Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
41. Bosan


__ADS_3

🍁🍁orang berkata bahwa segala mimpi kita akan terkabul, mereka lupa mengecualikan mimpi buruk 🍁🍁


    Aku berdiri di taman sembari melihat kearah bunga bunga yang dijaga dan dirawat oleh petugas kebun yang saat ini sedang sibuk menyirami bunga itu.


"Pak, bunga nya cantik sekali yah? Aku bahkan tidak akan bisa merawat bunga sebaik ini. " Aku tersenyum dan memegang bunga yang saat ini benar-benar menarik perhatian ku.


Bapak tukang kebun yang kalau tidak salah bernama pak Sarip itu pun tersenyum kearahku"Kalau kita bekerja dengan tulus dan ikhlas pasti hasilnya akan baik neng heheh."


Aku ikut tersenyum karena pak Sarip sangat ramah"Bapak haus yah? Tunggu sebentar biar saya buatkan minum. "Aku hendak pergi namun pak Sarip malah menolak.


" Tidak usah neng, ini kan sudah pekerjaan saya. Nanti bapak marah jika saya malah menyuruh nyonya dirumah ini untuk mengambilkan saya minuman. "Pak sarip terlihat merasa sangat sungkan.


Aku dengan cepat menggeleng" Ya ampun pak. Bapak tidak udah sungkan dengan saya heheh. Kita berada dilevel yang sama pak. Saya bukan nyonya dirumah ini. "Aku langsung mencoba untuk membuat pak Sarip merasa nyaman.


Pak Sarip terlihat heran dengan ucapanku itu. Memang ia hanya tau kalau aku adalah istri sahabat dari mas Albar tanpa tau kalau sebenarnya aku memiliki kisah dibalik itu.


" Maksudnya bagaimana yah neng? Bapak tak mengerti. "


Aku tersenyum "Hahah intinya bapak tidak usah sungkan pada saya, anggap saja saya anaknya bapak heheh biar lebih terbuka. Saya sedih nih kalau bapak sampai tidak mau berteman dengan saya. " Aku benar-benar ingin berteman dengan pak Sarip.


Karena hanya pak Sarip yang bisa aku jadikan teman disini, yah walaupun hanya beberapa kali datang setidaknya aku memiliki teman apalagi saat libur begini aku tak punya alasan untuk keluar rumah rasanya sangat bosan sendirian. Bisa-bisa aku memiliki gangguan jiwa karena sering sendirian dirumah.


Mas Albar? Ah kalau mas Albar sudah tidak ada harapan untuk berteman dengan nya. Sejak kami bertemu hingga sekarang benteng sudah terpampang sangat jelas diantara kami. Seperti saat libur begini ia lebih memilih didalam rumah yang begitu sepi itu, aku sangat tidak ingin disana berlama-lama karena sangat bosan. Tak ada hal yang menarik sama sekali untuk dilakukan.


Ia memang terlihat tidak dalam mood yang bagus hari ini. Karena sejak kemarin ia tak hentinya menunggu panggilannya dijawab. Aku tak tau siapa tepatnya tapi perasaan ku mengatakan kalau sampai kini mbak Naya belum juga ada kabar.


Aku takut ia akan melampiaskan kemarahan nya lagi padaku hanya karena tak ada kabar dari mbak Naya. Oleh karena itu aku lebih memilih untuk mencari aman dan tidak mau cari gara-gara padanya.

__ADS_1


"Bapak tunggu yah. " Aku berjalan pelan menuju rumah untuk menyiapkan minum untuk pak sarip.


Saat aku memasuki rumah kulihat mas Albar sedang duduk didepan televisi dengan wajah masam ia masih saja setia memegang hpnya.


Dasar bucin tingkat atas wkwkwk, bisa-bisa nya ia sesabar itu menunggu panggilan dari mbak Naya selama dua hari? Wahh sangat bucin sekali.


"Sedang apa kamu? " Seperti biasa, mas Albar adalah tipe laki-laki yang bermulut lembek. Apa-apa ia akan bertanya dan akan mengoreksi setiap gerak.


"Menyiapkan minum untuk pak sarip tuan. " Aku terus saja melanjutkan alaikum namun kutangkap wajah bingung darinya.


"Dia meminta mu melakukan nya? "


Aku dengan cepat menggeleng "Tidak tuan, malah dia menolak. Tapi saya lihat pak sarip sudah kehausan dan takut tuan akan marah jika berani meminta minum. " Aku lebih baik berkata jujur saja.


Mas Albar hanya diam saja dan kembali fokus pada tontonan nya.


Aku telah selesai membuat manis dingin untuk pak sarip lalu aku mengeluarkan kaleng berisi beberapa makanan dari lemari khusus makanan milik mas Albar. Tak pernah disentuh oleh mas Albar sama sekali lebih baik sama-sama kami makan diluar dengan pak sarip.


"Apa tuan tidak ingin ikut bergabung dengan kami? " Aku bertanya setelah selesai menyiapkan semua yang akan kubawa tidak lupa dengan karpet juga. Aku memamg sudah merencanakan ingin membuat pak Sarip berasa di piknik hahaha.


Mas Albar melihat sekilas apa yang sedang aku siapkan itu. Ia terlihat heran dan kembali acuh tak acuh.


"Tidak usah mengajak saya. Pergi saja. Saya tidak ada waktu untuk itu. " Ia kembali fokus melihat kearah televisi.


Aku kemudian mengangguk mengerti. Kalau tidak mau yah langsung bilang tidak saja tidak usah banyak omong begitu.


Aku pun berjalan keluar rumah dengan membawa keranjang berisi minuman juga makanan itu lalu tanganku yang sebelah lagi membawa karpet.

__ADS_1


Aku sangat tidak sabar. Semoga saja pak sarip tidak sungkan dengan ku. Aku benar-benar butuh teman sekarang dan pak sarip juga terlihat sangat ramah jadi sangat cocok untuk dijadikan sebagai teman.


Andai saja aku bisa terbuka dengan lea juga ragil. Pasti lebih menyenangkan jika mereka juga ikut bergabung dengan kami. Tertawa bersama, makan dan minum diatas karpet disebuah taman sembari bercengkrama dan saling melempar kisah. Wah membayangkan nya saja sudah membuat ku sangat senang.


"Kapan yah itu akan terjadi? Aku sangat ingin bersantai bersama mereka. " Aku terus saja berangan akan bisa piknik seperti ini dengan mereka berdua. Sahabat yang sangat baik dan mau berteman dengan ku.


"Pak, tunggu sebentar yah saya siapkan dulu setelah itu baru bapak istirahat saja dulu. " Aku tersenyum dan meletakkan barang bawaan ku.


Pak sarip langsung datang menghampiri ku dan membungkuk sungkan "Biar saya bantu neng. "


Aku dengan cepat menggeleng "Tidak usah pak, biar saya saja heheh. " Aku sangat ingin melakukan nya sendiri namun pak sarip mungkin masih saja merasa sungkan hingga aku dengan terpaksa membiarkan pak sarip membentangkan karpet itu.


"Terima kasih pak. " Aku pun duduk lebih dulu diatas karpet dan mengeluarkan beberapa gelas juga kaleng berisi makanan itu.


"Silahkan duduk pak, kita beristirahat dulu. " Aku tersenyum dan menuangkan minuman yang kubuat tadi kedalam gelas pak sarip.


Dan pak sarip langsung meraihnya dengan penuh semangat "Terima kasih banyak neng. Bapak jadi merasa tidak enak. " Ia benar-benar masih merasa sungkan dengan ku.


"Bapak tidak usah sungkan pak, mari kita makan kue nya saya tau bapak pasti sudah lapar sejak tadi sudah membersihkan taman ini. " Aku benar-benar merasa kasihan saat melihat peluh di sekujur tubuh pak sarip. Itu mengingatkan ku pada almarhum bapak dulu yang selalu pulang dengan dipenuhi peluh di tubuhnya dan dengan wajah tersenyum nya ia melihat kearahku.


Ayah aku rindu (。;_;。)


🍁🍁bersambung 🍁🍁


Jangan lupa yah like komen dan vote😍


Pai pai say🤣

__ADS_1


__ADS_2