
🍁🍁kehidupan remaja ku tak seindah kehidupan remaja yang lainnya 🍁🍁
Aku dengan kesal membersihkan piring dan nasi yang jatuh ke lantai itu sembari sesekali berdumal karena tidak suka dengan sikap mas Albar, sudah jelas-jelas itu adalah kesalahan nya kenapa malah bersikap akulah yang salah disini?.
"Huuu kalau tau kalian akan jatuh begini aku pasti akan mau disuapi olehnya tadi, sayang sekali mana udah laper banget lagi. " Aku mengelus pelan perut rataku itu karena merasa sangat kelaparan.
Aku pun dengan cepat menyelesaikan acara membersihkan lantai itu kemudian mencuci tanganku hingga bersih lalu berjalan gontai menuju kamar.
Kulihat mas Albar sudah terbaring diatas tempat tidur sembari tersenyum melihat kearah HP nya itu, aku hanya diam saja mengabaikan itu. Rasa lapar ku sudah membuat ku tak mau memikirkan banyak hal lagi.
Kubuka perlahan tas ku dan mengeluarkan peralatan tulisku itu kemudian mencoba untuk mengusir rasa lapar dengan menyibukkan diri menulis catatan.
Tapi baru beberapa saat aku aku menulis aku sudah tak sanggup lagi, ternyata menulis juga butuh tenaga. Huuu lapar sekali sih rutukku pelan sembari memegangi perutku.
"Hei dungu. " Buru-buru aku melihat kearahnya dengan memasang wajah seolah aku benar-benar tidak apa-apa.
"Iya tuan. "
Ia bangkit dari atas ranjang dan meraih dompet juga kunci mobil lalu menarik tanganku menuruni anak tangga.
Kenapa buru-buru sekali sih? Emangnya mau kemana? Aku sudah tak sanggup berjalan cepat seperti ini.
"Tuan, jangan cepat gitu. " Suaraku bahkan sudah tak bisa keras lagi.
Saat dimobil ku lihat mas Albar sedang fokus menyetir. Mau kemana sih? Kenapa ngk bilang bilang dan tinggal tarik aja, dikira aku ini tali apa?.
"Tuan, kita mau kemana? " Tanyaku dengan lemah karena sudah kehabisan energi akibatnya tadi.
Ia melirik sekilas kearahku lalu melihat kearah depan lagi"Saya masih lapar, saya ingin makan di luar tapi tidak tau mau makan dimana, saya sudah mulai bosan dengan masakan di daerah ini. "
__ADS_1
Dia pikir hanya dia yang lapar, padahal dia sempat makan nasi goreng tadi walaupun hanya beberapa sendok saja bagaimana dengan ku yang belum makan apa-apa ini?.
"Menurut mu dimana tempat makan yang enak disini? " Apa mas Albar serius bertanya padaku? Atau hanya sedang mengolok ku? Tentunya ia yang lebih tau dimana tempat makan yang paling enak karena ia sudah tinggal lama disini.
"Saya tidak tau tuan. " Aku memilih memejamkan mataku saja. Tak memiliki energi lagi kini.
Kudengar ia sedikit mendengus, kenapa pusing sekali sih? Dia pikir aku tidak pusing juga?.
"Ah saran saya tuan coba saja makan disana, kalau tidak salah saya pernah mendengar kalau masakan nya enak tuan. " Tunjuk ku pada sebuah gerobak yang berjualan di kaki lima itu.
Mas Albar tertawa setelah mendengar itu dariku"Are you kidding? Masa saya makan disitu sih? "Apa salahnya sih?.
" Loh kenapa tuan, apa salahnya? Kan makanan itu halal untuk dimakan, apa karena tuan orang kaya makannya tuan merasa tak sudi untuk makan disitu? Asal tuan tau orang orang yang bekerja sebagai penjual seperti itu untuk bertahan hidup juga tuan. Kenapa kalian memandang nya jijik seperti itu? "Aku sangat kesal dengan nya sejak tadi hingga tak sadar mengatakan itu padanya.apa salahnya jika makan ditempat seperti itu? Bahkan lebih enak makan disitu melihat pengendara yang berlalu lalang dan suasana nya juga sejuk begitu.
Setelah itu aku langsung menunduk takut, bagaimana kalau ia akan marah dan memukul ku? Waduhh mati aku.
" Tau apa kamu? "
" Kenapa berhenti tuan? Bukannya tuan tidak sudi makan disini? "Tanya ku lagi-lagi bertanya ini dan itu.
"Saya lihat kamu sepertinya sangat ingin makan disini, apa kita kesini saja biar mulutmu itu bisa tenang? " Aku tau ia sedang menyindir ku tadi, tapi aku terlanjur senang karena akan kehilangan rasa lapar ini hingga mengabaikan itu.
"Wahh setuju tuan. " Aku bahkan sempat tersenyum lebar kearahnya hingga ia heran melihat kearahku.
"Sebegitu inginnya kamu makan disini? Ck, seleramu kampungan sekali. " Ia berdecih lalu melepas sabuk pengaman nya itu.
"Aku memang orang kampung mau gimana lagi. " Aku berdumal kesal karena ucapannya tadi membuat ku sedikit tertohok. Dia memang sedikit lambeh.
"Saya bisa mendengar nya dengan jelas. "
__ADS_1
"Sengaja." Namun kali ini aku hanya berbisik pelan agar ia tak bisa mendengar nya.
"Ck, ramai sekali disini. " Mas Albar terlihat tidak suka saat melihat banyak sekali pembeli yang datang ketempat itu. Kenapa sih banyak hal yang membuat ia kesal?.
"Yah bagus dong tuan, itu tandanya jualan nya laku dan lancar. Kenapa tuan malah kesal jika ramai begitu, harusnya tuan juga senang karena orang lain bisa sukses bukan cuma tuan doang yang bisa sukses. " Aku lagi-lagi berbicara banyak hal hingga mas Albar melihat kearahku dengan kesal.
"Banyak omong yah kamu, sudah saya bilang tau apa kamu ini? " Ia benar-benar kesal kearahku.
Harusnya aku yang kesal karena nya, katanya ingin mengajakku makan ketempat itu tapi sampai kini ia tak kunjung turun juga dari mobil. Mana mungkin aku turun lebih dulu, takutnya Nanti saat aku turun ia malah pergi melaju meninggalkan ku.
Bagaimana ini? Akun sudah sangat lapar sekali, kenapa sih? Ingin kesana saja butuh waktu lama sekali untuk berpikir seperti sedang seleksi hal penting saja dia.
"Bagaimana tuan? Apa kita tidak jadi kesana? " Aku benar-benar sangat lapar hingga selancang itu bertanya.
"Kamu sangat ingin kesana yah? Kita ke tempat lain saja bagaimana? " Wahh ada apa ini? Kenapa nadanya seperti seolah kami ini dekat saja.
"Ih taun kenapa berubah pikiran sih? Katanya tadi mau makan disana, apa sih yang buat tuan ragu banget buat makan disana. Saya yakin makanan nya tuh aman tuan, saya sudah sangat ingin makan di sana. " Aku menunduk lesu. Rasa lapar ku sudah menjadi jadi kini.
"Huh, baiklah kita makan disana saja tapi jangan lama-lama. " Wah kenapa ia mendadak baik begitu sih? Aku sampai tercengang dengan nya.
"Horee, makasih tuan yang baik hati dan tidak sombong. " Aku sengaja menyanjung nya agar ia sedikit lebih semangat membelikan ku makanan.
Ia melihat sinis kearah ku"Apa apaan begitu? "Ia terlihat tidak suka jika aku bereaksi berlebihan seperti itu hingga ia terus saja melihat ku dengan sinis.
Aku tak peduli yang penting aku kenyang nanti.
🍁🍁bersambung 🍁🍁
Jangan lupa yah like, komen dan vote❤.
__ADS_1
Pai pai say 💋