
๐๐Perlahan kebersamaan mengajarkanmu arti sebuah kehadiran ๐๐
ย ย Mobil mas Albar hentikan tepat di depan sebuah toko pakaian. Aku jadi teringat saat sedang bersama paman adil dahulu, karena aku saat itu adalah seorang model kami selalu ke tempat seperti ini untuk membeli pakaian. Huh, kalau saja mas Albar tak melarangku untuk menjemput pakaian ku itu sekarang mungkin aku tak akan kekurangan pakaian seperti sekarang.
"Turunlah," Titah mas Albar keluar dari mobil dan menarik tanganku dengan kuat. Ck, kenapa tidak bisa membuat sih walaupun hanya sekedar menarik tangan.
"Kita ngapain kesini tuan? " Aku sangat bingung karena tiba-tiba mas Albar membawaku ke tempat penjualan pakaian ternama ini, hanya orang tertentu yang bisa berbelanja disini.
"Mau ngamen sama ngadain konser dadakan. Kenapa? Mau jadi biduan nya yah? "
Aku sedikit mengerutkan kening mendengar jawaban mas Albar. Kenapa malah jadi ke konser sih? Mas Albar ih suka aneh kalau jawab pertanyaan.
"Sudah tau ini toko pakaian masih saja bertanya, mulutmu bisa kan berhenti bertanya hal yang sudah sangat jelas sekali jawaban nya. " Mas Albar terlihat sangat jengkel.
"Sudahlah, ikut saya. " Mas Albar menarik tanganku menuju pintu utaman toko itu.
"Tuan, tolong jangan terlalu cepat! Saya tidak bisa mengimbangi langkah tuan." Aku benar-benar kewalahan mengikuti langkah nya yang sangat panjang itu.
Mas Albar sama sekali tidak peduli bahkan aku sudah berkali-kali hampir jatuh. Yatuhan bisa tidak dia lembut sedikit jadi orang.
"Tuan, saya tidak bisa mengejar tu,, "
Tuk,
Aku tiba-tiba menabrak punggung mas Albar yang tiba-tiba diam tanpa pemberitahuan sama sekali.
"Akhh, " Ringisku pelan hingga mas Albar melihat kearah ku.
"Ck, kenapa lamban sekali sih kamu? Membuang waktu saja bisanya. " Mas Albar menarik tangan ku lagi namun kali ini sedikit melemah.
"Tolong berikan pakaian yang layak untuk nya. " Mas Albar mendorong ku hingga hampir menabrak mbak penjaga tempat itu.
Aku sedikit tersenyum kikuk dan dibalas dengan senyuman hangat darinya "Eh mbak kan Azhia yang pernah jadi model itu kan? " Tanya mbak itu dan dengan ragu aku mengangguk.
__ADS_1
"Wahhh ternyata mbak memang cantik sekali dan lebih cantik saat sedang berdandan secara Natural begini. " Ia tersenyum dan aku hanya tersenyum senang juga. Ternyata masih ada yang mengingat ku.
"Apa mbak tidak pernah lagi melakukan pemotretan, karena sudah lama sekali tidak ada majalah baru yang menampilkan wajah mbak."
"Hmm saya sudah berhenti jadi model mbak, " Ucapku pelan lalu menunduk. Rasa sakit saat mengingat paman Adil kembali datang, aku kembali teringat betapa kecewanya aku padanya.
"Khem, cepat bawa dia dan berikan pakaian yang layak. " Mas Albar tiba-tiba bersuara dari arah kursi tunggu.
Aku pun mulai mencoba memakai pakaian yang saat ini diberikan oleh mbak tadi, aku tersenyum saat melihat pantulan diriku di cermin. Ternyata wajahku masih seperti dahulu hanya saja statusku yang kini berbeda.
Tirai gorden changing room itu terbuka dan kini mas Albar berada dihadapanku masih saja fokus melihat majalah.
"Tu,, tuan," Ucapku hingga mas Albar mulai mengangkat wajahnya melihat kearahku.
"Sejak kapan gadis dungu itu terlihat sangat mempesona? Bagaimana bisa ia terlihat sangat cantik hanya karena memakai baju itu? Ah tepatnya baju itu terlihat cantik Karena dipakai olehnya. " Batin Albar.
Matanya tak bisa berkedip bahkan sedetikpun hanya karena terpesona melihat kecantikan alami yang dimiliki oleh zhia, selama ini ia tau kalau zhia adalah mantan model namun karena tak terlalu perduli ia baru sadar akan kecantikan alami yang dimiliki oleh zhia. Dan tanpa sadar hatinya sedikit tergetar karena melihat kecantikan zhia.
"Ba,, bagaimana tuan? Apakah ini cocok untuk saya? " Tanya zhia dengan pelan namun Albar masih saja diam tak berbicara.
"Khem, tidak bagus sama sekali. Lihatlah pakaian itu terlihat buruk karena kamu yang memakai nya. Ganti dengan yang lain. " Albar berbohong karena tak bisa lagi berkata yang lain. Terlalu gengsi hanya untuk sekedar mengatakan cocok.
Pegawai itu yang awalnya tersenyum langsung berubah air mukanya. Jelas sekali ia melihat wajah Albar terpesona tadi. Tapi kenapa ia mengatakan hal tadi?.
"Baiklah tuan, " Zhia pun menutup kembali gorden itu lalu mencoba dress berwarna cream dengan lengan berukuran setengah dan beberapa manik-manik cantik yang menghiasi dress itu.
"Wahhh cantik sekali mbak, bahkan tanpa make up sekali pun mbak tetap bersinar. Bajunya terlihat luar biasa hanya karena mbak yang memakai nya. " Pegawai itu datang dengan senyuman yg sangat hangat.
Zhia sedikit tersipu malu hanya karena pujian itu. Ia memang sudah berpengalaman dalam dunia modeling tapi tetap saja pujian seperti itu tak bisa membuat ia tak tertipu bahkan sudah sering kali ia dengar dari berbagai pihak.
"Bagaimana tuan? " Zhia membuka gorden dan menunggu reaksi dari Albar.
"Sial, kenapa semua terlihat sangat cocok untuk nya? Kenapa semua terlihat sangat bagus hanya karena dipakai oleh nya? " Albar lagi-lagi terpesona hanya karena melihat zhia yang memakai dress itu.
__ADS_1
Zhia sendiri menunggu apa yang akan Albar katakan. Zhia juga merasa tidak masalah dengan dress yang pertama tadi begitu juga dengan yang sekarang. Semua terasa bagus untuk ia kenakan.
"Tidak bagus sama sekali, bagaimana bisa tak ada satupun dress yang cocok untuk mu. Menyusahkan sekali sih. " Albar terlihat sedikit canggung.
Pegawai itu terlihat kesal melihat Albar. Bagaimana bisa ia mengatakan itu pada zhia? Semua bahkan sangat cocok untuk orang secantik zhia.
"Cepat ganti lagi yang lain, bagaimana bisa satupun terlihat buruk untuk mu. " Albar kemudian membaca kembali majalah dihadapan nya.
"Tuan, apakah tuan serius dengan ucapan tuan? Menurut saya pribadi tuan pakaian yang pertama dan kedua sangat cocok untuk nona zhia. Apakah tuan tidak ingin mempertimbangkan itu? "
Albar merasa sangat malu kini, ia tau kedua pakaian itu sangat cocok dengan zhia, karena itu ia malu untuk mengakuinya.
"Kamu meragukan kemampuan saya dalam melihat kecantikan suatu barang? "
"Iya eh tidak tuan, bukan begitu maksud saya tuan. " Pegawai itu terlihat sangat kesal dengan Albar namun ia coba tahan demi kesuksesan karirnya.
Tiba-tiba gorden terbuka memperlihatkan zhia yang mengenakan dress pendek hampir saja berada diatas lutut nya hingga paha mulusnya terlihat sedikit. Warna hitam itu sangat cocok untuk kulit putih yang dimiliki oleh zhia.
"Uhuk, " Albar tersedak saat melihat itu. Baru kali ini dirinya bereaksi secara langsung hanya karena melihat zhia berpenampilan seperti itu.
"Kenapa ia terlihat sangat luar biasa dengan segala yang ia kenakan? " Batin Albar merasa bingung.
Albar tak bisa membohongi dirinya sendiri, ia mungkin bisa berdusta dihadapan zhia juga pegawai itu dengan mengatakan tidak bagus dan sebagai nya. Tapi jujur, dalam dirinya ia sangat kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh zhia matanya tak hentinya memandangi kesempurnaan yang zhia miliki.
๐๐bersambung ๐๐
A cieee
Malu malu kerbo nih si Albar. Kalo demen bilang dong bang.
Kalo suka sama cerita nya juga like yah sayang ๐
Jangan lupa like, komen dan vote๐
__ADS_1
Pai pai say ๐