
🍁🍁Mengatakan maaf memang semudah membalikkan tangan, tapi. Jujur saja memaafkan itu tidak semudah meminta maaf🍁🍁
Albar masih terdiam kaku mendengar semua ucapan zhia tadi. Sungguh ia memang salah besar disini. Bisa-bisanya ia lupa bahwa zhia adalah gadis SMA yang membutuhkan banyak perhatian. Ia bahkan lupa dengan uang sekolah zhia hingga zhia harus bekerja.
"Yatuhan, kenapa sih dengan ku? Kenapa bisa aku sejahat ini? " Albar merasa bingung.
Ia melupakan perjanjian mereka, dan sekarang ia malah marah kepada zhia. Harusnya ia bangga pada zhia yang mencari inisiatif saat Albar melupakan kewajiban nya itu.
Tiba-tiba panggilan masuk ke HP Albar hingga ia sedikit kaget.
"Halo kak. "
"Ada apa dengan kalian? Apa yang kakak lihat tadi? "
Albar sudah menebak kalau kakaknya pasti akan bertanya banyak hal. Ia bingung harus jujur atau malah mencari alasan saja.
"Ah itu hanya sebuah kesalahpahaman kak," Ucap Albar dengan pelan.
"Kesalahpahaman apa kamu bilang? Jelas-jelas istri kamu bekerja disana tadi. Lalu ada apa dengan panggilan tuan itu? " Viona terdengar sangat curiga.
"Zhia tidak sedang bekerja kak, aku juga sempat berpikir seperti itu hingga marah. Ternyata ia hanya membantu kenalan nya disana. Dan untuk panggilan itu kami memang sering bercanda dengan memanggil panggilan tuan dan nona. Yahh begitulah gaya kami hehehhe. " Albar membuat tawa seolah ia benar-benar gemas dengan panggilan itu.
"Benarkah? Kamu tidak sedang beralasan kan? Kakak sedikit curiga dengan pernikahan kalian. Itu yang ingin kakak bahas tadi. Kalian terlihat tidak seperti pasangan. Ada sesuatu yang janggal menurut kakak. "
Albar sedikit panas dingin karena kecurigaan kakaknya yang sangat benar adanya.
"Kakak pasti sedang banyak pikiran, jangan lagi mikir yg lain-lain. Kakak istirahat saja. Aku tutup yah kak. " Albar langsung memutuskan sambungan.
Ia sedikit bingung kenapa bisa kakaknya begitu curiga dengan hubungan nya dan zhia. Padahal saat bersama diacara pesta mereka sudah berusaha terlihat natural.
"Ahh sudahlah, dimana dia? Aku Sungguh harus meluruskan masalah tadi. " Albar memasuki kamar mencari keberadaan zhia namun ia tak ada disana.
"Dimana dia? " Albar terus saja mencari keberadaan zhia.
Langkahnya terhenti saat melihat zhia sedang sibuk di dalam kamar tamu dibawah.
"Sedang apa dia disana? "
Albar membuka pintu kamar dengan pelan hingga zhia yang sedang menyetrika pakaian langsung melihat kearah nya namun hanya sesaat saja karena setelah itu ia fokus kembali menyetrika pakaian.
Albar Memilih untuk duduk di sofa kamar itu. Ia melihat punggung zhia dari belakang. Entah kenapa hatinya terenyuh saat melihat itu. Terlihat sangat rapuh dan memendam banyak luka.
__ADS_1
"Khem, sedang apa kamu? "
"Bukankah tuan bisa melihat setrika ditangan saya? " Zhia menjawab dengan seadanya saja dan fokus untuk menyetrika kembali.
Albar langsung merutuki kebodohan nya. Ia sangat lemah dalam hal berbasa-basi. Karena selama ini ia hidup dalam ke ceplas-ceplosan.
"Soal tadi, saya minta maaf karena sudah bersikap kasar padamu. " Albar memulai pembicaraan dengan sedikit kaku.
Sebenarnya sangat sulit untuk nya mengucapkan kata maaf itu, tapi ia memang sudah sangat salah karena telah mengabaikan kewajiban nya dan menuntut kewajiban zhia padanya. Ia bahkan sempat main tangan tadi.
"Tuan tidak pernah salah. " Zhia masih fokus menyetrika tanpa melihat kearah Albar.
"Kenapa ia hanya meminta maaf karena bersikap kasar tadi? Bagaimana dengan ciuman pertama ku yang ia ambil dan juga ciuman kasarnya setelah itu? Apa itu juga bukan kesalahan nya? " Batin zhia kesal karena Albar hanya meminta maaf soal sikap kasarnya tadi.
"Saya juga minta maaf karena sudah melupakan kewajiban saya membayar uang sekolah mu. Untuk kedepannya saya akan membayarnya tepat waktu. "
Albar melihat kearah zhia yang masih saja sibuk menyetrika.
"Syukur lah jika tuan memiliki niat seperti itu. Semoga bisa ditepati tuan. "
Albar sebenarnya merasa kesal karena sejak tadi zhia berbicara sembari membelakangi nya. Namun ia mencoba untuk menahan dirinya untuk tidak rewel. Memang sudah sifatnya tidak bisa Terima saat seseorang bersikap tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Maafkan saya juga karena sudah tidak menghargai mu selama ini. Maaf karena sudah membawa perempuan lain kerumah ini tanpa peduli dengan perasaan mu. "
Albar yang sedang duduk diatas sofa langsung bangkit dari sofa mendekat kearah zhia.
Buru-buru ia matikan saklar dan mencabut setrikaan "Berhati-hati lah saat sedang berhubungan dengan benda seperti ini. " Albar langsung menarik zhia menuju tempat tidur dan mendudukkan nya disana walaupun awalnya zha sempat menolak namun Albar berhasil mendudukkan zhia.
"Bagaimana aku tidak kaget saat ia berbicara seperti itu? Dia pikir aku cemburu apa saat ia sedang bersama Naya? Tidak sama sekali. Tak ada waktu untuk ku cemburu dengan mereka. " Batin zhia merasa bingung.
Albar datang dari arah ruang depan dengan kotak p3k.
"Makanya berhati-hati lah saat sedang bekerja. " Albar dengan mengeluarkan obat yang cocok untuk luka bakar.
"Biar saya saja tuan. " Zhia mencoba meraih salep itu namun Albar menolak.
"Kamu diam saja kenapa sih? Selalu saja membantah. " Albar.
"Tuan juga kenapa? Saya kan bisa mengobati nya dengan tangan saya sendiri. Kenapa harus tuan? " Zhia lagi-lagi tak bisa Terima dengan paksaan Albar.
"Sudahlah kamu diam saja. "
__ADS_1
"Tidak mau. "
"Hah? Tidak mau? Kenapa sih kamu itu bandel sekali? " Albar merasa kesal karena zhia sungguh keras kepala.
"Tuan juga kenapa sih suka sekali memaksa kehendak tuan? " Zhia tak mau kalah dan memasang wajah kesal juga.
"Yah mau gimana lagi kalau sifat saya sudah begini? " Albar dengan wajah lempeng nya.
"Saya juga begitu tuan, mungkin sudah sifat saya. Kenapa malah tuan yang sewot? " Zhia.
"Diamlah."
Albar terus saja mengobati luka ditangan zhia.
"Tidak mau, tuan juga berhenti memaksa saya. "
"Diam atau saya cium kamu sampai bibir kamu bengkak lebih bengkak dari malam itu. "
Seketika zhia langsung diam karena ancaman itu.
"Dasar laki-laki batu. Ngeselin. " Zhia membatin.
"Yatuhan, melihat nya begini malah membuat mu tak bisa menahan diriku, kamu harus sadar Albar!!! Dia bukanlah gadis yang pantas untuk membuat mu bersikap seperti ini. " Albar membatin bingung dengan perasaan nya.
"Akhh kesal saya Karena ke bandelan mu. Obati saja sendiri. " Albar berdiri dan keluar dari kamar itu karena merasa tak aman jika mereka berdua berlama-lama disana.
Zhia sendiri tak hentinya berdumal kesal karena Albar.
"Siapa juga yang senang melihat nya? Tidak ada yang meminta diobati oleh laki-laki batu bata seperti nya. Tidak sudi. " Zhia melanjutkan mengobati luka di tangannya.
Ia kembali merasa was-was dengan Viona. Bagaimana jika viona tau dengan hubungan yang penuh kepalsuan ini dan memberitahu ayah. Zhia tak bisa membayangkan bagaimana marahnya Albar padanya. Karena zhia sempat keceplosan tadi dengan memanggilnya dengan sebutan tuan.
"Yatuhan, bagaimana ini? " Batin zhia.
🍁🍁bersambung 🍁🍁
Yatuhan!!!
Kenapa malah gemesh sama mereka berdua? Padahal mereka lagi adu mulut loh kok jatuhnya malah kayak saling menggoda sih? 🤣🤣
Dahlah aku mah anti Banget sama yang uwuwu. Aku iri gengs 🤣
__ADS_1
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
Pai pai say 🍁