Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
35. bukan begitu


__ADS_3

🍁🍁Aku harus bagaimana saat kau sendiri tidak peduli 🍁🍁


   Aku hampir sampai dirumah. Seperti sebelumnya aku berbohong kepada ragil. Aku hanya belum siap saja ia mengetahui dimana aku tinggal. Bagaimana jika sewaktu-waktu ia datang kerumah dan bertemu dengan mas Albar? Aku belum siap ragil sampai tau kalau aku sudah menikah dengan mas Albar. Aku terpaksa meminta ia menurunkan ku di depan rumah orang lain saja. Setelah ia pergi akupun berjalan kaki menuju rumah.


"Huh, hidupmu penuh dengan kepalsuan. " Aku mendengus pelan lalu berjalan menuju rumah dengan enggan.


Hari sudah mulai malam, apa mas Albar dan mbak Naya sudah ada dirumah yah? Aku jadi malas untuk pulang.


Pintu aku buka perlahan dan rumah terasa sangat sepi sekali. Syukurlah mereka belum pulang kerumah. Aku merasa lebih lega saat tak melihat mereka.


Aku langsung memasuki rumah dan membersihkan rumah juga menyiapkan sarapan untuk mas Albar juga mbak Naya. Aku tidak tau apakah mbak Naya akan tinggal disini lebih lama atau hanya sementara. Aku hanya tidak ingin mencari masalah saja. Mas albar tidak bisa kutebak bagaimana sikapnya. Terkadang ia sudah emosian dan terkadang ia juga terlihat cuek saja. Aku hanya perlu berhati-hati saja.


Setelah selesai dengan membersihkan rumah juga menyiapkan makan malam aku pun mandi dan mengganti pakaian ku dengan baju seadanya. Kalau saja mas Albar mengizinkan ku untuk kembali kerumah paman Adil untuk menjemput bajuku aku tak akan seperti ini. Seperti tidak punya baju saja.


Setelah selesai dengan urusan mandi dan mengganti pakaian akupun memilih untuk melengkapi catatan sekolah ku yang tertinggal banyak sekali. Karena aku masuk dipertengahan semester mereka sudah melewati banyak sekali pelajaran sedang aku hanya bisa menyalin saja.


"Wah, Ngk nyangka ragil rajin juga yah. Catatan nya rapi sekali. " Aku tersenyum melihat catatan ragil yang saat ini sedang berada dihadapan ku.


Ragil terkadang tidak terduga sekali, ia terlihat seperti anak yang sangat nakal tapi ternyata seorang anak yang baik. Belum lagi ia sangat baik dan perhatian padaku. Sangat baik sekali jadi seorang teman, aku sangat bersyukur sekali bisa memiliki teman seperti nya.


Akupun mulai menyalin satu persatu pelajaran itu dengan penuh ketekunan. Tiba-tiba HP ku berdering dengan sedikit lantang.


"Halo." Aku dengan cepat menyahut saat kudengar sebuah suara dari arah seberang.


"Ini gua ragil, HP gua lagi low bad jadi gua make HP nya kang warnet nih. Gimana pala lu? Masih sakit ngk? " Ragil ternyata.

__ADS_1


Aku sampai bingung dengan semua ucapannya itu. Apa ia sudah berada di warnet jam segini? Tidak pulang kerumah yah? Belum lagi ia pasti belum makan juga. Kenapa dih dengan ragil?.


"Alhamdulillah sudah baikan kok gil. Kamu belum pulang juga yah kerumah? " Aku bertanya dengan pelan.


Ku dengar sekilas ia sedikit mendengus"Udah tadi tapi gua pergi lagi, males dirumah. Ngk ada orang."


Aku hanya bisa diam saja. Tak tau harus berkomentar apa, ragil terdengar tak mau membahas keluarga nya.


"Syukur lah kalau udah baikan, gua tutup yah lu istirahat aja biar ngk sakit lagi. Makanya makan tuh teratur dan jangan suka begadang. " Ragil kembali lagi ke mode rewel nya hingga aku tersenyum.


"Iya ragil Iya. Hahahha kamu cerewet sekali yah hahaha. " Aku tersenyum dan ia hanya berdeham saja kemudian mematikan sambungan.


"Sangat baik sekali. " Aku tersenyum dan meletakkan HP ku kemudian kembali fokus mengerjakan salinan ku.


Sementara saat ini Albar dan naya sedang berada di kediaman Naya yang dibangun oleh Albar untuk nya. Mereka memang sudah sering menghabiskan waktu disana, apalagi saat Albar sedang malas untuk datang ke kantor ia akan kerumah Naya untuk sekedar bermanja.


Mereka memang selalu bersama dan terkadang bermalam bersama, tapi mereka tidak pernah melakukannya karena Naya selalu menolak. Ia hanya membiarkan Albar mencium dan menyentuhnya sesekali. Untuk melakukan lebih ia tak pernah mengizinkan itu. Sedang Albar sendiri hanya bisa Sabar menunggu sampai kapan Naya akan benar-benar mau menikah dengan nya juga menjadi seorang istri dari Albar.


"Sudah ku pesan sejak kamu memintanya, tapi kamu tau sendiri kan prosesnya tidak semudah itu sayang. " Albar mengelus rambut Naya dengan pelan dan Naya hanya bisa tersenyum mengangguk.


"Hmm jadi makin sayang. " Naya memeluk Albar dengan erat begitu juga dengan Albar.


"Aku lebih menyayangi mu sayang. " Albar juga mencium kening Naya dengan pelan.


Mereka saling memeluk hangat dan sesekali bermain-main dengan saling menggelitik dan juga terkadang berakhir dengan menyatukan bibir satu sama lain. Albar merasa sangat senang saat berada disekitar Naya. Sedang Naya sendiri tidak tau apakah ia memang benar-benar mencintai Albar atau hanya sebatas rencananya saja. Hanya mereka yang tau.

__ADS_1


"Kamu ngk pulang yah sayang? " Naya bertanya dengan pelan.


"Seperti ngk, sedikit malas untuk pulang kerumah. Aku nginap disini saja. " Albar dan Naya terlihat sedikit merasa keberatan.


"Hmm yasudah, kamu istirahat saja sayang. " Naya dan Albar langsung menarik Naya kedalam pelukan nya.


"Aku mau tidur sambil meluk kamu sayang. " Albar memeluk Naya dan Naya hanya diam saja dalam pelukan Albar.


Zhia terus saja menunggu kepulangan Albar yang tak kunjung datang itu. Hari sudah semakin larut saja namun tak ada tanda-tanda ia akan datang.


"Duhh kemana sih mas Albar ini? Kenapa tidak pulang? Kalau pun tidak Pulang harusnya memberikan kabar padaku. " Kesal zhia merasa Albar benar-benar tidak peduli dengan nya.


Zhia pun memutuskan untuk menutup pintu dengan pelan  dan ia sudah yakin kalau malam ini Albar kembali sedamg bersama dengan Naya. Ia tak mau menghabiskan waktu untuk menunggu yang tak pasti akan datang.


"Dasar laki-laki jahat, kan bisa saja ia memberitahu ku untuk tidak pulang malam ini. Kenapa malah diam saja. " Kesal zhia merasa Albar semakin keterlaluan saja.


Bukannya zhia yang tak tau diri. Ia hanya ingin Albar menghargai nya saja. Apa sesulit itu untuk bersikap peduli dan tidak acuh? Saling menghargai bagaimana rupanya? Tidak sesulit itu untuk dilakukan.


Zhia pun memilih untuk tidur saja. Ia tak mau membuang energinya untuk memikirkan orang seperti Albar. Sia-sia saja memikirkan orang yang tak mau dipikirkan.


Dan tak lama dari itu zhia sudah mulai terlelap. Ia sudah merasa baikan karena hari ini ragil ada untuk nya menemani nya hingga pikiran nya sudah mulai membaik.


🍁🍁bersambung 🍁🍁


Jangan lupa yah like, komen dan vote😍

__ADS_1


Pai pai say🍁


__ADS_2