
๐๐Jangan terlalu sering bertemu, karena akan ada rindu yang menyesakkan saat tak lagi bisa ๐๐
ย ย ย Sudah banyak sekali baju yang kucoba dan semuanya adalah baju-baju bagus namun, tak ada satupun yang mas Albar suka. Katanya semua buruk saat aku memakainya. Apa aku seburuk itu yah dipandangan nya? Yatuhan aku sudah mulai lelah menukar ganti baju baju ini.
Perlahan tirai kubuka dan lagi-lagi mas Albar melihat kearah ku dengan mata tak berkedip. Kenapa reaksinya seolah mengatakan kalau aku sangat pantas dengan pakaian ini namun, bibirnya berkata lain. Kenapa sih dengan mas Albar?.
"Bagaimana tuan? " Aku sudah mulai jengkel karena mas Albar tak memikirkan betapa melelahkan melakukan hal ini berulang ulang.
Lihat saja kalau masih bilang tidak cocok aku tak akan diam lagi, dia pikir tidak capek apa.
"Hmmm sepertinya kamu memang yang jadi masalah nya, baju itu sangat cantik namun setelah kamu memakainya terlihat jadi buruk. Tapi saya sudah lelah menunggu mu, jadi kita pilih baju yang pertama kali kamu coba tadi saja, " Ucap mas Albar dengan tiba-tiba.
Yatuhan ingin ku bom saja mulutnya itu, lalu apa gunanya aku sejak tadi mencoba banyak pakaian hingga pegal-pegal begini? Kalau ia hanya ingin dress yang pertama tadi kenapa malah repot repot menyuruhku sih? Demi apa mas Albar menyebalkan sekali.
"Tolong bungkus dress yang pertama tadi Lengk6de sepatu, tas juga aksesoris lainnya. " Mas Albar bangkit dan aku pun menutup gorden dengan kesal menukar pakaian ku kembali.
"Dasar laki-laki gila, kalau sejak awalnya maunya yg pertama kenapa repot menyuruh ku ini itu. Ihhh ngeselin banget sih, " Ucapku berdumal kesal dengan memakai pakaian ku kembali.
"Ini nona, " Ucap pegawai itu memberikan bungkusan berupa tas kearah ku dan dengan tersenyum kuraih itu darinya.
Mas Albar menarik tanganku lagi-lagi dengan kecepatan yang sangat susah untuk aku imbangi bahkan kami belum berpamitan dengan mbak pegawai itu.
"Tuan, tolong jangan terlalu cepat begini tuan. Saya tidak bisa mengejar tuan, " Ucapku pelan namun apa peduli mas Albar dengan ku? Ia bahkan tak mendengarkan nya.
"Kenapa kita tiba-tiba membeli semua ini tuan? " Tanyaku bingung saat sudah sampai di dekat mobil.
Mas Albar hanya diam saja tak menjawab. Kenapa sih itu bibirnya sangat susah untuk langsung menjawab? Yasudah kalau punya mulut tidak digunakan lebih baik bisu saja sekalian.
"Tuan, kenapa kita membeli pakaian ini?"Aku tak akan berhenti bertanya sampai kamu menjawab nya mas.
" Ck, kenapa banyak sekali sih pertanyaan mu? Nanti kamu juga tau. Bisa kan mulutmu itu,,, "
Kriuk,
Saat mas Albar sedang berbicara banyak hal mengomel seperti biasanya tiba-tiba saja perutku berbunyi karena lapar. Maklum sejak pulang sekolah tadi aku belum pernah makan walaupun sedikit, tadi saja saat sampai dirumah mas Albar langsung menyuruh ku untuk mengganti baju dan membawa ku kesini. Wajar saja jika cacing diperut ku berdemo meminta jatah.
__ADS_1
Mas Albar melihat kesal kearahku, karena ucapannya langsung terpotong karena bunyi dari perutku itu.
"Maaf tuan, silahkan lanjutkan kembali. " Aku sedikit tersenyum karena merasa lucu melihat wajah kesal mas Albar.
"Sudah tidak butuh lagi, cepat masuk kedalam. " Mas Albar memaksaku untuk masuk kedalam mobil. Duhh kenapa kasar sekali sih jadi laki-laki? Kenapa mbak Naya mau sih sama mas Albar? Ah iya mbak Naya kan juga kasar. Klopp banget kan mereka berdua.
Awalnya kukira mas Albar akan membawa ku pulang kerumah, tapi ternyata kami berhenti tepat di depan sebuah restoran.
"Kita ngapain kesini tuan? "
"Ck, Lagi-lagi kamu melakukan itu. Kita mau ngemis kesini yah mau makan lah dungu."
Wah, kenapa yah tiba-tiba mas Albar mau membawa ku makan kesini? Apa ia sengaja membawa ku kesini lalu menyuruhku membayarnya? Waduhh bisa gawat nih. Kan semua uang ku sudah ku bayar untuk uang sekolah.
Buru-buru ku chek uang di saku ku dan kalian tau berapa banyak yang kupunya? Hanya Rp 25.000 dapat apa direstoran mahal begini? Tusuk gigi saja mungkin tak akan cukup.
"Tuan, kita tidak usah makan disini yah. Saya tidak punya uang. " Aku sedikit bingung dengan mas Albar yang terus saja berjalan tak memperdulikan ku.
"Bodoh sekali, siapa juga yang menyuruhnya untuk membayar? " Batin Albar.
"Cepatlah duduk, jangan banyak tingkah kamu diam saja dan makan. " Mas Albar.
Bagaimana bisa aku makan di tempat seperti ini saat aku tidak punya uang sama sekali, duhh kentang bisa apa?.
Tiba-tiba pesanan yang mas Albar pesan sudah tiba berupa makanan mewah dan enak-enak semua. Yatuhan ini kan makanan enak semua. Pasti sangat enak sekali. Tapi aku mana berani makan saat aku sendiri tak punya uang.
"Makanlah! " Mas Albar menyuruh ku untuk makan dan dia juga sudah mulai makan.
Aku masih saja diam tak berani makan, mas Albar melihat heran kearahku.
"Kenapa diam saja, bukankah perutmu sejak tadi sudah berdemo? Jangan bilang kamu akan mengatakan kalau kamu belum lapar seperti biasanya? Cepat makan. Ini perintah, " Ucap mas Albar dengan tegas.
Baiklah! Karena ini perintah makan aku tidak memiliki pilihan lain selain menurutinya, perintah seperti ini siapa yang bisa menolak nya heheh.
Ku lihat mas Albar masih saja fokus makan dan ia terlihat sangat kalem dan juga berwibawa saat sedang makan sekalipun. Caranya makan dan juga mengambil makanan sangat anggun juga terhormat. Ku lihat diriku yang sangat memalukan ini. Kedua tangan ku memegang sendok dan cara makanku sangat tidak pantas berada di meja yang sama dengan mas Albar.
__ADS_1
Ku coba memotong daging yang ada di piring itu menirukan mas Albar yang juga melakukan nya. Ia bisa dengan mudah dan juga rapi tapi kenapa daging yang ada di piring ku sangat susah untuk ku potong. Apa pisau ku kurang tajam yah? Aishhh gimana sih kok ngasih pisau ngk tajam gini.
Tuk,
Tuk,
Suara pisau yang beradu dengan piring itu terdengar sangat jelas. Banyak sekali pasang mata yang melihat kearah kami. Aihh aku tak perduli, kesal sekali rasanya karena daging ini sungguh sangat susah untuk dibelah.
Mas Albar melihat kearahku dengan pelan, ia masih diam saja memperhatikan ku yang sedang sibuk memotong daging itu dengan susah payah.
"Lihatlah si dungu ini, kenapa terlihat menggemaskan sekali hanya saat sedang memotong daging saja, ia terlihat sangat ceroboh namun terlihat manis. " Batin Albar
Namun ia langsung menggeleng karena bingung dengan isi pikirannya sendiri.
"Ck, memotong daging saja tidak bisa. Ini ambil punya saya," Ucap mas Albar mengarahkan piring berisi daging yang sudah ia potong dan mengambil daging ku yang sudah berbentuk aneh karena kucoba memotong nya tadi.
"Heheh Terima kasih tuan. " Buru-buru kumakan makanan itu dengan cepat.
"Uhuk,, uhuk,,. " Karena terlalu cepat kumakan aku langsung tersedak karena buru-buru.
Lagi-lagi banyak sekali pasang mata melihat kearahku, apa aku terlalu berisik yah? Kenapa mas Albar diam saja saat orang lain melihat sembari menertawakan ku juga mas Albar. Yatuhan, zhia kamu kenapa tidak sadar sejak tadi sudah mempermalukan mas Albar.
Aku pun mulai mencoba bersikap biasa saja, aku tak mau mempermalukan mas Albar lagi. Lagian kenapa kali ini ia benar-benar diam saja. Tidak mungkin ia tak sadar saat ini ia sudah dipermalukan olehku.
"Makanlah pelan, tidak akan ada yg merebut makanan ini darimu. " Mas Albar lanjut makan.
Aku hanya diam saja melanjutkan makan dengan mencoba untuk bersikap biasa saja. Sungguh bodohnya dirimu zhia. Kenapa bersikap memalukan sejak tadi.
๐๐bersambung ๐๐
Hmmm ada samting nih sama Albar. Kenapa tiba-tiba kalem gitu?
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
Pai pai say๐
__ADS_1