
🍁🍁Tolong jangan paksa aku untuk mengerti hal yang sulit tuk aku fahami, karena tak semua hal itu semudah yang kau pikirkan 🍁🍁
Mas Albar tiba-tiba menarik tubuhku yang berukuran lebih kecil darinya hingga dengan mudah ia tarik dan ia hempaskan keatas tempat tidur.
Nafas mas Albar terdengar tersenggal dan tak stabil. Aku sangat takut saat melihat sorotan kilat yang tak pernah kutangkap dari ekspresi mas Albar selama ini. Baru kali ini aku melihat ekspresi seperti ini. Wajahnya seolah menginginkan sesuatu.
"Tuan, lepaskan saya. Sangat tidak nyaman diposisi seperti ini? " Aku masih saja menahan tubuh mas Albar yang hendak menindih tubuhku.
Matanya tak hentinya menatap kearah wajahku, sorotan matanya sangat sendu namun terasa tajam sekilas. Apa sih? Lagian baru beberapa saat ia keluar tadi sudah langsung masuk aja terus main dorong dorong. Mana berat banget lagi.
"Akhh, " Mas Albar menimpa tubuhku hingga kini benar-benar ada dibawah tindihan nya.
"Iss tuan, kenapa sih dengan tuan? Saya tidak nyaman dengan posisi ini. Bisakah tuan segera bangkit? "
Mas Albar seolah menuli saat ini, matanya tak hentinya menatap kearahku. Yatuhan aku sungguh takut sekali dengan tatapan nya itu. Seolah ia akan menerkam ku saat ini.
Wajah Mas Albar semakin dekat dengan ku, aku tau apa yang hendak ia lakukan itu. Dia pikir aku ini gadis murahan yg bisa ia perlakuan seperti itu dengan mudah apa?.
Kucoba untuk mendorong Mas Albar dari atas tubuhku namun sangat susah untuk kulakukan. Mana wajahnya kini sudah sangat dekat dengan ku. Aku tak mau aku tak mau.
Tuk,
"Akhhh." Mas astan langsung bangkit berdiri sembari memekik menahan sakit saat aku dengan keras menendang otong nya itu.
Biar tau rasa kamu manusia batu! Aku tak akan semudah itu untuk kamu cium cium.
Aku langsung bangkit dan menarik baju kaos Mas Albar yang ada didalam lemari dan memasuki kamar mandi untuk menukar pakaian ku.
Jantung ku berdetak kencang karena panik sekali tadi, apa Mas Albar sudah gila yah? Kenapa melakukan itu saat ia sedang memiliki kekasih? Dia pikir aku se murahan itu?.
Albar masih merasa sedikit sakit diarea otong nya yang sempat kenapa tendangan si Madun tadi, ternyata zhia tidak main-main yah soal tendangan.
"Kenapa dengan ku? Apa yang sedang kulakukan tadi? Kamu sudah tidak waras Albar. Bisa-bisanya kamu seperti itu pada gadis dungu itu. " Gumam Albar kesal.
Ia tak habis pikir bisa hampir lepas kendali hanya karena melihat nya memakai pakaian itu. Bagaimana aku melihat wajahnya mulai sekarang, sangat memalukan sekali!! Aku seolah sedang menginginkan nya. Padahal aku sendiri tidak sadar dengan yang kulakukan tadi.
"Loh, kemana menantuku? " Ayah yang sedang duduk disofa bertanya saat melihat Albar turun sendirian dari arah kamar.
__ADS_1
"Sedang dikamar yah, sebentar lagi akan keluar. " Albar memilih duduk di depan televisi bergabung dengan ayahnya.
"Ngomong-ngomong sudah pernah masuk gawang belum? " Ayah tersenyum smirk saat menanyakan itu kepada putra bungsunya itu.
Albar mengeryit heran kearah ayahnya "Apaan sih yah? Suka ngk bener mulutnya kalo ngomong. Itu kan masalah pribadi mana mungkin diumbar-umbar.kepo banget sih jadi orang," Kesal Albar.
"Yaelahh sensi banget, keliatan banget belum pernah wkwkkw. Makanya jangan gaya doang sok kecakepan. Sok keren padahal yg dibawah masih anak bawang hahaha masih kalah jauh dong sama ayah saat muda dulu. "
Seperti biasa, mereka berdua tak akan pernah bisa tenang saat bertemu. Dan itulah yang membuat Ayah sangat merindukan Albar. Ia paling suka menggoda Putra nya itu. Melihat wajah kesal sang putra akan membuat ia tertawa.
"Ayah dulu pas selesai nikah malamnya langsung masuk gawang berkali-kali, mamah kamu langsung nyerah saking hebatnya ayahmu ini. " Ayah berbangga diri dengan sedikit membusungkan dadanya.
"Emang Ayah tau gimana dengan Albar? Albar bahkan lebih hebat dibanding Ayah. Hanya saja Albar tak mau bercerita, biar Albar simpan sendiri saja. Bukan untuk dipamerkan. " Albar tak mau kalah. Ia paling kesal kalau kalah saat melawan ayahnya.
"Mana mungkin kamu cerita, pernah aja belum hahah. Orang yang tidak berpengalaman seperti mu mau cerita apa coba? " Ayah tertawa.
"Au ah ngomong sama Ayah bikin naik tensi lama-lama. Ngk asik. " Albar bangkit dan ditertawai oleh ayahnya yang seperti musuh bebuyutan tapi saling menyayangi.
"Dasar anak nakal, masih saja tidak bisa merubah sikap arrogant nya. "
"Eh menantuku, kesini sebentar. " Ayah tiba-tiba memanggilku dengan pelan.
"Mas Albar mana Ayah? " Tanyaku berbasa-basi. Sebenarnya sih aku sangat tidak ingin mencarinya apalagi mengingat kejadian tadi. Akhh sangat melakukan sekali untuk diingat. Namun, rasanya masih terasa kesal dengan Mas Albar.
"Lagi keluar sebentar, kita cerita cerita dulu menantu. " Aku melihat sekilas kearah ayah.
Ayah bangkit sebentar dan kembali dengan sebuah album foto yang ia raih dari dalam lemari.
"Kamu terlihat sangat mirip dengan almarhumah mamahnya Albar. " Ayah tersenyum lalu menunjukkan sebuah foto seorang wanita cantik yang sedang tersenyum.
Aku sampai tersenyum juga saat melihat senyum menawan dari mamahnya Albar. Pantas saja mas Albar sangat tampan ternyata dia kedua orang tuanya merupakan suatu manusia berwajah unggul.
"Sangat cantik yah Ayah, " Ucapku seraya tersenyum lembut dan Ayah langsung mengangguk.
"Yah begitulah, Ayah mana sembarangan memilih pasangan hehe. " Aku tersenyum. Ayah memang sangat ramah terlihat dari ekspresi nya sangat tulus tanpa ada yg dibuat-buat.
"Kalau terkadang Albar kelakuannya kurangajar dan terlihat arrogant Ayah harap kamu maklum yah, dia sudah terbiasa hidup seperti itu, sejak kecil ia tak pernah merasakan kehangatan seorang ibu hingga hatinya membeku. Saat itu Ayah juga sedang sibuk-sibuknya mencari nafkah untuk menghidupi nya dan kedua kakaknya." Ayah bercerita dengan penuh kenangan.
__ADS_1
Ternyata begitu yah asal usul terbentuknya jiwa batu pada diri mas Albar. Yahh kadang sih suka bikin jengkel dan ngk bisa dibuat sabar lagi.
"Menantuku, sebenarnya Albar itu adalah laki-laki baik. Kamu harus bersabar yah menghadapi jiwa batunya, memang sangat keras kepala. Kalau dia semena-mena padamu. Kamu jangan diam saja lawan terus kalau perlu tabok saja, Ayah akan bergabung di kubu kamu heheh. "
Aku tak bisa menahan tawa lagi karena Ayah sungguh sangat ramah dan juga humoris, dimana mana mertua pasti akan membela anaknya lah Ayah beda lagi wkwk. Maaa aku disuruh nabok mas Albar sih.
"Oh iya Ayah, besok yang akan datang siapa saja? " Sebenarnya aku ingin menanyakan ini pada mas Albar tapi, kalian tau sendiri kan kalau mas Albar ditanya responnya bagaimana? Kita seolah sedang berbicara dengan sebuah batu.
"Hanya beberapa kenalan Ayah dan juga keluarga kita. "
Aku mengangguk "Sebenarnya itu acara apa yah Ayah heheh, maaf aku banyak nanya. " Aku tersenyum kikuk dan Ayah langsung tertawa ringan.
"Banyak nanya tandanya ingin tahu kan menantu, jadi tidak apa-apa. Acara besok itu Ayah adakan untuk memperkenalkan kamu kepada keluarga besar kita dan juga kenalan Ayah. Si Albar sih masa acara nikahan cuma ngundang Ayah saja. Ayah kan juga mau Banggain kalau anak bungsu Ayah juga sudah laku heheheh. "
Kenapa perlu dikenalkan segala? Ayah tidak tau saja bagaimana asal usul pernikahan kami ini. Aku tak pantas untuk diadakan acara seperti itu.
"Eughh Ayah, aku ke kamar dulu yah. Permisi. " Aku berjalan pelan setelah Ayah mengiyakan.
Albar yang melihat zhia sudah pergi langsung melengkang masuk.
"Susul tuh istri kamu masuk kamar, kasian yang dibawah belum pernah masuk gawang hahah nanti karatan gimana karena ngk pernah digunain, Ayah bahkan sudah membantu mu dengan menyediakan baju disana. Tapi Ayah lihat istri mu lebih memilih memakai bajumu. Hahahah setidaknya Ayah sudah membantu mu walaupun sedikit, " Tutur Ayah dengan senyuman menggoda putranya itu.
"Dasar tua Bangka, ternyata dia yang menyediakan baju sialan itu. Gara-gara baju sialan itu aku hampir lupa diri tadi. " Batin Albar kesal.
"Ayah kenapa sih? Sewot Banget. " Albar kesal lalu berjalan menuju kamar.
"Lembut-lembutlah jadi laki-laki agar cepat dapat jatah wkwkwk. " Teriak sangat Ayah membuat Albar menatap horor kearah ayahnya.
Ayahnya tertawa terbahak karena merasa berhasil menggoda putranya habis-habisan.
Putra bungsunya itu sangat kaku dan tak bisa diajak untuk bercanda, Ayah selalu senang saat ia berhasil membuat Albar kesal. Setidaknya itu adalah bukti bahwa Albar tidak mati rasa, Ayah sempat Takut Albar tidak bisa merasakan apa-apa karena sejak kecil ia tak pernah sekalipun menangis. Karena sejak kecil ia sudah kehilangan ibunya yang mengidap penyakit serangan jantung. Dam Albar belum pernah merasakan bagaimana rasanya kehangatan seorang ibu. Itu yang membuat Ayah sangat khawatir dengan kepribadian Albar yang sangat keras itu.
🍁🍁Bersambung 🍁🍁
Ngakak duhh, nih si Ayah bikin mood naik mulu😍🤣aku nge fans deh sama si ayah 🤣
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
__ADS_1
Pai pai say