Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
37. Traffic


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸKeadaan yang sangat tak ingin kulakukan ternyata tetap terjadi ๐Ÿ๐Ÿ


Setelah menerima telpon dari kantor tadi Albar pun mematikan sambungan dan meletakkan hpnya asal.


"Kenapa hanya sehari saja kubiarkan kantor sudah kacau seperti itu? " Albar terlihat kesal sembari menghidupkan mesin mobil dan mulai menjalankan nya.


Namun, baru beberapa saat setelah ia menerima panggilan tadi lagi-lagi ponsel miliknya berdering kembali hingga ia kembali menepikan mobil ke pinggir jalan.


"Siapa lagi sih? " Albar dengan kasar melirik kearah ponselnya itu.


"Halo yah ada apa? " Albar menerima panggilan yang ternyata itu adalah panggilan dari ayahnya.


"Kamu kalau tidak dihubungi tidak pernah mau menghubungi ku yah? Sejak kamu menikah dan sudah lebih dari dua bulan lamanya kamu belum pernah pulang kerumah membawa menantuku. Apa saja yang kamu pikirkan hingga tidak peduli sama sekali dengan ayahmu ini? " Cerewet pria yang berstatus ayahnya Albar itu.


Albar sedikit mendengus dengan pelan"Kenapa ayah seperti ini sih? Kekanakan sekali. Albar sudah besar punya kehidupan pribadi. Terserah Albar mau bagaimana dengan hidup Albar."kesal Albar karena belum juga selesai masalah kantor ia bahkan diomelin oleh ayahnya pagi ini.


"Lihatlah anak nakal ini, ayah tidak mau tau. Dua minggu ayah beri waktu untuk kamu datang sendiri kerumah ini, kalau kamu masih belum juga datang dengan menantuku maka tidak ada harta warisan sepeserpun. "


Albar mendengus kesal, kalau bukan karena Naya yang meminta ia untuk berusaha mendapatkan harta warisan itu ia tak akan peduli sama sekali karena ia juga sudah sukses.


"Lagian Keponakan mu tidak datang rupanya kerumah mu? Ayah sudah memberikan pesan pada kakak mu untuk memberitahu kalau dua minggu lagi kita akan adakan pertemuan keluarga secara resmi untuk memperkenalkan menantuku. Kamu sih masa mengadakan pernikahan hanya ayahmu saja yang boleh ikut. Seleramu sangat kuno. "


Albar hanya diam saja tak mau berkutik, ayahnya memang memiliki mulut pedas bak sambal lado. Ia lebih baik diam anteng saja agar segera berakhir segala perdebatan ini.


"Kenapa diam saja? Kamu pikir mulutku tidak lelah yah berbicara banyak begitu dan hanya kamu diamkan saja? "


Albar menarik nafas dalam dalam mencoba untuk bersabar menghadapi ayahnya ini. Karena hanya ayahnya yang ia miliki Karena ibunya sudah lebih dulu menghadap yang kuasa.


"Jadi dua minggu lagi kan yah? Aku sudah faham dan kalau sudah tidak ada lagi aku tutup yah telepon nya. Karena Albar masih punya banyak urusan. " Albar langsung menutup panggilan dan mengacak rambutnya pusing.


"Duhhh, untuk apa segala membuat acara untuk memperkenalkan gadis dungu itu? Ah sudahlah terserah saja."Albar langsung menghidupkan mesin mobil kembali dan melaju menuju kantor untuk menyelesaikan urusan nya.

__ADS_1


Bel istirahat berbunyi dengan lantang๐Ÿ””๐Ÿ””


" Lea, ragil mana nih? "Zhia yang telah selesai menyalin catatan barulah tersadar kalau ragil sedang tak ada dikelas saat ini.


Kebetulan sekali tadi mereka sedang jamkos, jadi mereka memiliki banyak sekali waktu luang hingga zhia memilih untuk menyalin catatan yang sampai kini belum juga ia selesaikan padahal sudah dua bulan lamanya ia bersekolah disini. Mungkin karena banyak sekali urusan nya karena Albar.


" Tadi keluar pas nerima nelpon, ngk tau kemana. "Lea pun berdiri dan menarik tangan zhia.


" Kantin kuy. "


"Eh ragil mana? Kita ngk nungguin ragil? " Zhia bingung.


"Sekalian nyari ragil lah. " Zhia dan Lea keluar mencari ragil.


Saat mereka sedang melewati lorong menuju kantin mereka melihat dan mendengar kegaduhan disebelah kantin.


"Ada apa tuh Lea? " Zhia dan Lea saling menatap kemudian mereka berlari menuju arah kegaduhan itu.


Mereka sangat kaget saat melihat kegaduhan itu adalah ragil dan seorang siswa yang sedang saling tonjok menonjok.


"Aishh nih anak paling suka yah nyari masalah. " Lea datang ke arah ragil dan anak lain yang sedang berantam itu.


Zhia hanya diam saja merasa khawatir dengan apa yang ia lihat itu. Ini pertama kalinya ia melihat ragil dengan wajah seperti itu. Penuh dengan emosi dan matanya terlihat berapi-api.


"Udah ah. " Lea menahan tangan ragil yang hendak menonjok wajah pria dihadapannya itu.


"Maju lu anjeng. " Pria itu terus saja memanas-manasi ragil yang sudah mulai mencoba diam itu.


Ragil pun tak mau diam dan langsung melayangkan satu pukulan hingga mengenai wajah siswa itu.


"Duh, udah ragil. Lu tuh kenapa sih? Resep banget. " Lea mendorong ragil agar sedikit menjauh dan juga mendorong siswa itu namun Lea malah jatuh karena didorong oleh siswa itu.

__ADS_1


Ragil yang melihat itu langsung terlihat semakin marah"Bangsatt, berani-beraninya lu dorong Lea. "Ragil menendang keras perut siswa itu.


Plak.


Lea langsung memukul bahu ragil keras" Udah berenti bego, lu tuh kenapa sih? "Lea langsung menarik tangan ragil agar menjauh dari sana.


Zhia hanya diam saja mengikuti kemana mereka akan pergi. Ini pertama kalinya ia melihat hal seperti ini dan bahkan dari orang terdekat nya.


" Lu tuh kenapa sih? Ngk pernah berubah. "Lea kesal dan memukul bahu ragil keras.


Ragil hanya diam saja menunduk dan membelakangi kami setelah ia melihat kearahku.


" Woy, ditanya diam aja lu. Lu kenapa sih? Lu ada masalah lagi? Om sama tante berantem lagi? "Lea bertanya ke arah ragil dan ragil langsung melihat kesal kearahnya.


" Ngk usah sok tau. "Ia berlalu dengan berjalan kasar.


Zhia hanya diam saja memperhatikan ragil yang pergi dengan penuh amarah itu. Ia tak tau kalau ada versi seperti ini dalam diri seorang ragil.


Lea hanya diam saja menghela nafas berat" Dahlah, kuy kantin. Ragil lagi ngk mau diganggu tuh. "Lea menarik tangan zhia dan zhia hanya diam saja menurut ikut.


Apa karena keluarga ragil yah sampai ia begitu kacau hari ini. Tadi pagi ia masih saja ceria dan bersikap seperti biasanya. Tapi kenapa sekarang ia sangat marah? Ia benar-benar terlihat bukan seperti dirinya sendiri karena ia benar-benar terlihat berbeda sekali.


Memang setiap manusia memiliki banyak wajah untuk menutupi wajah aslinya. Mereka tak ingin memperlihatkan bagaimana dirinya yang sesungguhnya. Jika ia lemah maka ia akan berusaha terlihat kuat jika ia sedang ragu maka ia akan terlihat seperti seseorang yang sudah mantap. Begitulah manusia yang tak mau jujur bahkan dengan dirinya sendiri.


Kejujuran sangat susah untuk dilakukan karena selalu berawal dari sebuah kepahitan dan tak semua manusia bisa sanggup merasakan kepahitan itu.


Zhia belajar banyak hal setelah kehidupan kelam ini kian menjerat hidup nya.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜

__ADS_1


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2