
🍁🍁Jangan pernah mencoba untuk memberikan ku harapan saat kamu adalah orang yang mematahkan harapan ku itu🍁🍁
Lagi-lagi aku harus menjalani hariku dengan rasa was-was, bagaimana lagi aku akan menghadapi sikap mereka padaku disekolah? Aku ingin melawan tapi aku tak sanggup untuk menghadapi mereka semua. Aku tak sekuat itu. Belum lagi saat aku ingin mencoba melawan aku takut akan menyebabkan masalah untuk mas Albar.
Seharian ini aku duduk di kursi ku menahan setiap ocehan mereka padaku. Tak habis-habisnya mereka menghinaku dengan segala ujaran kebencian, umpatan dan bahkan mereka sampai tega melempari ku dengan beberapa benda yang beragama jenisnya mulai dari kotak pensil, pulpen dan sisa makanan hingga baju seragam ku kotor.
Lea adalah orang yang paling semangat memperlakukan ku seperti itu. Aku sungguh tidak menyangka ia sejahat itu padaku. Awalnya aku masih bisa maklum dengan perlakuan nya itu. Kukira ia hanya sedang kesal saja hingga aku masih bisa memaafkan nya. Namun, sekarang ia sudah sangat kelewatan dan aku hampir saja membencinya. Aku sungguh tak menyangka.
Ragil sendiri sejak kejadian semalam semakin menjauhiku, ia bahkan selalu menghindari bersitatap muka dengan ku. Dirumah besar saja ia akan pergi setelah melihat ku. Aku juga hampir tak tak percaya dengan apa yang ia lakukan semalam. Tapi tetap saja aku yakin ragil tak bermaksud melakukan itu. Ia pasti sedang diburu rasa kesal. Namun, tak menutup kemungkinan aku sangat kecewa dengan nya. Aku berharap ia yang akan jadi pembela ku tapi nyatanya ia juga berpikir aku seperti yang mereka rumor kan.
Aku sudah tak sanggup lagi dengan apa yang mereka lakukan itu.
"Kenapa kalian selalu menghakimi orang lain tanpa tau kebenaran nya? " Aku berdiri dan berbicara seperti itu dengan tangan gemetar hebat. Sangat susah untuk ku memulai ini.
Mereka terdiam sebentar dan tertawa setelah itu. Mereka bahkan tak mendengarkan apa yang ku katakan.
"Kalian pernah melihat ku menggoda om-om? Kalian pernah melihat ku memberikan tubuhku ini agar bisa menjadi model? Kalau kalian pernah melihat nya dan mempunyai bukti baru kalian bisa mengkritik ku sepuas kalian. " Aku menahan air mataku dengan tangan yang gemetar hebat. Aku tak tahan lagi dengan perlakuan ini. Mereka sangat tidak perduli dengan perasaan ku.
Mereka masih saja merasa omongan ku ini adalah lelucon. Mereka memang bukan manusia, mereka sangat keji untuk disebut sebagai manusia.
"Kalian sangat munafik untuk disebut sebagai teman, apa kalian ingat saat pertama kalinya aku datang kesini? Kalian semua mencoba mendekat padaku dan sangat perhatian namun, hanya karena berita yang belum jelas kebenaran nya kalian langsung memperlakukan ku seperti manusia paling hina. Kalian tidak pernah berpikir untuk mencoba mengerti apakah ini benar atau hanya berita buatan. Kita tidak tau apakah diantara kita masih banyak yang lebih buruk. Mungkin kita yang lebih buruk dibanding orang itu tapi keburukan kita tertutupi, apakah kalian sudah merasa paling benar? Coba kalian pikirkan bagaimana jadinya jika kalian berada diposisi ku? Apa kalian akan sanggup? "
Air mataku sudah tak bisa kutahan lagi. Mereka sudah keterlaluan padaku.
Dan kukira setelah mengatakan itu mereka akan sadar bagaimana perasaan ku. Tapi mungkin hati dan jiwa mereka sudah tertutup hingga tak bisa merasakan nya.
"Alah, ja*lang yah ja*lang ngk usah banyak omong deh. " Yeri dengan suara kencang nya hingga yang lain ikut menyoraki ku.
Setelah bel pulang berbunyi sangat lantang aku dengan malas keluar dari kelas setelah sekolah sudah mulai sepi. Aku sengaja menunggu mereka semua pergi agar aku tidak usah mendengar umpatan mereka sepanjang jalan menuju gerbang.
Saat aku hendak berjalan melewati pintu tiba-tiba aku merasakan tarikan ditanganku. Ada apa sebenarnya?.
"Hah? Kenapa kalian membawa ku kesini? Siapa kalian? " Tanyaku heran saat beberapa anak laki-laki kini sudah ada dihadapan ku.
Mereka tak menjawab dan hanya tersenyum menyeramkan. Jangan bilang mereka ingin berbuat sesuatu padaku?.
"Karena kamu sudah sering dibobol oleh om-om berduit, jadi tidak salah dong kita juga mau nyoba." Ucap seseorang yang sama sekali tidak ku kenali.
Aku langsung panik bukan main, kenapa anak-anak SMA saat ini sangat mengerikan sekali? Bisa-bisanya mereka bepikir untuk melakukan itu pada anak seumuran mereka. Aku sungguh tak mengerti.
Dengan cepat aku mencoba berontak dari genggaman mereka.
"Diamlah agar kami bermain lembut, kalau kamu jinak makan kami tak akan menyakiti mu. " Ucap pria tadi. Mungkin ia adalah bos nya disini.
__ADS_1
Aku tak akan semudah itu untuk kalian lecehkan. Aku tak ingin para bajingan seperti kalian yang akan merenggut sesuatu yang sudah kujaga selama ini.
Dengan keras aku menginjak kaki orang yang memegang tanganku hingga ia mengerang dengan kuat dan aku langsung menggunakan kesempatan itu untuk lari.
"Akhhh, " Rambut ku ditarik paksa oleh bosnya itu. Rasanya sangat sakit seolah semua rambut ku akan tercabut.
"Sudah ku katakan kalau kamu diam saja aku tak akan bermain kasar. Tapi kamu tidak mau mendengarkan ku. " Ia mendekat dan ingin mencium bibirku namun dengan cepat ku tendang sesuatu dibalik celananya hingga ia langsung memekik menahan sakit.
"Akhh, " Ia meringis memegangi sesuatu dibawah sana. Aku tak akan tinggal diam saat kalian mencoba macam-macam padaku.
Plak,
Plak,
Aku merasakan sesuatu mengenai kedua pipiku hingga terasa sangat perih. Mereka menamparnya berkali kali. Sungguh menyakitkan sekali.
Srek,
Mereka menarik paksa baju seragam ku hingga seluruh kancingnya terbuka dan berserakan dimana-mana.
Aku langsung panik dan mencoba untuk menutupi tubuh bagian depanku.
Mereka tersenyum sangat senang dan mulai mendekat ke arah ku namun, tiba-tiba saja ada suara pengumuman bahwa akan ada pemeriksaan kelas.
Bohong namanya kalau aku tidak takut sama sekali dengan mereka, aku sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk selamat dari mereka.
"Hiks,, hiks,, " Aku memeluk tubuhku yang bagian atas hampir saja mereka telanjangi.
Tiba-tiba saja aku merasakan pelukan dari belakang. Aku langsung kaget dan menjauh.
"Ragil? "
Ia menatapku dengan tatapan penuh iba. Aku langsung menutupi tubuhku dan menjauh darinya, mencoba untuk aman tidak salah kan?.
Tiba-tiba ia membuka jaketnya lalu mendekat kearahku memakaikan ku jaketnya.
"Maafin gua. " Tiba-tiba saja dia meminta maaf dan memeluk ku dengan erat.
Air mataku sudah tak bisa lagi kutahan. Aku sungguh sudah kecewa padanya namun seketika luluh setelah mendengar kata maaf darinya.
"Hiks,, aku takut gil hikss. " Aku sudah tak bisa lagi menahan tangisanku karena merasa sangat takut dengan mereka.
Ragil menepuk pelan punggung ku lalu mencoba untuk menenangkan ku.
__ADS_1
"Jangan takut lagi, maafin gua karena terlambat datang. " Ia memeluk ku lagi dengan erat hingga aku semakin menangis dibuatnya.
Setelah aku mulai tenang aku menceritakan semuanya mulai dari awal aku bertemu dengan mas Albar karena dijual oleh paman adil. Hingga pernikahan kami dan kepindahan ku kesekolah ini. Belum lagi permasalahan ku dengan lea semuanya kuceritakan pada ragil.
Ia melihat kearah ku dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ada bulir air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
"Maafin gua udah salah sangka sama lu, maafin gua udah hampir lecehin lu, jujur, saat itu gua sendiri ngk sadar sama ap yg gua lakuin. Maafin gua. " Ragil memegang tangan ku dan langsung kubalas dengan anggukan pelan.
"Aku tau kok kamu ngk bermaksud, maafin aku juga ngk bisa jujur dari awal." Aku merasa bersalah karena sudah tidak bisa jujur diawal hingga ragil memiliki perasaan padaku yang jelas-jelas adalah istri dari pamannya sendiri.
Ia mengangguk dengan pelan.
"Kita pulang sekarang yah gil, sebelum mas Albar datang dan melihat ku seperti ini. "
Ragil mengangguk dengan pelan lalu memperbaiki penampilan ku.
Kami pun berangkat menuju rumah meninggalkan sekolah.
Sedangkan Albar saat ini tengah berdiri dengan mengepal tangannya kuat. Emosinya membara dan rahangnya mengeras melihat sesuatu yang ada didepannya kini.
Untung saja selama ini ia sengaja membawa kunci cadangan rumah milik Naya hingga kini dengan tidak sengaja ia masuk kesana dan melihat pemandangan yang sangat membuat ia marah.
Naya dan seorang laki-laki sedang terbaring diatas kasur tanpa mengenakan busana sama sekali. Wahh baru beberapa hari saja ia tak berkunjung gadis itu sudah berani bermain di belakang nya.
Albar sama sekali tak merasa cemburu dengan itu. Hanya satu alasan Albar sangat kesal dan marah kini. Ia sangat benci dengan sebuah pengkhianatan.
"Wahhh, tidurnya lelap sekali yah? Hingga tamu datang tak disambut sama sekali. " Albar bertepuk tangan hingga suatu manusia yang sedang berpelukan itu langsung terbangun dan kepalang karena melihat Albar.
"Albar? Kenapa kamu bisa disini? " Naya langsung gelagapan mencari bajunya namun ia tak dapat menemukannya.
"Mencari ini yah? "Albar menatap murka kearah naya hingga ia langsung takut.
" Saya tunggu lima menit kalian harus sudah selesai memakai pakaian, dan langsung turun kebawah menghadap saya. "Albar dengan kesal meninggalkan kamar itu.
Jujur saja hatinya sama sekali tidak merasakan sakit akibat penghianatan Naya. Ia hanya dipenuhi dengan amarah kini.
🍁🍁bersambung 🍁🍁
Waduhh kecyduk nih gaes. Gimana Albar. Bahagia ngk dapat kejutan dari Naya🤣🤣
Jangan lupa yah like komen dan vote😍
Pai pai say🍁
__ADS_1