
๐๐Aku takut saat dimana semua berubah dan kembali keposisi semula๐๐
Hari ini sudah kuputuskan untuk memberitahu Lea kebenaran yang ia lihat semalam. Dan bertemu langsung lebih baik dari pada dari seberang telepon.
Setelah memberitahu Lea tentang kebenaran itu aku juga akan menemui Ragil memberitahu bahwa aku sama sekali tidak memiliki perasaan lebih dari sekedar teman padanya. Aku hanya ingin bersahabat dengan nya juga Lea bagaimana pun kami harus tetap menjadi sahabat layaknya saat aku baru pertama datang kesini.
Aku duduk diatas kursiku lalu menunggu kedatangan Lea. Semoga saja Lea mau mendengarkan ku juga percaya dengan apa yang akan ku beritahukan padanya nanti, begitu juga dengan ragil. Kuharap ia mau mengerti bagaimana perasaan ku padanya.
Memikirkan kejadian semalam membuat ku tak habis pikir dengan takdir, bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Aku sungguh tak mengira akan hadir diantara Ragil dan Lea.
"Hai zhia," Sapa adin teman semeja darus yang saat ini datang duduk kesamping ku.
"Hai juga din, " Ucapku tersenyum.
"Semalam Lea chat gua ngasih tau kalau dia mau tukeran kursi sama gua. Katanya disini ngk strategis buat tidur. Ngkpp kan gua duduk disini? " Adin bertanya.
Aku semakin bingung dengan Lea, sejak semalam ia tak mau menerima panggilan ku dan hari ini ia juga meminta pertukaran kursi dengan Adin.
Apa Lea benar-benar Membenci ku yah? Bagaimana ini. Aku bahkan belum sempat menjelaskan nya pada Lea.
Aku tersenyum saat Lea memasuki kelas namun, senyumku luntur saat Lea bahkan tak melihat kearahku dan langsung duduk dikursi yang biasanya di duduki oleh Adin.
Kenapa yah Lea begitu? Apa ia sungguh mengira aku dan Ragil memiliki hubungan dibelakang nya? Padahal aku juga sangat kaget dengan apa yang Ragil katakan itu.
"Hmm Lea, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Aku datang kearah Lea dan dia bahkan tak mau mendengar kan ku.
Ia memilih melihat kearah lain, tak mau sama sekali melihat kearah ku. Ini adalah hal yang paling ku takutkan. Aku takut saat Lea dan yang lain bersikap seperti ini. Bagaimana jika semua orang tak mau lagi berteman dengan ku?.
"Lea, kamu ngk lagi sibuk kan? Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. "
Dan lagi-lagi ia tak menggubris ku sama sekali.
"Lea,,, ak,, "
"Ck, lu punya mata ngk sih? Gua lagi capek jangan gangguin gua. Dah ah sana jangan pernah lagi ngomong sama gua. "
__ADS_1
Aku tersentak sedemikian hebat saat Lea berbicara seperti itu padaku bahkan dengan nada suara yang tinggi hingga kini seisi kelas melihat kearahku.
Darus juga yang saat ini sedang berada di dekat Lea kaget karena Lea berbicara seperti itu. Aku tak menyangka ia akan seperti itu padaku. Bahkan ia Belum mendengar penjelasan ku.
"Lu kenapa sih Lea? Lihat tuh zhia jadi kaget. Jangan kasar-kasar kenapa sih? " Darus berbicara dengan melihat prihatin kearahku.
Lea hanya diam saja tak perduli dengan ucapan darus"Zhia kamu ngk usah masukin ke hati yah. Lea emang gitu sifatnya apalagi pas lagi ngk mood. Kamu ngkpp kan? "Darus terlihat sangat peduli.
Aku dengan cepat mengangguk mengiyakan" Hmm dasar munafik, nyesel gua temenan sama cewek munafik kayak lu. "Lea bangkit berdiri lalu berjalan menyenggol ku.
Aku kaget sekali, hal yang selama ini kutakutkan terjadi sekarang? Bagaimana bisa aku memperbaiki semua ini?.
Aku berjalan pelan keluar kelas mencari Lea yang keluar tadi. Namun aku tak menemukan kemana ia sebenarnya pergi.
" Eh zhia, lu ngapain kesini? Emang buk Rahmi Belum masuk yah? "Ragil datang dengan tas masih tersandang dibahunya.
Aku menggeleng dengan pelan, pikiranku kini dipenuhi dengan rasa bersalah dan takut karena memikirkan bagaimana caraku memperbaiki ini dengan Lea.
" Kuy kelas. "Ragil memegang tangan ku dan menarik nya namun segera kulepas hingga ia terlihat bingung.
" Gil, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. "Ku tarik tangan ragil menuju kearah dinding kelas Bahasa.
" Lu mau ngomong apa hmm? "Ragil.
" Eugh,, gini gil, maaf sebelumnya aku juga ngk mau ini terjadi. Maaf banget aku,, "
Ragil masih saja diam menunggu apa kata selanjutnya yang akan keluar dari bibirku.
"Soal pernyataan kamu semalam, aku... Aku ngk bisa gil. Maaf banget, aku,, aku ngk pantas buat kamu dan aku juga ngk mungkin bisa bareng kamu. " Aku menunduk saat mengatakan itu.
Bagaimana ini? Aku bahkan semakim takut kalau ragil juga akan bersikap sama dengan Lea. Aku sungguh tak mau kehilangan mereka berdua.
"Kan gua ngasih lu waktu selama tiga hari,bahkan masih satu malam terlewat lu udah jawab. Coba yakinin dulu hati lu naru Jawab dengan benar. " Ragil tersenyum mengelus rambut ku dengan pelan.
Aku menggeleng dengan cepat"Maaf gil, aku udah pikirin matang matang dari kemarin, kita memang lebih baik berteman saja. Aku,aku ngk bisa gil lebih dari itu. "Aku meremas ujung seragamku karena gugup.
__ADS_1
Bagaimana jika setelah ini aku benar-benar kehilangan mereka berdua? Yatuhan aku sungguh takut sekali kehilangan mereka berdua.
Ragil tersenyum mengelus pelan suraiku" Jahat banget sih, dikasih waktu tugas hari buat mikir malah nolak sekarang. "Ragil tersenyum dan tertawa ringan.
Aku melihat kearahnya dengan takut, Ragil tidak marah yah?
" Kamu tidak marah kan? "Aku sangat takut sekali.
" Ngapain gua marah, dahlah kuy masuk kelas nanti buk Rahmi nyariin. Lea juga mungkin udah nungguin kita. "Ragil menarik tangan ku menuju kelas.
Ragil tidak tau apa yang saat ini terjadi dengan ku juga Lea, bagaimana ini? Aku sungguh pusing dengan apa yang terjadi hari ini.
Saat kami memasuki kelas, Lea menatap kesal kearah ku dan ragil yang masuk kedalam kelas bersama. Bagaimana ini? Aku mungkin semakin membuat Lea makin kesal.
Yatuhan, aku sungguh tidak ingin hari ini terjadi.
Sedangkan Albar kini sedang berbicara di telpon dengan ayahnya.
" Dengar tidak? "Ayah Albar.
" Kenapa harus datang kesana hari ini yah? Kan acaranya masih besok. "Albar terlihat kesal.
" Kamu yah, sekali dibilang langsung nurut kenapa sih? Selalu saja membangkang, ayah tidak mau tau kamu harus datang kerumah ini hari ini dengan menantuku, tidak usah membawa pakaian. Karena sudah disediakan disini. "
Albar mendengus kesal karena ia paling tidak tahan dengan sikap pemaksa dari ayahnya. Kalau ayahnya bilang A maka harus A dan Albar hanya bisa pasrah saja.
"Baiklah, nanti setelah aku pulang kantor langsung kesana bareng zhia. " Albar memilih mengalah saja.
"Nah gitu dari tadi kenapa? Harus berdebat dulu baru mau. "
Panggilan telah diputuskan Albar setelah berpamitan. Ia mendengus pelan karena meladeni sikap ayahnya yang sungguh pemaksa itu.
๐๐Bersambung ๐๐
Wkwkw anak sama bapak sama aja, sama-sama keras kepala.
__ADS_1
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
Pai pai say๐