Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
17. HAH?


__ADS_3

🍁🍁kenapa semua begitu membingungkan bagiku dan mudah bagi orang lain🍁🍁


    Aku masih duduk diatas kursi sembari menarik nafas dalam-dalam seolah semua akan baik-baik saja. Bagaimana yah setelah ini? Apa aku akan kembali kerumah? Kalau tidak kemana lagi aku akan pergi? Aku tak mungkin kesekolah saat aku tak membawa tas juga sepatu ku belum lagi pasti pelajaran pertama sudah mulai sejak tadi. Aku menghabiskan banyak waktu untuk berlari tadi.


Ah berbicara tentang sekolah aku melirik ragil yang masih saja duduk disamping ku sembari menatap ke arahku dengan lekat.


"Eh ragil, kamu kenapa ngk berangkat sekolah? " Tanyaku bingung dan ia juga mengangkat alisnya bingung.


"Lu sendiri? "


Hah? Iya juga yah? Bagaimana yah aku memberikan alasan.


"Hmmm aku lagi ngk bisa berangkat sekarang, soalnya ada masalah dirumah. " Aku menunduk bingung harus bercerita atau tidak pada ragil masalah yang kualami ini? Tapi!aku merasa ragu tanpa sebab.


"Kenapa hmmm? " Ia mengusap rambut ku dengan lembut hingga aku sedikit kaget.


Memang bukan pertama kalinya ia bersikap seperti ini padaku, ia sering berlaku lembut padaku tapi tetap saja aku merasa tak nyaman walaupun kami sudah berteman dekat selama dua bulan lebih, aku tetap saja merasa tidak enak.


"Maaf yah aku masih belum bisa cerita. " Aku berdiri bangkit. Aku tak ingin membuat mas Albar lebih marah lagi jika terus-terusan berkeliaran seperti ini. Nanti ia malah semakin murka saja.


"Aku pulang dulu yah, makasih udah nemenin duduk tadi. " Aku berjalan pelan namun ragil menahan tanganku sekilas.


"Kaki lu kenapa? " Hah? Kaki? Emangnya kenapa?.


Aku melihat kearah lutut ku yang sedikit terkoyak hingga ada bekas darah yang mulai mengering disana. Kenapa bisa terluka yah? Apa karena jatuh pas lari tadi yah?.


"Ah aku juga ngk tau kenapa bisa luka gini. " Aku masih saja merasa bingung. Kenapa aku tidak sadar tadi?.


"Ck, kamu unur berapa sih sampai tidak tau kaki sendiri luka begini. " Ia tersenyum merasa gemas padaku dan tiba-tiba ia mendudukkan aku kembali diatas kursi itu.


"Heheh aku bahkan ngk sadar dan ngerasa apa-apa, Benar tidak sakit sama sekali. " Aku tersenyum dan berniat bangkit lagi namun ditahan oleh ragil.

__ADS_1


"Tunggu disini, jangan kemana-mana dulu. " Ia berjalan pelan meninggalkan aku yang masih saja duduk diatas kursi menurut dengan pesan nya tadi.


Sedangkan ragil saat ini sedang berjalan menuju apotek terdekat untuk membeli beberapa obat untuk mengobati luka di lutut zhia.


Ia tersenyum saat sudah mendapatkan obat itu"Dia umur berapa sih sampai tidak tau kalau kakinya sedang luka, menggemaskan sekali. "Ragil tersenyum saat melihat zhia yang duduk saja diatas kursi.


" Kamu bawa apa? "Aku bertanya saat kulihat ragil datang dengan sebuah kresekan.


Ia tersenyum kearah ku" Luka kecil gini juga jangan dianggap sepele, bisa jadi infeksi dan akan membuat kondisi mu semakin parah nanti nya. "Ia berbicara lembut dengan memulai mengobati luka dilutut ku itu.


" Akhh. "Tadi tidak terasa sakit sama sekali tapi saat ragil mulai mengoleskan betadine baru terasa sedikit perih.


" Hmm tuh kan, lu aja sampe meringis begitu. "Ia mengobati luka di lutut ku dengan lembut dan terlihat ia seperti seorang dokter saja saat ini. Pasti akan banyak pasien yang datang kerumah sakitnya jika ia jadi seorang dokter nanti nya. Aku juga akan mendukung ia jika ia mau menjadi seorang dokter.


" Ragil, cita-cita kamu apa? "Aku bertanya dengan wajah penasaran.


Ia terlihat berpikir kemudian melihat kearahku" Belum terpikirkan sama sekali, ngk ada yang gua gemari saat ini. "Wah sayang sekali, padahal kan nilainya bagus apalagi saat menyangkut sains belum lagi ia juga memiliki banyak potensi.


Ia terlihat sedikit memicing namun masih fokus pada pengobatan nya di lutut ku hingga pada sentuhan akhir ia menyematkan sebuah Flaster untuk menutupi luka ku agar tidak kemasukan debu juga hal-hal yang bisa menyebabkan infeksi.


" Dokter? Kenapa lu bisa kepikiran kesitu? Gua aja ngk pernah mikir sampe sejauh itu. "Ia duduk disamping ku sembari melihat kearah Jalanan juga.


" Aku ngerasa kalau ragil itu sangat cocok untuk jadi seorang dokter, mulai dari segi keterampilan kamu sangat pintar dan juga bisa melakukan banyak hal. Aku yakin kamu akan berhasil jika jadi seorang dokter. "Aku tersenyum lebar karena bangga dengan pendapatku itu.


Kukirim ia yang masih saja diam melihat kearahku dan menatap lekat. Apa ia benar-benar tidak pernah memikirkan itu yah? Padahal sangat cocok untuk nya.


" Masa sih? Gua sama sekali ngk yakin tuh. "Wah bagaimana ia tak yakin sih? Padahal kan benar-benar sangat cocok untuk nya.


" Yah itukan menurut aku heehe, tapi apapun yang ragil pilih aku pasti bakal dukung kok heeh. "Aku tersenyum lebar lagi begitu juga dengan nya ikut tersenyum juga.


" Trus lu gimana? Cita-cita lu apa? Apa lu memang ingin tetap jadi seorang model atau lu punya keinginan lain? "Aku kaget saat ragil bertanya seperti itu.

__ADS_1


Aku juga tidak tau apa sebenarnya cita-cita yang ku ingin kan, aku hanya bisa menilai orang lain tapi tidak bisa menilai bakatku. Berbicara tentang cita-cita ku, aku sebenarnya tidak ingin menjadi seorang model karena terlalu berbahaya bagiku, apalagi terkadang banyak pria disekeliling ku sembari memberikan tatapan yang membuat ku takut. Tapi aku sungguh tak tau apa bakatku.


" Aku juga belum kepikiran heheh. "Ia tersenyum dan mengacak rambut ku hingga sedikit berantakan.


" Makanya urus dulu diri lu baru orang lain. "Aku tersenyum karena ucapan ragil memang benar.


" Aku harap aku bahagia kedepannya dan bisa terbebas dari belenggu hidupku mungkin itu saja sudah cukup untuk ku. "Aku tersenyum.


" Maksudnya apaan yah? Kok gua rada gagal faham. "Aku hanya diam saja tanpa menjawabnya.


" Oh ya gil, aku permisi pulang dulu yah. "Aku bangkit.


" Yaudah gua antar aja gimana? Lagian arah rumah ku disana kan? Gua juga mau kesana sekalian aja gimana? "


Aku sih mau-mau saja, tapi aku takut mas Albar akan marah jika ada yg tau keberadaan rumahnya apalagi teman sekolah ku, ia tak akan suka.


Aku dengan cepat menggeleng"ngk usah deh gil, aku jalan aja sekalian olah raga. "


Ia terus saja memaksa tapi aku juga bersikeras tak mau, aku belum siap kalau ragil tau rumah mas albar.


Saat ragil sudah siap menyalahkan mesin mobilnya tiba-tiba ia mendapat sebuah panggilan dan ia tak jadi kerumah om nya karena ada hal yang lebih mendesak.


"Yahh maaf yah, gua mungkin emang ngk bisa nganterin lu soalnya mamah butuh gua ada urusan penting soalnya. Maaf yah. " Ia terlihat sangat merasa bersalah padahal aku sangat bersyukur sekali.


Aku dengan cepat mengangguk dan ia pun mulai melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. Aku bernafas lega.


Sekarang aku harus kembali kerumah dengan hati yang was-was.


🍁🍁bersambung 🍁🍁


Jangan lupa like komen dan vote❤

__ADS_1


Pai pai say 💋


__ADS_2