Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
63. Cobalah mengerti


__ADS_3

🍁🍁Bagaimana bisa aku diam saja saat kamu bertingkah semaumu tanpa peduli perasaan ku🍁🍁


Albar sejak tadi menunggu diluar rumah Viona kakak perempuan nya. Ia berkali-kali melihat sekeliling rumah.


"Sudah lama tak kesini dan tidak ada perubahan sama sekali. " Albar bergumam.


Tiba-tiba Ragil datang dengan motornya dan memarkirkan nya ditempat parkir.


"Hei, jagoan paman sudah datang. Kesini sebentar. " Albar terlihat sangat senang dengan kedatangan ragil. Mereka sangat dekat dan sesekali saling menggoda.


Ragil masih kaget dengan apa yang ia lihat diacara keluarga besar nya. Dimana fakta bahwa zhia gadis yang ia sukai adalah istri dari pamannya sendiri. Belum lagi didepan matanya ia melihat mereka berdua berciuman. Sungguh hatinya sampai kini belum menerima itu semua.


"Aku lagi ngk enak badan paman, mau istirahat dulu. " Ragil dengan wajah ditekuk pergi begitu saja memasuki rumah.


Albar yang melihat itu sangat kaget, bukan seperti ragil yang biasanya.


P


"Kenapa kakak lama sekali? Sejak tadi aku sudah menunggu kakak disini. " Albar.


Viona tersenyum melihat adiknya itu "Kakak menyuruh mu untuk masuk tidak mau, yasudah rasakan sendiri. "


"Kakak mau bahas apa sih? Kenapa menghubungi ku saat sedang di kantor? "


"Kakak ingin membahas tentang istri mu. "


"Memang nya kenapa dengan zhia? " Albar terlihat heran saat kakak nya begitu tertarik dengan istri nya.


"Nanti saja kakak bicarakan dengan mu, mari cari tempat yang nyaman untuk berbicara. "Viona menarik tangan Albar menuju mobilnya Albar.


"Oh iya kak andi dimana? Kenapa sejak tadi aku tak melihatnya? "


Viona hanya mendengus saja mendengar itu"Tidak tau,"ucapnya ketus.


"Kalian bertengkar lagi? " Albar merasa bingung dengan mereka berdua yang selalu saja ribut. Bahkan karena masalah sepele pun diperdebatkan.


"Ah sudahlah tidak usah membahas dia, darahku langsung mendidih saat mendengar namanya. "


Albar sedikit terbahak mendengar itu"Yatuhan, kenapa sih dengan kalian? Berhentilah saling ribut begitu. Ragil sudah besar, kalian tidak malu. Aku sendiri malu melihat kalian. "Albar terus saja mengemudi.


" Ehh berhenti, kita makan disini saja. Aku malas untuk pergi terlalu jauh. Lagian makanan disini juga enak, "ucap Viona hingga Albar menghentikan mobil.


Tempat itu adalah tempat yang sering Albar dan Naya datangi sejak dahulu hingga sekarang. Albar juga tau kalau cafe ini adalah cafe yang menyuguhkan makanan dan minuman yang dapat memanjakan lidah. Dan tanpa Albar sadari disini jugalah zhia bekerja.


" Baiklah,"ucap Albar mengikuti kakaknya memasuki cafe itu.

__ADS_1


Mereka berdua memasuki cafe itu. Hari ini cafe terlihat sepi dan hanya ada dua meja yang terisi.


"Wahh tumben yah cafe ini begitu sepi. "


"Loh, kamu sering kesini yah? " Viona terlihat heran.


Albar mengangguk"Cafe ini sudah seperti cafe terfavorit bagiku, tapi entah kenapa aku semakim malas untuk datang kesini. "Albar duduk di ikuti oleh kakaknya Viona.


"Kakak mau bahas apa sih? " Albar memulai pembicaraan itu, tiba-tiba sekali kakaknya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu.


"Kamu sabar dulu, seperti ayah saja tidak sabaran. Kita pesan dulu makanan baru kita bahas. " Viona.


"Ihh kenapa sih? Bikin penasaran aja, emang istri aku kenapa sih kak? " Albar Lagi-lagi mencari tahu.


Tiba-tiba seorang perempuan datang dengan meletakkan menu dihadapan Albar juga kakaknya Viona.


"Mau pesan apa pak? "


Albar langsung melihat kearah suara itu, kenapa suara itu sangat akrab ditelinga nya dan jantung nya juga berdetak saat mendengar itu.


Dan betapa kagetnya ia saat ini yang sedang berada di hadapan nya sebagai seorang pelayan cafe itu adalah zhia. Istri nya.


"Zhia? Kenapa pelayan ini terlihat seperti zhia? Kenapa seharian ini aku selalu membayangkan wajah gadis dungu itu? Kenapa dengan ku? " Albar membatin.


Mata mereka bertemu dan jantung zhia kini sudah memaksa ingin keluar saja. Ia sangat takut dengan reaksi Albar yang melihat kearah nya dengan sorot tajam.


Istri dari adiknya bekerja sebagi pelayan cafe? Bagaimana mungkin. Apalagi adiknya adalah seorang CEO. Sungguh fakta yang membagongkan.


"Tu,, tuan. " Zhia Lagi-lagi dengan cepat menutup mulutnya karena keceplosan memanggil Albar dengan sebutan tuan.


"Tuan? " Bingung Viona Lagi-lagi.


Albar langsung berdiri dari tempat duduknya itu"Kakak bisa kan pulang sendiri? Aku ada urusan dengan nya. "


Albar langsung menarik tangan zhia dengan kasar meninggalkan Viona yang masih kaget itu.


Nana sendiri yang melihat itu hendak mengejar zhia namun sudah terlambat karena Albar sudah melajukan mobil dengan kencang.


Zhia sendiri merasa bingung dengan nya. Kenapa ia takut sekali saat Albar tau ia bekerja? Apa salahnya jika ia bekerja? Lagian kalau bukan karena Albar yang lupa dengan perjanjian mereka untuk membiayai hidupnya ia tak mungkin bekerja.


Namun, Albar ternyata lupa dengan kewajiban nya. Hingga zhia harus mencari uang untuk membiayai hidup nya itu.


Saat ini zhia lebih takut dengan Viona kakaknya Albar, apalagi ia sempat keceplosan tadi. Matilah ia karena sudah membuat identitas pernikahan mereka hampir saja ketahuan. Pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian untuk ia bisa bertahan hidup dan Albar juga mendapatkan keinginan nya itu.


Albar dengan keras menarik tangan zhia memasuki rumah dan berhenti tepat di ruang tengah.

__ADS_1


"Kenapa kamu bekerja disana? " Albar dengan wajah penuh emosi.


Zhia melihat heran kearah Albar yang terlihat sangat emosi itu. Kenapa malah ia yang emosi?.


"Memangnya kenapa tuan? Kenapa tuan terlihat marah saat tuan tau saya bekerja disana? "


Albar mendekat kearah zhia dengan penuh emosi.ia merasa zhia sangat tidak mementingkan popularitas nya. Apalagi tadi kakaknya bahkan tau kalau zhia bekerja disana.


"Kenapa saya marah kamu bilang? Kamu sungguh bodoh atau bagaimana? Bisa-bisanya kamu mempermalukan saya dengan bekerja disana, bagaimana jika tiba-tiba teman ayah juga teman ku datang kesana dan melihat kamu. Mereka akan berpikir apa tentang aku? " Kesal Albar dengan sorot emosi dan wajah penuh kemarahan.


Zhia juga merasa tidak Terima saat Albar menyalahkan nya. Harusnya ia yang marah saat ini.


"Tuan malu yah? Kenapa menikahi saya jika tuan malu? Saya sudah memalukan sejak dulu. Kenapa tuan masih menikahi saya?"


Albar merasa zhia sungguh sangat keras kepala. Kenapa gadis dihadapan nya ini sangat keras kepala sekali?.


"Kamu kenapa sangat berani sekali pada saya? " Albar mendekat dan menangkup pipi zhia lalu menekannya dengan keras.


"Kamu dengarkan saya baik-baik. Jangan berani-beraninya kamu melawan saya. Kamu sudah sangat kurangajar. Masih tidak tahu diri yah dimana posisi kamu yang sebenarnya? " Albar menekan pipi zhia sedikit keras hingga zhia meringis menahan sakit.


"Mulai hari ini kamu jangan lagi bekerja disana, atau kamu akan menerima akibatnya. Jangan cari masalah dengan saya. "


"Tidak mau. "


Albar semakin emosi saja saat zhia bahkan tak mendengar kan nya. Kenapa gadis sangat keras kepala?.


"Ooh masih ingin membantah ya? "


Zhia mendorong Albar sedikit keras"Kenapa tuan tidak bertanya alasan saya bekerja disana? Kenapa tuan hanya memperdulikan image tuan saja? "Zhia mulai kesal dengan Albar yang bersikap egois itu.


" Saya tidak akan bekerja disana jika tuan tidak lupa dengan janji tuan, saya tidak pernah melarang tuan untuk bersama dengan wanita lain tapi bisakah tuan juga ingat bahwa saya masih seorang gadis SMA yang butuh uang sekolah dan peralatan sekolah lainnya. Saya tidak akan bekerja jika uang sekolah saya sudah dibayar oleh tuan. Nyatanya tuan melupakan itu. "


Air mata sudah berkali-kali ditahan oleh nya namun kali ini sungguh ia sangat sakit hati menerima perlakuan kasar Albar padahal yang salah disini adalah Albar sendiri.


Albar terdiam kaku melihat zhia yang mengusap air matanya dengan kasar.


"Saya mohon tuan, berhenti bersikap kasar seperti tadi. Berhenti semena-mena dengan saya seperti saat itu. Saya memang seseorang yang tuan beli dengan uang tapi tuan jangan lupa kita sama-sama manusia yang ingin dihargai. "


Zhia sudah tidak tahan lagi karena Albar sudah kelewatan. Ia tau, ia tak berhak untuk mengatakan hal tadi. Tapi ia ingin dihargai. Apakah salah jika kita meminta dihargai?.


🍁🍁bersambung 🍁🍁


Duilah,, gimana tuan Albar? Mingkem kan? Makanya bang jangan egois.


Jangan lupa yah like, komen dan vote😍

__ADS_1


Pai pai say🍁


__ADS_2