Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
42. Teringat


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿjangan lupa bahwa setiap luka ada bekas yang menunggu ๐Ÿ๐Ÿ


ย ย  Bagaimana yah jika seandainya aku masih bisa melihat wajah ayah juga ibu? Aku mungkin manusia paling bahagia di dunia ini. Kalau boleh memilih aku lebih memilih kembali ke kehidupan ku dahulu dimana masih bersama ayah meskipun aku harus hidup seadanya dan diperlakukan tidak layak disekolah. Tapi setiap kembali kerumah aku merasakan kedamaian yg sangat hangat. Berbeda dengan sekarang, aku lebih menyukai sekolah dibanding rumah. Karena kini aku tak memiliki mereka disisiku.


"Neng, neng kenapa? " Pak sarip membuyarkan lamunan ku dan dengan cepat aku melihat kearahnya.


"Hah? Ah tidak apa-apa pak heheh. " Aku tersenyum namun pak sarip masih melihat heran kearah ku.


"Kenapa neng menangis? " Hah? Menangis? Siapa yang menangis? Buru-buru aku memegang area mataku dan benar saja ada air mata disana.


"Ah, saya tidak menangis pak heheh hanya teringat dengan almarhum ayah saja. Bapak mengingatkan saya pada beliau. " Aku tersenyum sembari menuangkan lagi minuman itu kedalam gelas pak sarip.


Pak sarip terlihat menatap ku dengan sendu"Maafkan bapak yah neng karena sudah membuat neng merasa sedih. "


Dengan cepat ku geleng kan kepala ku"eh tidak pak, bapak tidak salah. Ah bapak jadi sungkan lagi kan. Padahal bukan begitu maksud saya heheh. "Aku mencoba untuk ceria lagi meskipun aku masih saja mengingat sosok tangguh ku itu.


" Bapak sudah berapa lama bekerja disini? "


"Sudah lama sekali neng, kalau diingat sih sudah hampir 12 tahunan lah neng. " Aku sampai kaget selama itu yah?.


"Tuh kan, berarti kalau berdasarkan senioritas bapak lah yang lebih berpengalaman di tempat ini dibandingkan saya. Jadi bapak adalah senior saya. Salam senior. " Aku menunduk dan tertawa. Pak sarip terlihat kaget awalnya namun ia juga ikut tertawa.


"Neng sangat baik dan juga ramah. Pantas saja tuan Albar mau menikah dengan neng, siapapun pasti beruntung bisa menikah dengan neng. "


Ucapan pak sarip bagaikan belati yang menusuk jantung ku. Aku tau pak sarip tidak bermaksud untuk menyinggung ku. Ia hanya tau kalau aku adalah istri dari mas Albar. Namun karena aku sendiri tau fakta dibalik pernikahan ini membuat ku langsung merasakan rasa sakit saat mendengar itu.


"Bapak bisa saja hehe. " Aku berpura-pura seolah olah itu adalah kebenaran padahal nyatanya hatiku serasa disayat sembilu.

__ADS_1


"Kalau boleh tau juga pak, bapak punya anak berapa? Hehe maaf yah pak saya memang orangnya kepoan heheh. "


"Saya punya dua anak neng yang pertama sudah menduduki bangku kuliah dan satu lagi sudah menduduki bangku SD. Jarak mereka memang sangat jauh sekali. "


Wah, pak sarip memang hanya seorang tukang taman tapi beliau mampu melanjutkan pendidikan anaknya hingga ke jenjang tinggi. Aku semakin semangat untuk bertahan demi masa depanku ini. Aku harus bisa membuktikan bahwa anak yatim piatu sepeti ku juga bisa sukses dan berpendidikan tinggi. Pak sarip adalah panutan ku.


"Lain kali bapak bisa tidak ajak anak Bapak yang keciknya heheh pengen punya temen lagi. " Aku benar-benar ingin bertemu dengan anak pak sarip itu.


Pak sarip dengan semangat tersenyum "Tadi saja alif meminta ingin ikut tapi bapak takut ia akan menggangu jadi bapak larang. "


"Yahh tapi ngkpp deh pak, mingdep bapak bisa kan bawa alifnya heehe. " Aku tersenyum.


Kami sesekali berbincang-bincang hingga tertawa karena pak sarip sangat humoris belum lagi ia bercerita banyak sekali kejadian lucu yang pernah ia alami.


"Ada apa sih sampai ribut begitu? " Albar yang keluar dari rumah melihat dari dinding zhia dan pak sarip yang sedang tertawa sembari duduk diatas karpet itu.


Zhia yang ia lihat kali ini tidak seperti zhia yang biasa ia lihat. Sangat ceria dan berbicara banyak hal. Tawanya juga senyum nya sangat lepas bak tak ada beban. Belum lagi ia terlihat sangat nyaman berada di sekitar pak sarip.


"Terima kasih banyak neng atas jamuannya. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan neng dan neng juga memperlakukan saya dengan ramah. Saya permisi kembali bekerja yah neng. " Pak sarip tiba-tiba pamit ingin kembali bekerja.


Hari sudah mulai panas karena sudah hampir siang. Bagaimana yah? Ku lihat taman masih sedikit luas yang belum selesai. Bagaimana jika pak sarip belum juga selesai dan mas Albar akan marah. Seperti yang kalian tau mas Albar kan sangat susah ditebak sifatnya. Aku tak mau pekerjaan pak sarip terganggu gara-gara ku.


"Saya bantuin gimana pak? Saya sangat ingin ikut. Dulu saat saya dikampung saya juga pernah bekerja seperti ini. " Zhia ikut serta ingin membantu namun pak sarip langsung menolak karena tak ingin merepotkan.


"Jangan neng, sungguh! Saya akan sangat sungkan jika neng ikut. Saya akan menyelesaikan nya neng. " Pak sarip sangat merasa tidak enak jika sampai zhia ikut bekerja.


"Ah bapak tidak usah sungkan dengan saya, bapak ragu yah dengan kemampuan bersih bersih saya? Yasudah pak mari kita lihat saya sangat ahli dalam bidang ini. " Zhia langsung turun ke taman dan mulai mencabut beberapa rumput kecil yang ada disana.

__ADS_1


Pak sarip langsung kalang kabut karena merasa tidak enak"Aduh neng bagaimana jika tuan tau neng membantu saya? Ia akan marah dan memecat saya. "Pak sarip.


Zhia langsung tertawa lepas karena mendengar itu" Hahah bapak kenapa sungkan sekali sih? Mas Albar tak akan marah pak. Ia malah akan senang jika saya ikut membantu. Karena saya masih kurang berguna sejak datang kesini. "Zhia langsung kembali bekerja.


Albar yang sejak tadi masih berdiri disana hanya diam saja mendengar dan melihat perbincangan antara zhia dan pak sarip tukang kebun.


Entah kenapa pandangan nya tak pernah lepas dari zhia yang sedang sibuk bersih bersih itu. Senyum zhia sangat lepas dan juga terlihat sangat cerah hingga Albar sama sekali tak berkedip melihat nya.


" Lihatlah pak, saya bahkan lebih ahli dari bapak heheh. Jadi bapak tidak usah ragu dengan Kemampuan bersih-bersih yang saya miliki. "


"Saya minta maaf sebesar-besarnya neng, maafkan saya sudah menyusahkan neng mulai dari membuat minuman dan sekarang neng bahkan ikut membersihkan tugas yang seharusnya saya kerjakan. " Pak sarip lagi-lagi merasa tidak enak karena zhia yang ikut berpartisipasi dalam membersihkan pekerjaan nya itu.


Zhia tersenyum senang "Bapak ih, jangan suka ngk enakan yah pak. Saya sangat senang bisa ikut membantu. Tapi bapak tepatin janji yah bawa alif minggu depan heheh. " Zhia semakin tak sabar ingin bertemu dengan alif.


"Alif? " Albar berucap heran saat zhia menyebutkan nama itu.


"Alif anak pak sarip? Untuk apa dia meminta anak kecil begitu datang? " Albar terlihat bingung.


"Dan kenapa aku peduli? "


Albar langsung menggeleng heran dengan dirinya yang sejak tadi tanpa alasan peduli dengan zhia dan perbincangan Mereka.


"Ah bukan urusan ku. " Albar pergi memasuki rumah.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Duilahh kamu kenapa Albar? Kok peduli?

__ADS_1


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say ๐Ÿคฃ


__ADS_2