Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
39. Tarikan


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸAku takut saat aku mulai berharap disitu pula lah kau ingin membuat ku menyerah ๐Ÿ๐Ÿ


ย  ย  Setelah selesai bekerja aku pamit pada mbak nana yang juga sudah dijemput oleh suaminya. Mereka memang sangat langgeng sekali, tak jarang ia dan suaminya membuat ku merasa iri. Dan bertanya apakah dunia pernikahan memang seindah mereka? Penuh dengan rasa cinta dan juga kebahagiaan berbeda dengan pernikahan yang kujalani saat ini. Aku sebenarnya tidak seperti seseorang yang sudah menikah. Malah seperti seorang tahanan saja yang tak tau kapan akan dipulangkan.


"Huh, hari sudah sore tapi aku sudah sangat kelelahan. Ayolah zhia masih banyak pekerjaan yang menunggu di rumah. " Aku berjalan lebih cepat lagi menuju terminal bus tujuan kerumah.


Perlahan kubuka pintu rumah dan kulihat mas Albar sedang duduk diatas sofa sembari memegang ponselnya seperti sedang mencoba menghubungi seseorang. Dimana mbak Naya? Apa ia tak pulang bersama dengan mas Albar? Ah kenapa aku perduli sih?.


"Kenapa baru pulang sekarang? " Ia tiba-tiba bersuara dengan keras hingga aku yang hendak menutup pintu langsung kaget bukan main.


"Eugh,, maaf tuan tadi saya sedang melakukan pekerjaan kelompok. " Aku menunduk.


Ia terdengar mendesah pelan dan kasar "Ck, kenapa sih sejak tadi ia tak bisa dihubungi? Kemana saja dia? Apakah masalahnya belum juga selesai? " Mas Albar terlihat sangat kesal sembari terus mencoba menelpon seseorang yang ia ingin hubungi itu.


Aku hanya diam saja dan setelah beberapa saat aku hendak berjalan keatas untuk menyiapkan air untuk mas Albar mandi karena kulihat ia juga mungkin baru saja pulang dari kerja.


"Mau kemana kamu? " Tanya mas Albar saat aku sedang berjalan pelan menuju tangga.


"Saya akan menyiapkan air untuk tuan mandi. Permisi tuan. " Aku berjalan keatas dan tak lama dari itu saat aku sedang di dalam kamar mandi kudengar pintu terbuka. Pasti mas Albar yang datang.


"Ck, apa sesibuk itu hingga mengabaikan ku? " Kudengar mas Albar terus saja berbicara kesal sendirian.


Apa ini tentang mbak miska yah? Apa aku beritahu saja apa yang kulihat tadi? Ah tapi kan aku tidak tau tepatnya mereka itu sedang apa? Siapa tau mereka itu adalah keluarga.


"Kenapa lama sekali sih? Menyiapkan air saja sangat lama sekali. " Mas Albar masuk kedalam kamar mandi dengan mengenakan segitiga pelindung alatnya saja. Kenapa dengan nya? Biasanya ia akan mengenakan handuk atau semacamnya.


Aku buru-buru menghadap kearah lain karena tak sengaja melihat sesuatu yang menonjol disana. Pipiku terasa sangat panas karena itu. Yatuhan kenapa dengan pria ini? Apakah ia tak sadar kalau aku adalah gadis yang sudah dewasa. Aku juga punya malu.

__ADS_1


"Silahkan mandi tuan. " Aku perlahan mundur dengan menghadap kearah lain namun tnagnku ditahan olehnya "Jangan lupa siapkan pakaian ku. " Dengan cepat aku mengangguk mengiyakannya.


"Yatuhan, kalau begini terus bisa mati jantungan aku. " Kuelus dadaku karena merasa masih saja berdebar karena mas Albar.


Seperti biasa dan seperti permintaan mas Albar aku sudah menyediakan semua pakaian nya diatas ranjang baik itu semvak, dan karena mas Albar hanya ingin memakai boxer dirumah maka aku hanya menyediakan boxer dan baju kaos saja. Memang dirumah sangat enak memakai baju santai.


Setelah itu aku pun mengambil pakaian ku dan berniat mandi kebawah namun mas Albar sudah keluar dari kamar mandi dan syukur lah kali ini ia memakai handuk untuk menutupi area yang seharusnya tak kulihat itu.


"Mau kemana kamu? " Lagi-lagi ia bertanya. Memang sangat suka sekali yah bertanya.


"Eugh, saya akan mandi kebawah tuan. Permisi. " Aku pun turun kebawah dan mas Albar juga tak berbicara hal yang lain.belum lagi tadi ia hampir saja memakai pakaian dalamnya itu dihadapanku. Untung saja aku buru-buru keluar dari kamar.


"Tuan, makanan sudah selesai saya hidangkan. " Aku mengetuk pintu kamar dan melihat mas Albar masih saja fokus menghubungi seseorang. Apa sejak tadi ia mencoba untuk menghubungi mbak miska?.


Ia hanya diam saja dan berjalan turun kebawah. Aku mengikutinya dari belakang.


"Silahkan makan tuan. " Ku dekatkan minuman air putih itu dan ia hanya mengangguk saja.


"Kenapa kamu hanya berdiri saja? Tidak makan? " Aku menggeleng.


"Saya belum lapar tuan. " Aku hanya tidak nyaman saja makan dengan mas Albar.


"Setiap saya tanya kamu pasti berkata seperti itu, baiklah terserah kamu saja. " Ia lanjut makan dan masih saja fokus dengan ponsel di hpnya.


"Oh iya, dua minggu lagi persiapkan dirimu untuk kita pergi kerumah besar. Jangan mempermalukan saya apalagi mrmbuat masalah! Ingat! Kamu tidak boleh membuat saya malu. Diam saja dan jangan banyak bicara." Tiba-tiba mas Albar berkata seperti itu hingga aku kaget sekali.


Aku sangat takut untuk kesana, apakah aku bisa bergabung dengan keluarga mereka? Bagaimana jika mereka mengolok-olok ku? Aku takut tak bisa bersatu.

__ADS_1


"Kamu dengar tidak? Mas Albar hingga aku langsung menganggukkan kepala.


" Belum lagi kita tidak tau apakah ayah akan meminta kita untuk tinggal disana sementara, banyak maunya dia. Ck menyusahkan saja. "Mas Albar terlihat tidak suka juga.


Aku hanya terdiam saja setelah mengatakan iya. Dari yang kudengar dan kubaca keluarga besar dari orang kaya itu sangat menakutkan sekali. Mereka terlihat dekat namun nyatanya sangat bersaing secara ketat. Bagaimana ini? Apa aku bisa yah menjalani nya? Bagaimana jika aku malah membuat mas Albar malu atau semacamnya?.


" Hei, kenapa dengan mu? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali. "Aku buru-buru menggeleng.


" Tidak apa-apa tuan. "Ia hanya mengangguk saja.


Kenapa mas Albar tidak menikahi mbak Naya dan pergi dengan nya? Akhh aku jadi merasa was-was tanpa sebab. Membayangkan akan dikelilingi oleh keluarga besar mas Albar sudah membuat ku ciut lebih dahulu.


Saat kami menikah waktu itu mas Albar hanya mengundang beberapa saksi saja dan juga hanya ayah dari mas albar saja yang datang. Itu juga kami tidak sempat untuk saling menyapa karena mas Albar yang buru-buru membawaku. Aku belum tau apakah ayah mas Albar mau menerima ku? Aduhh aku semakin kalut saja gara-gara ini semua.


Setelah selesai menyiapkan dan membersihkan meja makan aku pun duduk sebentar disofa sembari berpikir bagaimana aku nanti saat disana? Akhh pusing sekali otakku ini. Kalau terus saja kepaksa berpikir mungkin akan meledak nantinya.


Kubuka pintu kamar dengan pelan dan kulihat mas Albar sudah ketiduran dengan HP yg masih saja ia gengges di telinga nya. Apakah ia masih saja mencoba untuk menghubungi nya? Siapapun itu pasti sangat penting bagi mas Albar.


Aku mendekat ke arah mas Albar dan mencoba untuk membenarkan posisi selimut mas Albar namun tiba-tiba.


Sret,


Mas Albar menarik ku hingga jatuh keatas tempat tidur.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜

__ADS_1


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2