
๐๐Saat semuanya mulai berubah, hanya dunia yang tetap sama. Tetap ingin hidupku sengsara ๐๐
ย ย Aku berdiri di depan pagar menunggu kedatangan mas Albar. Padahal hari ini kami masih mengadakan latihan baris berbaris sepulang sekolah nanti, tapi mas Albar sudah main minta izin untuk aku pulang lebih cepat hari ini.
Sejak tadi aku menunggu mas Albar yang tak kunjung datang itu, sebenarnya mau kemana sih hingga aku diizinin pulang di jam segini? Aku bahkan belum menyelesaikan masalahku dengan Lea yang sampai kini bahkan tak mau melihat kearahku.
Kutatap sekolah dari arah gerbang, sangat luas sekali. Aku tersenyum saat mengingat kebiasaan kami bertiga saat pulang sekolah bersama, Lea yang selalu ceria dan ragil yang selalu sarkastis itu membuat ku tersenyum getir dengan keadaan yang sangat memilukan ini. Siapa sangka persahabatan kami kini diambang kehancuran hanya karena sebuah perasaan.
"Aku ngk mau pisah dari kalian, " Ucapku lesu. Bingung harus memperbaiki nya dengan cara apa. Terlalu cepat persahabatan kami hancur seperti ini.
Tin,
Tiba-tiba aku terlonjak kaget saat mobil mas Albar sudah ada didekat ku dengan cepat aku masuk sebelum ada yang melihat. Aku tak mau orang lain tau dan itu akan membuat mas Albar kesusahan jika ada yang sampai nekad ikut campur dengan kehidupan ku.
"Kita mau kemana tuan? " Tanyaku dengan pelan. Aku tau mas Albar pasti tidak akan langsung menjawab seperti biasanya ia akan diam saja tunggu aku bertanya berkali-kali barulah ia akan menjawabnya. Aku sudah mulai faham dengan kebiasaan dan sikap mas Albar. Meskipun terkadang aku masih tidak bisa menahan kekesalan ku.
"Kerumah besar, ayah meminta kita datang kesana. " Wah, baru kali ini sekali ditanya langsung menjawab dengan spontan.
"Sekarang tuan? Tapi kan aku masih pake baju sekolah gini. " Bingung ku, pasalnya kan ini pertemuan kedua ku dengan ayahnya mas Albar ah tepatnya mertua ku.
Yah, walaupun ia sudah tau kalau latar belakang ku Samguk berbeda jauh darinya. Tapi tidak salah kan datang kesana dengan penampilan bagus, bukan dengan pakaian sekolah seperti ini.
"Memang nya kenapa dengan pakaian sekolah itu? Lebih baik dari pada tidak pakai baju. "
Aku memilih diam saja, meladeni mas Albar berdebat tak akan ada habisnya. Bagaimana ini. Kenapa aku sangat gugup saat tau ingin bertemu dengan ayahnya mas Albar.
Aku takut kalau ayahnya mas Albar tidak mau menerima ku, karena kami bahkan belum pernah bertemu sejak menikah. Dan saat hari pernikahan kami dulu mas Albar langsung membawa ku bahkan sebelum aku sempat menyapa mertuaku.
Tangan ku sedikit gemetar namun kututupi dengan menggerakkan nya. Rasa gugup ku semakin bertambah saat mobil mas Albar berhenti telat di depan sebuah rumah megah dan juga terlihat sangat besar.
"Turunlah, " Perintahas Albar dan langsung ku turuti.
Aku berjalan mengikuti langkah mas Albar yang memasuki rumah setelah dibukakan gerbang oleh petugas satpam, aku menunduk menyapa mereka berdua dan dibalas tundukan juga. Mobil mas Albar diparkiran oleh para petugas itu. Sangat hebat sekali pelayanan disini.
__ADS_1
Saat kakiku menginjak lantai itu rasanya sangat hebat, rumah ini sangat besar dan megah bak sebuah istana. Pantas saja mereka menyebutnya dengan rumah besar.
"Ayo masuk, kenapa masih bengong seperti itu? Kamu jagalah sikapmu. Jangan mempermalukan saya nantinya. " Mas Albar menarik tanganku memasuki rumah itu.
Setelah mendapatkan teguran dari mas Albar aku semakin memperhatikan sikapku, saat melihat benda-benda berharga dirumah ini aku hampir beraksi berlebihan namun segera kutahan karena banyak sekali pasang mata dirumah ini. Mereka semua memakai pakaian yang sama. Apa mereka adalah pelayanan dirumah ini?.
"Sudah datang? " Seorang pria yang sudah berumur lumayan tua datang dari arah tangga atas. Namun walaupun ia terlihat tua wajah tampan nya masih terlihat dengan jelas. Yah, dia adalah mertua ku yang berstatus sebagai ayahnya mas Albar.
Aku dengan cepat menunduk dan mencium tangannya setelah mas Albar Melakukan itu.
Aku tersenyum saat mertuaku juga tersenyum kearah ku. Aku sebenarnya masih sangat takut dengan pertemuan ini. Aku tak tau kenapa kami disuruh datang kesini.
"Mari duduk dulu, sekalian kita makan siang." Ayah menyuruh kami duduk di depan meja makan.
Aku mengikuti mas Albar dan Ayah yang duduk itu. Mas Albar menarik ku yang hampir saja duduk agak jauh darinya. Aku hanya diam saja menurut.
"Kamu pasti sedang berada disekolah tadi kan? " Tanya Ayah dengan nada ramah sekali. Apakah ia memang seramah itu yah? Baiklah! Setiap orang ramah adalah temanku.
Dengan ragu aku mengangguk"I,, iya tuan. "Aku bingung harus memanggilnya siapa, Ayah? Mana berani aku. Namun setelah mengatakan itu mas Albar menginjak kakiku dan kulihat kerut bingung dari ayahnya mas Albar.
Kenapa yah saat ini mas Albar terlihat bukan seperti dia biasanya, sikap rewel nya pasti tidak keluar karena sedang berada di hadapan ayah mertua.
Beberapa pelayanan masuk dari arah belakang dengan beberapa jenis makanan enak. Mereka tersenyum sembari meletakkan nya diatas meja makan. Banyak sekali jenis makanan yang membuat air liur ku hampir saja menetes.
" Kamu pasti sangat lapar menantu, makan yang banyak yah agar sehat dan memberikan keturunan yang sehat juga. "
"Uhuk,, " Aku yang sedang minum air putih itu langsung tersedak karena ucapan ayah mertua ku. Apa dia serius saat mengatakan itu. Bagaimana mungkin aku memeberikan keturunan untuk keluarga kaya ini? Mas Albar juga mana mau.
"Hahaha hati-hati menantu, kamu terkejut sekali yah. Albar cepat pukul pelan punggung istrimu, gimana sih kamu ini? Harusnya saat istri sedang tersedak suaminya akan langsung memukul punggung nya agar reda. Ck, dasar laki-laki batu tak ada manisnya sama sekali. "
Aku baru sadar dari mana mas Albar menemukan sikap rewel itu, ternyata dari ayah mertuaku. Namun, saat ayah mertua rewel begitu aku malah senang melihat nya.
"Sudahlah ayah tidak usah sibuk, yah memang begini lah kami. Ayah mau apa sih sebenarnya menyuruh kami datang kesini? Bukannya acaranya masih besok yah? " Mas Albar mulai membuka pembicaraan.
__ADS_1
Ayah terkekeh pelan "Kamu memang bukan laki-laki yang baik, lihat istri kamu pasti sudah sangat kelaparan. Nanti saja kita berbicara, makan dulu. Silahkan dimakan menantu. " Aku tersenyum sangat senang karena ayahnya mas Albar terlihat sangat bersahabat.
Apa dia tidak penasaran yah dimana mas Albar mendapatkan ku? Ia tak peduli yah dengan latar belakang ku? Apa aku adalah gadis terhormat atau malah dari kalangan rakjel. Seandainya semua mertua seperti ayahnya mas Albar.
"Ayah mengundang kalian kesini tidak ada maksud lain, hanya ingin bertemu dengan menantu ayah. Kamu sangat cantik menantu mungkin karena itu Albar mau menikah dengan mu heheh dasar yah ayah kira kamu tidak akan pintar memilih calon. Namun, melihat menantu ku hari ini ayah jadi yakin kamu mendapatkan kemampuan itu dari ayahmu ini. " Ayah mertua tertawa setelah mengatakan itu. Aku hanya tersenyum kikuk saja.
"Almarhumah ibunya Albar sangat cantik sekali, dia juga gadis lembut. " Ayah tersenyum.
"Wahh, aku jadi ingin melihat wajah ibu ayah. " Aku spontan mengatakan itu dan mas Albar melihat kearahku.
"Nanti saja kita lihat bersama yah, lagian kan kalian menginap disini. "
"Uhuk, " Lagi-lagi aku tersedak dan dikagetkan oleh mas Albar yang langsung memukul punggung ku dengan pelan.
"Kamu jagalah sikapmu, jangan membuat saya jengkel. " Aku langsung meneguk ludah takut saat mendengar itu dari mas Albar.
"Kami langsung pulang saja setelah ini, kalau tidak ada lagi yang perlu. Untuk acara besok barulah kami datang lagi kesini. " Mas Albar. Aku langsung bernafas lega setelah mendengar itu. Tanpa alasan aku ragu untuk menginap dirumah besar ini.
"Ini perintah bukan ajakan, " Ucap Ayah tegas. Memang Ayah adalah tipe orang yang sangat ramah namun ia masih terlihat sangat tegas.
Albar mendengus kesal"Kami tidak membawa pakaian ganti, Ayah kenapa sih selalu memaksa kehendak sendiri? "Mas Albar terlihat sangat kesal.
Cih, dasar tidak tahu diri. Padahal dia juga sama selalu memaksakan kehendak nya saja.
" Ayah tidak mau tau kalian harus menginap disini, Ayah belum bercengkrama dengan menantu Ayah. Kamu kenapa sih sangat menyebalkan sekali jadi manusia? Langsung menurut saja kenapa rupanya? "Ayah dan mas Albar langsung diam saja. Mengalah mungkin.
Jadi, sikeras kepala ini selalu kalah yah saat berhadapan dengan Ayah mertua? Aku sedikit merasa lucu mengetahui fakta ini.
๐๐Bersambung ๐๐
Ngakak wkwkwk, Albar ternyata sering kalah argumen kalo sama si papah ๐คฃ๐คฃ
Jangan lupa yah like, komen dan vote๐
__ADS_1
Pai pai say๐