Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
29. aku mengerti


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿaku tau posisi ku tapi bisakah kamu menghargai posisi itu๐Ÿ๐Ÿ


ย ย  Aku masih saja duduk disamping rumah dengan buku yang ada dipelukan ku juga tas yang masih tersandang di punggung ku.


Apa mereka masih belum selesai yah? Aku merasa mulai ngantuk dan hari sudah mulai gelap sekali. Aku takut akan mengganggu jika masuk dengan tiba-tiba seperti tadi. Aku juga merasa tidak nyaman dengan pemandangan yang ku lihat tadi. Sungguh tidak pantas untuk dilihat oleh mataku.


Aku merasa mulai sangat mengantuk hingga tak bisa menahannya lagi. Aku pun bersandar di dinding lalu mulai memejamkan mataku.


Baru beberapa saat saja setelah aku memejamkan mataku kudengar pintu terbuka dan memperlihatkan mas Albar yang keluar lalu berjalan ke arahku.


Aku langsung berdiri dengan tegak dan menunduk. Aku menunggu kata yang akan ia katakan itu dan ia hanya diam saja melihat ke arahku.


"Ah saya akan siapkan makan malam secepatnya tuan. " Aku berjalan memasuki rumah karena merasa sangat canggung dengan mas Albar. Ahh sungguh aku hampir keringat dingin gara-gara Mas Albar.


Mas Albar hanya diam saja mengikutiku dari arah belakang. Aku perlahan masuk kedalam kamar mas Albar dan di sana sudah ada gadis bernama Naya itu sedang berbaring diatas tempat tidur dengan gaya yang sangat membuat ku jijik. Ahh sudahlah.


Aku diam saja dan mulai mengambil bajuku dari tempat nya dan mulai menggantinya di dalam kamar mandi.


Aku keluar dari kamar mandi dan gadis bernama Naya itu terus saja memperhatikan ku.


"Khem, kamu memang tidak sopan yah jadi pembantu! Sudah tau kedatangan tamu penting seperti ku masih saja diam tak menyapa apalagi menghormati ku. " Aku langsung diam dan berbalik ke arahnya karena kaget saat ia berkata seperti itu.


Yatuhan! Aku bukanlah pembantunya, aku adalah istri dari laki-laki yang saat ini ia sebut sebagai pacarnya itu. Lagian kan dia itu tamu penting mas Albar bukan untuk ku.


Tapi, aku harus bersabar untuk bisa bertahan hidup di dunia penuh fatamorgana ini.


Aku menunduk dan tersenyum kearahnya "Maaf mbak. " Aku pun keluar dari kamar itu namun aku melihat sekilas kearahnya yang sedikit kesal itu.


Saat aku turun dari tangga kulihat mas Albar sedang duduk disofa dan lagi-lagi melihat kearahku dengan tatapan tadi. Aku tak mengerti dengan nya.

__ADS_1


Aku hanya diam saja setelah menunduk padanya. Aku pun mulai mengeluarkan satu-persatu bahan makanan yang akan aku masak malam ini untuk mereka berdua.


Sedikit memilukan rasanya saat aku memikirkan kalau ini tidaklah benar. Aku adalah istri nya eh sebenarnya seseorang yang ia beli. Tapi aku merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini. Aku harus memasak untuk mereka berdua yang jelas berselingkuh di depanku. Akhh aku jadi pusing karena ini semua.


Belum lagi uang sekolah ku yang sampai kini belum dibayar oleh mas Albar. Aku takut untuk memulainya dari mana, aku takut ia akan marah jika aku lancang menanyakan itu.


Tapi, jika tidak ku beritahu ia mungkin lupa karena saat ini sedang bahagia dengan Naya. Atau mungkin ia memang sengaja melupakan itu karena merasa aku tidak lah penting.


Baiklah, aku akui aku tidak sepenting itu baginya. Aku juga sadar akan posisi ku. Tapi, perjanjian tetap lah sebuah perjanjian. Karena kami sudah sepakat saat itu.


"Akhh." Aku kaget saat kulihat dan kurasakan pisau yang tajam itu sedikit mengoyak jari telunjuk ku.


Begini kalau aku sedang tidak fokus, banyak hal yang akhir-akhir ini membuat ku kepikiran.


"Kenapa kamu? " Mas Albar tiba-tiba datang kearahku dan bertanya begitu.


"Ah tidak apa-apa tuan, akan saya siapkan secepatnya. Mungkin nyonya sudah kelaparan. " Aku sedikit menunduk merasa sangat buruk setelah bahkan memanggil gadis yang bersama suamiku dengan sebutan nyonya. Aku bisa saja memanggilnya kakak, mbak tapi aku takut mas Albar akan marah jika kukatakan begitu. Lebih baik aku cari aman saja dari pada kena batunya sendiri.


Mas Albar hanya diam saja tak berkomentar. Berarti ia setuju jika aku mengatakan itu. Ia hanya terus saja melihat kearahku.


"Kamu yakin tidak apa-apa? Bukankah tanganmu terluka? " Ia kenapa berbicara dengan nada lembut seperti itu? Aku jadi semakin bingung saja.


"Tidak apa-apa tuan, sudah biasa dan rasanya sudah tidak bisa kurasakan. " Aku mencoba tersenyum namun nyatanya sangat perih sekali karena lukanya sedikit terbuka lebar.


Aku mencuci tanganku dan kembali mengerjakan pekerjaan ku sedang Mas Albar berjalan pergi. Aku lagi-lagi terpikir bagaimana caranya aku mengatakan pada Mas Albar tentang uang sekolah ku itu. Aku sangat takut tapi aku juga bingung harus bagaimana agar bisa membayarnya.


"Berikan tanganmu! " Tiba-tiba Mas Albar datang dengan kotak obat dan meminta tanganku.


"Saya benar-benar baik-baik saja tuan. " Aku terus saja melanjutkan acara memasak ku.

__ADS_1


"Ck, kenapa sangat susah untuk mu menurut? " Ia terlihat kesal.


"Baiklah tuan, biar saya saja. " Aku meraih obat yang sudah disiapkan oleh Mas Albar dan mengobati luka ditangan ku dengan cepat dan menutup nya dengan sebuah plaster.


"Terima kasih tuan. " Aku menunduk dan kembali melanjutkan acara memasak ku.


"Kenapa kamu hanya diam saja? " Ia terlihat sedikit mendekat dan berdiri di dekat pantry.


Aku sedikit bingung dengan pertanyaan Mas Albar, diam karena apa? Apaas Albar sudah sadar dengan uang sekolah ku yah?.


"Hah? Maksud tuan? " Aku terlihat kebingungan karena Mas Albar.


"Kenapa hanya diam saja saat saya dan Naya seperti tadi? " Ia hanya memasang wajah datar.


Apa? Aku sama sekali tak mengerti? Lalu aku harus bagaimana? Tentu saja aku hanya diam karena aku sadar akan posisi ku. Aku hanya seseorang yang ia beli dengan uangnya dan tentu saja ia sangat berhak atasku. Dan begitulah aku hanya seorang barang dan tak punya hak untuk berbicara banyak hal.


Aku tersenyum kearah Mas Albar "Saya harus bagaimana tuan? Saya kan tidak punya hak untuk berbicara banyak hal, saya hanya bisa diam tuan. " Aku terus melanjutkan acara memasak ku.


"Wahh tau diri juga yah, jadi seperti inilah untuk kedepannya. " Ia pergi begitu saja setelah mengatakan itu.


Kukira ia akan merasa bersalah dengan perbuatan nya itu, tapi ia sama sekali tak berpikir itu adalah sebuah kesalahan.


Wahh, aku sangat tidak mengerti dengan pemikiran Mas Albar yang sangat hebat itu. Bagaimana ia begitu saat ia adalah seseorang yang berpendidikan tinggi dan juga berwibawa.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐ŸŒผ


Pai pai say๐Ÿ’‹

__ADS_1


__ADS_2