Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
70. Panggil aku sayang


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸSaat hatiku sudah kau runtuhkan berkali-kali bisakah ia kembali ke posisi semula? ๐Ÿ๐Ÿ


Albar membuka pintu kamar dengan pelan sedang zhia masih saja dalam gendongannya. Zhia sangat tidak nyaman berada dalam gendongan Albar. Bisa-bisa Albar akan mengomel ini itu, kamu berat lah, kamu inilah itu yang membuat zhia sangat kaku kini.


"Tuan, turunkan saya disini saja. " Zhia langsung mencoba untuk turun namun ditahan oleh Albar yang masih saja menggendong nya.


"Kamu diam saja, kamu tidak dengar apa yang ayah katakan tadi? Saya tidak mau jadi anak durhaka tidak mendengarkan ucapan ayah. Kalau ayah menyuruh untuk membaringkan mu yasudah kita turuti saja. Kamu mau ikut berdosa karena membantah perintah ayah? "


Zhia langsung kaget. Yasudah kalau tidak mau, kenapa harus nyerocos panjang lebar seperti itu?.


Albar membaringkan tubuh zhia dengan pelan keatas kasur dan jantung nya berdetak sangat kencang Karena saat membaringkan nya wajah mereka sungguh dekat.


"Loh, tuan lupa yah apa lagi perintah ayah? Katanya ingin menuruti perintah ayah. Tolong selimuti saya tuan. " Zhia sedikit menggoda Albar yang sangat munafik itu. Tumben sekali dia ingin berbakti dengan menuruti ucapan ayah padahal saat sedang bertemu mereka selalu saja berdebat. Seharusnya sebagai anak ia harusnya mengalah saja kepada ayah tanpa harus menjawab ini itu.


Albar tau apa maksud zhia mengatakan itu. Ia pun langsung menuruti"Kamu pikir saya sedang bermain-main yah? Saya ini adalah anak berbakti. "


"Yang nanya siapa mas? " Batin zhia heran.


"Kamu istirahatlah sekarang, biar cepat mendingan. " Albar memperbaiki posisi selimut zhia hingga zhia sedikit mengeryit heran.


"Saya sudah tidak bisa istirahat tuan, sejak tadi saya selalu berbaring dan itu membuat saya lelah. Ternyata berbaring seharian juga bisa membuat lelah. " Zhia bangkit dan duduk sedang Albar sendiri belum juga beranjak dari tepi kasur itu.


"Oh iya tuan, bagaimana ini? Mbak Viona sepertinya curiga dengan hubungan kita. Apalagi setelah saya tidak sengaja memanggil tuan dengan sebutan itu di cafe. "


Albar memiliki sebuah ide yang entah untuk apa tiba-tiba ingin melakukannya.


"Iya, kamu benar sekali. Tadi saja kak viona menelpon dan berkata bahwa ia mencurigai hubungan kita. Kalau sampai ia tau ayah juga pasti akan tau. " Albar.


Zha terlihat sangat khawatir setelah mendengar itu. Bagaimana ia tidak khawatir, mereka bukanlah pasangan suami istri sungguhan. Dan jika ayahnya tau keinginan Albar tak akan bisa ia dapat dan jika Albar tidak mendapatkan keinginan nya maka zhia tak akan pernah bisa bebas.


"Ini semua salahmu. " Tiba-tiba saja Albar melimpahkan semua kesalahan pada zhia.


"Loh, kok jadi saya tuan? Tuan juga salah. Kenapa hari itu datang ke cafe dengan mbak viona? " Zhia tak mau disalahkan sepenuhnya.


"Lihatlah kamu ini, sudah salah masih saja tak mau mengaku. Kami sudah sering datang ke cafe itu bahkan sebelum kamu datang kesini. Kamu sendiri yang nyari masalah dengan bekerja disana dan mbak Viona bahkan semakin curiga karena kamu bekerja di sana. Ahh masih saja menuduh saya yang salah. " Kesal Albar hingga zhia pun terdiam.


Ucapan Albar memang benar, sesuai dengan cerita mbak lila selaku koki di cafe itu Albar sudah sangat sering datang kesana. Tapi kan zhia tak mungkin bekerja jika Albar tak lupa dengan kewajiban nya. Ahh sangat ribet sekali.

__ADS_1


"Jadi bagaimana tuan? Apa mbak Viona akan mencari tau atau diam saja? "


"Kamu belum kenal siapa kak Vio, dia bahkan tidak akan berhenti sebelum ia tau kebenaran nya. Saya jadi semakin khawatir kini. " Albar dengan memasang wajah khawatir yang dibuat-buat.


Zhia yang melihat raut wajah khawatir Albar pun ikut panik apalagi ia adalah tipe-tipe manusia yang suka panik padahal masih bisa dipikirkan baik-baik.


"Ja,, jadi kita harus bagaimana tuan? Saya tidak bermaksud membuat mbak Viona curiga. Saya berani bersumpah tuan. " Zhia dengan wajah polosnya. Padahal tadi ia sempat melawan pada Albar namun setelah ia merasa ini adalah murni salahnya ia langsung tidak bisa mengelak lagi.


"Kenapa dia begitu lucu sih? Dan kenapa aku sangat menyukai saat kami sedang berbincang seperti ini? " Batin Albar.


"Sudah tidak ada lagi cara untuk meyakinkan kak Viona selain kita harus menunjukkan sikap layaknya suami istri sungguhan. "


Zhia yang mendengar itu salah menafikannya dan dengan cepat ia sedikit menjauh dan menyilang kan tangan di dadanya.


"Maksud tuan, hubungan suami istri yang,, ihh masa sih harus dengan itu tuan. Belum lagi harus di hadapan mbak Viona yah? Ihh saya ngk mau tuan. " Zhia benar-benar langsung panik kini.


Albar tak bisa lagi menahan senyuman karena merasa sangat lucu dengan sifat zhia ini. Meskipun sesekali gadis dihadapan nya ini sangat bandel namun ia sangat polos dan juga gemoy. Bisa-bisanya ia memikirkan itu, siapa juga yang mau bercinta dihadapan kakaknya sendiri.


Tuk,


Albar lagi-lagi menarik hidung zhia dengan pelan hingga zhia sedikit meringis.


Zhia dengan pelan mengangguk padahal ia tidak tau apa yang akan Albar katakan.


"Jadi kita harus melakukan apa tuan? " Zhia.


"Mulai sekarang kamu jangan lagi memanggil saya tuan agar kamu terbiasa dan tidak keceplosan seperti di cafe saat itu. Saya sudah pilih panggilan yang pantas dan kamu tidak bisa menolak nya. " Albar dan zhia dengan cepat mengangguk.


"Saya harus memanggil tuan dengan sebutan apa? " Tanya zhia dengan pelan.


Albar sebenarnya sangat malu untuk mengatakan itu tapi entah karena apa hatinya yang meminta ini hingga ia dengan bodohnya merencanakan ini.


"Mulai sekarang panggil saya dengan sebutan sayang. "


Zhia langsung kaget bukan main Karena ucapan Albar itu, apa laki-laki dihadapan nya sudah gila yah? Kenapa sangat jauh sekali? Dari tuan lari ke kata sayang? Apa dia sedang bercanda.


"Kenapa diam saja dengan mulut menganga itu? " Albar heran melihat zhia.

__ADS_1


"Kenapa harus itu tuan? Ihh saya tidak mau. Bagaimana kalau mas saja tuan? Lebih nyaman untuk di dengar. " Zhia mencoba memberikan usulan.


"Saya tidak mau, sangat kampungan sekali. Kamu tidak bisa membantah apapun ucapan saya. Lagian apa susahnya sih? Tinggal panggil doang. " Albar.


Zhia terlihat sangat tidak nyaman dengan keputusan itu sedang Albar tanpa alasan tersenyum senang.


"Tuan, bisakah kita rundingkan kembali panggilan itu? Sangat tidak nyaman di dengar juga diucapkan. " Zhia masih tidak bisa Terima.


"Tidak bisa. "


"Tuan, tolong pikirkan kembali, lagian tuan mana mungkin mau memanggil saya dengan sebutan itu. "


"Loh, kenapa tidak? Hanya panggilan saja kenapa harus dibawa repot. " Albar dengan wajah cueknya.


Zhia terlihat sangat kesal dengan ucapan Albar itu. Baginya Albar seolah mempermainkan nya dengan mengatur sesuka nya.


"Ck, kenapa tuan begitu egois? Saya tidak sama dengan tuan yang merasa mudah dengan segalanya. " Zhia merasa kesal lalu berbaring dan menutup dirinya dengan selimut.


Albar yang melihat itu heran karena tiba-tiba saja zhia seperti sedang merajuk.


"Hei, kenapa kamu malah terlihat kesal? " Albar mencoba untuk menanyakan namun zhia masih saja tak mau membuka selimut nya.


"Ooh tidak mau yah? " Albar semakin semangat untuk menarik selimut itu.


Dan karena Albar menarik terlalu kuat sedang kan zhia tidak memegangi nya kuat apabila saat ini ia sedang dalam kondisi yang lemah. Albar terjatuh tepat diatas tubuh zhia hingga zhia sedikit memekik apalagi tangan Albar tak sengaja memegang sesuatu yang kenyal disana.


"Albar mari mak,, waw maaf maaf. " Alvin selalu kakaknya Albar tak sengaja melihat itu.


Ia buru-buru menutup pintu dengan cepat dan senyum nya kian mengembang karena merasa Albar dan adik iparnya itu sangat lucu.


"Waw, sedang bercocok tanam rupanya? Heheheh. " Alvin pun memilih untuk pergi.


๐Ÿ๐ŸBersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Ya ampun ngakak banget ih, kalian sadar ngk sih kalau keluarga Albar tuh sovlak semua, mulai dari si papah mertua yang sangat rewel dan perhatian. Albar juga rewel rewel perhatian dan Alvin yang otaknya sangat mesum hahahah. Cuma mbak Viona yang sedikit waras hahhaha.


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜

__ADS_1


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2