Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
81. Perhatian Albar


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸApapun yang kamu lakukan aku tak akan keberatan, karena itu hakmu untuk melakukan itu๐Ÿ๐Ÿ


Albar dibopong oleh Rian menuju kamar. Mereka memang sengaja pulang kerumah pribadi Albar dari pada kerumah besar. Bisa-bisa ayahnya yang saat ini dirumah tau dengan tak tik gila Albar ini. Ayahnya sangat peka dengan hal-hal seperti itu.


"Saya permisi tuan, kalau ada yang perlu silahkan hubungi saya. " Rian menunduk lalu pergi meninggalkan zhia juga Albar didalam kamar.


"Eh nona, tolong rawat tuan Albar dengan baik. " Tiba-tiba saja Rian datang lagi setelah ia sempat pergi tadi.


"Baik Pak. " Zhia langsung berjalan mendekat kearah Albar yang tengah terbaring di atas ranjang itu.


"Bagaimana perasaan tuan? Apa masih terasa sakit? " Zhia mendekat kearah Albar yang sampai kini masih melihat kearah nya dengan heran.


Matanya tak hentinya melihat kearah zhia. Wanita dihadapan nya tengah berpura-pura kuat kah? Bagaimana ia terlihat biasa saja dengan luka dibibir juga lebam di pipi nya itu?.


"Bagaimana kalau tuan ganti baju dulu, setelah itu tuan istirahat. " Zhia perlahan mengambil ember berisi air lalu handuk kecil.


Setelah itu ia berjalan kearah lemari mengambil baju kaos dan celana boxer untuk Albar.


"Permisi tuan, " Ucap zhia mulai mendekat kearah Albar dan membuka satu persatu kancing kemejanya.


Jantung Albar berdetak tak karuan karena zhia. Ia sangat gugup padahal selama ini ia bahkan biasa saja saat menukar pakaian nya dihadapan zhia. Wajah mereka sangat dekat.


"Bisakah tuan bangkit sebentar? " Zhia mencoba membantu Albar untuk bangkit lalu melepaskan kemeja itu.


Setelah itu zhia perlahan mengusap tubuh Albar dengan handuk basah itu senyum Albar terbit memperhatikan zhia yang sangat fokus merawat dirinya. Kalau begini Albar sangat ingin sakit selamanya agar bisa mendapatkan perhatian zhia. Tanpa ada perlawanan dari gadis itu.


Setelah selesai menggantikan pakaian Albar zhia menyelimuti tubuh Albar.


"Saya permisi tuan," Ucap zhia pergi meninggalkan Albar yang saat ini sedang terbaring diatas ranjang.


Zhia membersihkan dirinya dan mengganti pakaian nya setelah itu ia memasak bubur untuk Albar.


"Tuan, mari makan. " Zhia datang dengan nampan berisi bubur dan minuman.


Albar dibantu oleh zhia untuk bangkit. Dan dengan senyuman tertahan Albar mencoba untuk tidak tersenyum.


Tanpa Albar minta zhia dengan sukarela menyuapi nya. Biasanya saat Albar minta pun zhia tidak pernah mau bersedia melakukan hal-hal semacam ini. Zhia sangat sulit untuk Albar taklukkan.


"Kenapa tuan? Apakah tidak enak yah? " Zhia melihat heran kearah Albar dan menangkap ekspresi seolah mengatakan kalau bubur itu tidak enak.


"Tidak berasa sama sekali. " Albar tersenyum sekilas.


"Benarkah tuan? "


"Kamu tidak percaya dengan saya? "


"Bukan begitu tu,,, mmphh. "


Bibir mereka sudah bersatu, dengan lembut Albar menggerakkan bibirnya dibibir zhia. Menyesap dan meresapi nya.


Zhia merasakan sesuatu yang aneh dalam ciuman Albar kali ini. Biasanya saat Albar melakukan hal-hal seperti ini ia akan marah dan berontak. Namun, kali ini ia tidak menolak nya sama sekali, tanpa alasan ia sangat menginginkan nya juga.

__ADS_1


Namun, zhia mencoba untuk menepis rasa itu. Buru-buru ia dorong Albar hingga bibir itu terlepas.


Tangan zhia sudah mulai melayang menampar wajah pria yang selalu lancang menciumi nya itu. Namun, melihat wajah Albar yang memelas ia tak sampai hati.


"Masa kamu tega sih nampar orang sakit. Itu namanya penganiayaan terhadap orang tidak berdaya. " Albar dengan wajah tidak tahu dirinya itu.


"Tidak berdaya tapi punya tenaga buat cium bibir saya, apa saya terlihat gampangan yah menurut tuan? Hiks,, " Tanpa alasan zhia sudah tak tahan lagi.


. Hatinya sangat sakit secara mendadak, segala kepahitan hidupnya kini tak bisa ia tahan. Belum lagi tadi ia mendapatkan banyak sekali insiden disekolah datang lagi Albar yang semena-mena padanya.


Albar yang melihat itu langsung panik bukan main.


"Loh kenapa kamu menangis? "


"Hiks,, "


Zhia tak menjawab sama sekali, ia hanya terus menangis tak peduli sejak tadi Albar melihat kearahnya dengan heran.


Greb,


Tiba-tiba saja zhia merasakan sebuah pelukan dari arah Albar.


"Sudahlah kamu diam yah, maafkan aku kalau kamu merasa tersinggung. " Albar memeluk zhia yang masih saja menangis itu.


Albar tersenyum melihat zhia yang sangat lucu baginya.


"Hiks,, tuan jahat hiks,, "


"Jangan menangis lagi, aku minta maaf yah. " Albar mencoba untuk mendiamkan zhia yang masih menangis itu.


"Hiks,,. "


"Tumben sekali kamu menangis begini? Apa ada masalh yah? " Tanya Albar yang masih saja memeluk zhia.


"Hiks,, tuan yang salah. Hiks,, "


"Iya iya aku yang salah, makanya diam dulu. Kamu tidak biasanya menangis begini. "


"Hikss,, saya lelah tuan. "


Albar memicing bingung dengan pernyataan zhia itu.


"Kamu sebenarnya kenapa? Kamu pasti ada masalah kan? Apalagi saat melihat mu datang dengan kondisi berantakan tadi. " Albar langsung melepaskan pelukannya lalu melihat kearah zhia.


Zhia yang awalnya menangis itu langsung terdiam dan menutup mulut karena sudah keceplosan tadi.


"Tidak tuan, saya baik-baik saja. "


"Kenapa kamu menangis kalau baik-baik saja, laku. Ada apa tadi kamu bilang kamu lelah? " Albar benar-benar sangat curiga bahwa zhia menyimpan sesuatu darinya.


"Saya benar-benar baik-baik saja tu,, akhhh. " Zhia meringis kesakitan saat Albar mencium tepat disudut bibirnya yang terluka itu.

__ADS_1


"Kenapa sih tuan lancang sekali? Saya menangis karena tuan selalu saja dengan mudahnya mencium saya. " Wajah zhia kesal mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan, kamu sebenarnya kenapa? Kamu terlihat seperti menyembunyikan sesuatu dari ku. " Albar semakin curiga.


"Saya baik-baik saja tuan, sa,, "


"Sudahlah kamu diam disana, masih saja mencoba berbohong padahal buktinya sudah nyata sekali. " Albar bangkit dari tempat tidur lalu mengambil p3k.


"Loh, bukannya tuan sedang sakit yah? " Zhia melihat heran kearah Albar yang lupa dengan rencana cari perhatian nya dengan berpura-pura sakit.


"Sudahlah kamu diam saja, kamu lebih membuat ku khawatir daripada diriku sendiri. "


Zhia memicing heran mendengar itu dari Albar. Kenapa tiba-tiba sekali berbicara seperti seorang suami sedang mencemaskan istrinya.


"Saya baik-baik saja tuan, sungguh. "


"Diam lah biar kuobati luka mu ini. "


Deg,


Jantung zhia tiba-tiba berdetak setelah mendengar suara lembut itu dan tangan Albar dengan perlahan mengobati bibir zhia.


"Kenapa tiba-tiba ia sangat perhatian dengan ku? Bukankah yang sakit adalah dia, kenapa malah aku yang dirawat? "


"Biar saya sendiri tuan. "


"Ck, diamlah kamu kenapa bandel sekali. Nurut kepada suami itu hukumnya wajib. "


"Kenapa malah tiba-tiba bertingkah seolah kami benar-benar pasangan suami istri sih? Kan jadi tidak nyaman. " Batin zhia terus saja merasa Heran karena sikap Albar.


"Kalau ada masalah cobalah bercerita, kamu punya saya untuk bisa kamu jadikan sebagai tempat bersandar. "


Deg,


Lagi-lagi ucapan pria batu bata itu membuat jantung nya berdetak. Kenapa tiba-tiba sekali ia merasa nyaman dekat dengan laki-laki ini?.


"Saya Baik-baik saja tuan. "


"Baiklah, kalau memang begitu syukur lah. Sekarang kamu istirahat dulu. " Albar memaksa zhia untuk berbaring dikasur padahal zhia sama sekali tidak mau.


"Tidur atau aku tiduri?"


Langsung saja zhia memejamkan matanya menutup dirinya dengan selimut mendengar ancaman Albar tadi.


Albar tersenyum melihat itu.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Bagaimana pendapat kalian dengan part ini?


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜

__ADS_1


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2