
๐๐Biarkan angin yang akan membawa semua rasa pilu ku ini๐๐
ย ย Pagi hari datang dan aku langsung bangkit karena mendengar suara alarm berbunyi. Kesan pertama ku saat bangun adalah kenapa aku bisa berbaring diatas kasur sedang mas Albar berada disofa, serasa dunia terbalik saja. Ahh sudahlah.
"Tuan, bangun tuan. Apakah tuan tidak bekerja hari ini? " Tanyaku setelah selesai menyiapkan air di kamar mandi.
Namun, seperti biasa mas Albar memang memiliki kebiasaan sedikit susah untuk dibangunkan.
"Tuan, bangun tuan. " Aku masih saja bersikeras untuk membangun kan mas Albar.
Perlahan ia membuka mata dengan pelan dan mengerjapkan nya sesekali "Pukul berapa sekarang? " Tanya nya dengan pelan. Wahh seperti dejavu mendengar ia berbicara selembut itu. Sawan setan apa yah mas Albar?.
"Pukul 06.30 tuan, apakah tuan tidak bekerja hari ini? " Tanyaku dengan pelan.
"Kenapa masih pagi saja ia sudah terlihat sangat cantik? Padahal ia pasti belum mandi sama sekali. " Batin Albar saat melihat kearah zhia.
Dan dengan cepat ia menggeleng karena merasa bodoh dengan pikiran nya sendiri.
"Tidak, saya tidak masuk kerja hari ini. Kamu sendiri? Tidak sekolah rupanya? " Tanya mas Albar tiba-tiba.
"Saya sudah pasti sekolah tuan, oh iya tuan. Pagi ini tuan ingin saya masakkan apa? " Tanyaku pelan.
"Sudahlah kamu bersiap saja berkemas agar cepat berangkat kesekolah, untuk makanan sudah pasti disiapkan oleh pelayan dibawah. " Mas Albar dan dengan senang hati aku menyanggupi itu.
"Baiklah tuan, saya permisi. " Aku buru-buru memasuki kamar mandi.
Suasana sangat hening saat aku dan mas Albar di dalam satu mobil, aku sudah mengatakan tidak apa-apa untuk berangkat sendiri tapi Ayah sangat tidak mau kehendak nya dibantah. Mas Albar juga kenapa tidak menolak yah? Bukankah ia benci saat aku merepotkan nya?.
"Saya turun disini saja tuan, tidak enak kalau sampai ada yang melihat. Tuan kan banyak yang mengenali bagaimana jika itu berpengaruh bagi karir tuan. " Aku meminta mas Albar menurunkan aku di jalan yang masih berjarak agak jauh dari gerbang.
"Baiklah kalau itu maumu, " Ucapnya memberhentikan mobil tepat dijalan yg kuminta tadi.
"Terima kasih banyak tuan. " Aku menunduk setelah turun.
"Bukan apa-apa, " Ucapnya dengan wajah lempeng dan langsung melajukan mobil.
Aku tidak tau mau kemana mas Albar itu, memakai pakaian rapi tapi sedang tidak ingin ke kantor.
Saat aku berjalan menuju kelas kulihat Lea sedang berjalan dengan dua orang yang juga berasal dari kelasku. Buru-buru aku berlari mengejar mereka.
"Lea, kawan-kawan tunggu aku."
Mereka berhenti dan melihat sinis kearah ku termasuk Lea, bahkan tatapan Lea sangat tajam kearah ku.
__ADS_1
Mereka mengabaikan ku dan berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun kepada ku, sebenarnya aku salah dimana sih? Aku sama sekali tidak ingin ragil memiliki perasaan lebih kepada ku. Tak ada niat sedikit pun dihatiku untuk merebut ragil dari Lea, jujur. Aku sangat menyayangi Lea dan ragil aku sangat tidak ingin kehilangan mereka berdua.
Aku masih tidak menyerah dan terus mengejar Lea dengan memegang lengan nya.
"Lea, tungguin aku dong. Kita ke kelas bareng yah seperti biasanya. " Aku masih memegang lengan Lea.
Tatapan itu, aku Sungguh tak pernah membayangkan kalau Lea akan menatapku dengan tatapan seperti itu. Sungguh sangat manusuk hatiku saat ia menatap ku dengan tatapan penuh kebencian. Ekspresi nya sama dengan teman-teman ku saat SMP dulu.
Bugh,
Lea mendorong tubuhku hingga jatuh keatas tanah, ini bukan seperti Lea yang ku kenal. Kenapa ia begitu kasar dan tenaganya bukan main kuatnya.
Para siswa yang juga jalan kaki menuju kelas langsung berlari kearahku untuk membantu ku berdiri, khususnya para kaum lelaki.
Aku bangkit dan melihat kearah Lea yang menatap ku lebih menyalang lagi. Matanya sungguh mengisyaratkan kebencian kearah ku.
"Lea, kamu kenapa? Aku bisa jelasin semuanya sama kamu. Mari kita bicara jangan seperti ini kumohon. "
Ia sedikit tersenyum miring dengan mata melotot tajam"Hahah hebat juga yah lu berlagak seolah lu adalah korban, dasar manusia munafik. Nyesel gua temenan sama lu. Bisa bisanya lu ngelakuin itu Sama sahabat lu sendiri. "Ia sedikit mendorong bahuku dan berjalan menuju ke kelas dengan kedua teman barunya itu.
Para siswa yang ada disana mencoba menghibur ku dengan mengatakan kata sabar, aku hanya bisa mencoba untuk tersenyum terpaksa walaupun saat ini hatiku Sungguh ngilu karena tak menyangka Lea akan seperti itu.
๐๐๐
Aku mengangguk dengan cepat" Iya gil, alhamdulillah aku lagi ngk masuk kerja hari ini karena mbak nana lagi ada urusan dan cafe ngk buka. "
"Lu mau ngk temenin gua ke toko baju langganan gua? " Ragil dan dengan cepat aku mengangguk.
"Eh Lea mana? Prasaan tadi masih disini? Kenapa tuh bocah? Udah dua hari dia ngk bareng kita. Tadi juga gua ngajak ngobrol malah di diemin. Heran gua. " Ragil terlihat sangat bingung.
Aku merasa sangat gugup saat ini, aku ingin memberitahu ragil tapi aku takut Lea akan semakin marah jika aku mengatakan kalau Lea memiliki perasaan lebih kepada ragil. Karena itu adalah hal yang pribadi bagi Lea, tapi aku juga bingung harus mengatakan apa pada ragil.
Aku semakin kalut saja dengan pertemanan kami ini. Aku merasa sangat takut untuk kehilangan mereka berdua, setidaknya masih ada ragil yang bisa kupertahankan. Tapi, bagaimana caraku memperbaiki ini dengan Lea?.
"Mungkin lagi ada urusan yah. " Ragil kemudian mengangguk saja lalu membawa ku menuju tempat yang ia maksud tadi.
"Loh, " Aku kaget ragil berhenti tepat di depan toko dimana aku dan mas Albar membeli pakaian.
"Kamu biasa belanja disini yah gil? " Aku bertanya saat kami sudah memasuki toko itu.
Ragil mengangguk tanda ia, wahh berarti ragil memang sangat kaya karena berbelanja ditempat yang sama dengan mas Albar. Soalnya kata maaf Albar kalau toko pakaian nya itu bukanlah toko pakaian yang bisa dimasuki sembarangan orang.
"Bantuin gua dong milih baju yang cocok buat acara keluarga, " Ucap ragil melihat-lihat pakaian.
__ADS_1
"Wahh kalian mau ngadain acara yah? Acara apa yah ragil kalau boleh tau. " Aku memang manusia yang memiliki rasa kepo yang tinggi.
"Gua punya om yang baru nikah,gua lupa udah berapa lama. Nah, kami mau ngadain acara buat sambut istrinya. Ah pokoknya gitu deh. " Ragil terlihat sangat kesulitan menjelaskan nya.
Aku hanya mengangguk saja"Yaudah kita cari kemeja polos aja gil. Yang warnanya agak gelap soalnya kamu punya kulit putih. "Kami pun mencari dan menemukan setelan yang sangat cocok untuk ragil pakai.
" Makasih yah udah nemenin gua. "Ragil dan dengan cepat aku mengangguk.
Sementara Albar saat ini sedang berada di rumah Naya. Ia meyakinkan hatinya bahwa hanya Naya lah yg sangat ia cintai, tidak ada lagi yang lain. Apalagi akhir akhir ini ia sering kebingungan dengan perasaan nya saat melihat zhia. Ia yakin kalau itu hanya sebuah kesalahan saja. Tidak mungkin ia lebih memilih zhia dibandingkan dengan Naya yang sudah lama ia pacari itu.
" Sayang, aku tuh Kangen banget sama kamu. "Naya yang sedang menghias dirinya itu langsung berjalan manja kearah Albar yang sibuk dengan ponselnya.
Albar meletakkan ponselnya itu dan menyambut Naya yang duduk di pangkuan nya itu.
" Kamu sih aku telpon selalu saja sibuk, aku kangen banget ih. "Naya memukul dada Albar sedikit pelan.
Albar tersenyum merasa gemas dengan Naya. Untuk saat ini masih saja berdebar saat sedang bersama Naya. Itu membuktikan bahwa ia masih memiliki rasa cinta pada Naya dan tidak mungkin kepada zhia gadis dungu yg sering membuat ia dongkol.
" Maaf yah sayang, akhir akhir ini aku sangat sibuk. Kamu pasti sudah sangat merindukan aku kan? "Albar mendekatkan wajahnya dan dengan cepat disambut oleh Naya yang menyatukan kedua benda kenyal itu.
Mereka saling memadu indahnya saling menghisap satu sama lain agak lama. Albar semakin yakin kalau penyebab ia selalu terganggu dengan kehadiran zhia adalah karena sudah sangat lama ia tak bercumbu dengan Naya.
" Aku sangat mencintaimu sayang. "Naya berbisik ditelinga Albar dengan nada manja.
Albar tersenyum kearah Naya kemudian kembali menyatukan kedua benda kenyal itu hingga terdengar sedikit suara decapan mereka.
Albar kini sudah yakin kalau ia sama sekali tidak pernah menganggap zhia layaknya perempuan. Ia hanya menganggap gadis dungu itu sebagai alat untuk mendapat keinginan Naya kekasih nya.
๐๐Bersambung ๐๐
Waduhh ini lama-lama makin jengkol liat si Albar ama Naya. Woyy Albar udah ada bini woyy๐ค
" Sibuk amat lu thor, serah gua lah mau udah ada bini pa kagak tetap aja Naya yang jadi nomor satu. "Albar.
" Kamvret sekali anda"author
"Yang jadiin gua kek gini sape? " Albar.
Wkwkwkwk.
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
Pai pai say ๐
__ADS_1