
๐๐kau tau hal yang paling menyebalkan adalah saat kita sendiri bingung dengan diri kita๐๐
ย ย Aku sejak tadi tak bisa melepaskan pandangan ku dari arah meja mas Albar dan gadis yang ia panggil dengan sebutan sayang itu, mereka terlihat berbincang-bincang dengan santai dengan sesekali mas Albar mengelus pelan rambut gadis itu dan gadis itu terlihat malu-malu tapi ia juga terlihat sangat genit. Siapa sebenarnya gadis itu? Saat aku mengajak nya makan diluar ia merasa tidak nyaman sama sekali tapi saat dengan orang lain ia sangat nyaman dan terbuka sekali.
"Hei, zhia. " Aku langsung kaget saat kak lila memanggilku sedikit keras.
"E,, eh ada apa kak? " Tanyaku bingung.
"Yaelah dari tadi kakak ngomong sama kamu rupanya ngk di denger. "
"Maaf kak, emang kakak ngomong apa? "
"Ini yang mesan makanan siapa? Sudah lama tak ada yang memesan ini. " Aku menunjukkan meja mas Albar dan gadis yang tak kukenal itu.
Kak lila mengangguk tersenyum "Wahh sudah lama mereka tidak kesini setelah kabar dulu. " Kak lila berbicara tentang hal yang tak ku ketahui sebelum nya.
"Maksud kakak? Kakak mengenal mereka? " Aku merasa heran dengan kak lila, kenapa dia bisa mengenal mas Albar.
"Siapa yang tidak mengenal mereka, itu yang cowok namanya Albar dan yang cewek namanya naya mereka berpacaran sudah lama tapi sampai kini masih belum juga menikah, pernah dikabarkan mereka akan menikah tapi tidak jadi karena naya belum mau menikah juga. Aku lihat sih yang serius cuma cowoknya doang. "
Aku langsung kaget bukan main saat mendengar itu dari orang lain, kenapa yang istrinya sendiri tidak tau dengan kebenaran ini. Ahh aku kan hanya seorang yang ia beli untuk apa aku tau itu? Tapi tetap saja aku merasa sangat kecewa tanpa sebab.
"Mungkin mereka kembali berpacaran setelah berita itu dan ini pertama kalinya mereka datang lagi setelah berita yang tak mengenakkan itu. Mungkin balikan lagi. " Kak lila pun sudah selesai menyiapkan makanan itu.
"Nih anter kesana satu persatu, Hati-hati yah Albar itu sedikit sensitif. " Bahkan kak lila tau bagaimana sifatnya mas Albar. Mereka pasti sering kesini dulu.
Aku merasa bingung harus mengantarkan nya atau tidak tapi kulihat mbak nana juga sedang sibuk mengurus kasir. Kenapa sih cafe sebesar ini pegawainya cuma tiga orang doang? Ahhh menyebalkan sekali jika harus kesana.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat nampan itu beserta isinya menuju meja mas Albar juga pacarnya yang bernama Naya itu.
__ADS_1
Mereka yang awalnya saling memegang tangan langsung terlepas saat aku datang dan meletakkan beberapa makanan yang sudah dihidangkan itu.
"Silahkan dinikmati hidangannya. " Aku tersenyum di balik masker ku itu dan meninggalkan mereka untuk menjemput beberapa jenis makanan lainnya.
"Sayang kok banyak banget sih? " Aku mendengar gadis bernama Naya itu berbicara dengan nada manja pada mas Albar dan mas Albar langsung tersenyum kearahnya. Senyum yang tak pernah kulihat padahal kami sudah serumah sejak dua bulan lebih lamanya.
"Aku mau menebus rasa kesalku ini dengan makan banyak dengan kamu sayang, sudah dua bulan lebih kita tidak bertemu. " Aku masih saja berpura-pura memperhatikan setiap pelanggan untuk sekedar menguping pembicaraan mereka berdua.
"Maaf yah sayang aku ngk pulang selama dua bulan lebih, kamu tau sendiri kan kalau study aku masih belum juga selesai. Apalagi mentor aku suka buat pusing. " Ia berbicara dengan manja pada mas Albar.
"Aku kesal banget kamu bahkan ngk ngabari aku sama sekali, aku terus saja menunggu kabarmu hingga mau gila rasanya. "
Deg.
Jadi karena itu mas Albar sekesal itu selama dua bulan lebih? Dan dia melampiaskan semua padaku? Wahh kenapa rasanya tidak adil yah.
Mas Albar terlihat sedikit berpikir. Aku mohon mas jangan mau, aku sungguh tidak ingin melihat kalian berdua bersama di depan mataku.
"Hmm aku aja yang nginep dirumah kamu sayang, aku lagi malas balik kerumah. "
Deg,
Kenapa rasanya sedikit nyesek saat ia berkata malas ingin pulang ke rumah? Apa karena ada aku? Yasudah kenapa tidak buang saja akunya?.
"Yasudah sayang terserah kamu saja, aku dengan senang hati menyambut kedatangan mu. " Mereka berdua tertawa pelan lalu makan kembali dengan sesekali bertingkah manis satu sama lain.
Aku berjalan pelan menjauh dari meja mereka namun tangan ku ditahan oleh ragil.
"Katanya mau makan, gua liat udah ngk ada lagi tuh yg mau lu layani. Sini makan bareng gua. "
__ADS_1
Aku tak tahu kenapa aku mau-mau saja duduk dengan ragil.
"Makan gih, abis ini lu ikut gua yah. " Aku hanya mengangguk saja dan pikiran ku masih saja melayang entah kemana. Aku merasa pusing tanpa sebab dan bingung dengan perasaan ku.
Sebenarnya aku kenapa sih? Aku merasa aku sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada mas Albar tapi hatiku berkata bahwa apa yang ia lakukan saat ini tidak adil bagiku aku merasa ia sudah salah melakukan itu. Tapi aku sama sekali tak punya hak untuk mengatakan itu karena aku hanya orang yang ia beli dan akan ia buang setelah tidak butuh lagi.
Aku melihat sekilas kearah gadis yang bernama Naya itu. Ia terlihat sangat anggun dan juga cantik dengan kulit mulus yang terawat dan juga dia pasti berada di level yang sama dengan mas Albar. Ahh tak ada alasan bagiku untuk cemburu tapi aku merasa tidak suka saja melihat itu. Mas Albar terasa seperti pecundang saja melakukan hal seperti ini dibelakang ku.
"Hei, kenapa lu ngk makan malah bengong gitu? " Ragil menepuk bahuku sedikit pelan hingga aku kembali tersadar dan menjauhkan pandanganku dari arah mas Albar yang terus saja menyunggingkan senyum juga tawa yang lepas yang tak pernah kulihat sejak kami tinggal bersama.
"Ah iya yah. Aku makan nih biar kamu senang." Aku pun menyendok makanan itu dengan hati yang masih berlayar entah kemana. Merasa tak nyaman dengan hatiku sendiri.
"Nanti ikut gua bentar bisa? " Tanya ragil tiba-tiba hingga aku bingung.
"Hah? Ikut kemana? Aku kan lagi kerja nih. " Aku sedikit mengelak aku hanya ingin cepat pulang setelah ini. Aku ingin istirahat karena tiba-tiba aku merasa lelah tanpa sebab.
"Yah pokoknya ikut aja, masalah kerjaan lu udah aman tadi gua udah ijinin lu, katanya lu juga keliatan udah capek dari tadi ngk ada diamnya." Ragil niat sekali sih mengajak ku.
Ia bahkan sempat mengizinkan aku pada mbak nana, aku tidak tau kapan ia melakukan itu. Yasudah dia udah bela-belain aku harus menghargainya.
"Hmmm iya aku ikut. " Aku tersenyum kearahnya.
Ia tersenyum setelah mendengar itu.
๐๐selamat membaca ๐๐
Jangan lupa yah like, komen dan voteโค
Pai pai say๐
__ADS_1