibirnya sangat sulit bahkan untuk sekedar menjawab. Apa susahnya sih menjawab saja?.
"Cepat masuk! " Ia bahkan memaksa ku masuk kedalam mobilnya hingga aku sedikit terbentur pintu.
Mobil ia jalankan melewati pagar rumah dan sejak tadi ia hanya diam saja. Aishh aku paling tidak suka jika diajak pergi tapi tidak tau betul kemana tujuan yang sebenarnya ia membawaku. Bagaimana kalau tiba-tiba ia membawaku ketempat lain dan menjual ku juga? Tuh kan, aku emang suka parnoan orangnya.
"Tu,, tuan, kita mau kemana sebenarnya? "
"Ck, bisa kan kamu diam saja. Nanti juga tau. " Ia langsung fokus menyetir kembali.
__ADS_1
Aku hanya diam saja setelah mendapatkan balasan sarkastis darinya itu. Bisa-bisa ia akan lebih marah jika aku bertanya lebih banyak hal lagi.
Duh, rasa penasaran ku kembali datang. Kenapa sih orang orang sangat suka membuat orang lain merasa penasaran. Benar-benar tidak nyaman sekali saat kita sudah ingin tau tapi tidak bisa tau.
Ku lihat jalan raya yang sangat ramai sekali, memang ramai tapi kenapa perasaan ku terasa sangat hampa sekali?.
Bagaimana yah hidup ku selanjutnya? Banyak peryataan yang sampai kini masih menjelma dalam diriku. Bagaimana selanjutnya hidup ku ini? Apakah selamanya aku akan hidup tidak jelas seperti ini? Atau kah apakah aku masih memiliki kesmpatan menghirup udara bebas layaknya orang orang banyak?.
Ku lirik sekilas kearah mas Albar yang sejak tadi hanya diam saja dan fokus menyetir mobilnya. Wajahnya terlihat sangat lelah, kemana sebenarnya ia akan membawa ku? Aihh kalau kutanya nanti ia malah akan marah besar padaku. Lebih baik aku diam saja menunggu sampai mobil ini berhenti.
Tiba-tiba ponsel mas Albar berdering hingga aku sedikit terkejut.
"Angkatlah." Mas Albar masih saja fokus menyetir.
"Saya tuan? " Bingung ku.
"Bukan, tuh setan disamping mu. " Aku langsung merinding melihat kesamping ku namun tak ada siapapun.
"Yah kamulah, ck cepat angkat lalu arahkan ke telinga saya. " Mas Albar.
Buru-buru ku angkat dan meletakkan ponsel itu didekat telinga Mas Albar.
"Sayang, kamu dimana sekarang? Aku kangen nih kok kamu ngk datang kesini sih? " Kudengar suara Mbak Naya dengan manja dari arah seberang telpon.
Ooh jadi mereka belum pernah bertemu yah? Kenapa yah? Mas Albar juga terlihat sangat kesal sekali sekarang. Apa mereka bertengkar yah? Ah sudahlah zhia itu bukan urusan mu. Jangan melewati bayasan!.
"Aku lagi sibuk, lagi dijalan. Sudah dulu yah. " Mas Albar menyuruhku mematikan sambungan telepon dan aku langsung menurut saja.
Setelah itu Mas Albar lagi-lagi fokus menyetir seolah tak peduli dengan Mbak Naya yang mengatakan sedang merindukan dia itu. Kenapa yah dengan Mas Albar? Apa mereka bertengkar yah? Ck kenapa sih?.
Sudahlah zhia jangan kepo dan jangan peduli!!.
๐๐Bersambung ๐๐
__ADS_1
Jangan lupa yah like komen dan vote๐
Pai pai say๐