Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
36. penuh kepalsuan


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿaku lelah dengan kepalsuan ini๐Ÿ๐Ÿ


Aku langsung terduduk kaget saat kudengar suara alarm ku berbunyi sangat lantang sekali. Kulirik sekilas kearah ranjang mas Albar dan seperti semalam masih saja kosong dan sprei nya saja masih terlihat sangat rapi disana.


"Huh, sampai kini mas Albar belum juga pulang. " Aku mendengus pelan lalu bangkit dan melakukan beberapa peregangan.


Karena hari masih sangat pagi aku menyempatkan diri untuk berolahraga sebentar karena sudah lama sekali aku tidak melakukan itu. Semenjak bersama dengan mas Albar rutinitas ku saat jadi model dulu tak pernah lagi kulakukan. Seperti berolahraga, makan teratur dan juga melakukan beberapa perawatan. Ah sudahlah mana ada pembantu melakukan hal-hal yang kusebutkan tadi.


Setelah melakukan beberapa peregangan aku pun mengikat rambut yang sudah ku sisir itu lalu turun ke bawah untuk melakukan aktivitas pagiku dengan menyapu lantai yang sama sekali tidak kotor begitu juga dengan mengepel nya. Aku tau mas Albar tidak melihat ku mengerjakan nya. Lebih baik ku kerjakan saja untuk sekedar cari aman. Menghadapi sifatnya saat ini saja sudah membuat ku susah apalagi harus bertemu dengan sifatnya yang ia sebut menyebalkan itu. Ah aku tidak bisa membayangkan.


Selanjutnya adalah memasak, makanan yang ku masak semalam sudah basi karena tak ada yang memakan, aku mana bisa menghabiskan semuanya sendirian. Kalau tau mereka tidak pulang aku tak akan memasak sebanyak ini.


"Demi apa kamu seperti ini zhia, dulu kamu sangat susah untuk mendapatkan sesuap nasi. Kenapa sekarang malah buang-buang makanan? " Aku merutuki sendiri kebodohan ku yang membuang makanan ini.


Aku menghala nafas sedikit frustasi karena bingung harus memasak makanan atau tidak? Bagaimana kalau mas Albar datang nanti makanan belum juga ku sediakan? Tapi kalau ku masak juga takutnya akan seperti ini lagi. Aduhh mas Albar dihubungi juga tidak bisa. Harusnya berkabar saja kalau ingin pergi atau tidak ingin pulang. Aku jadi repot karena bingung.


"Huh, lebih baik aku memasak saja. Aku tak mau cari masalah dengan nya yg tak jelas itu. " Buru-buru ku kelurkan alat-alat masak dan juga bahan makanan yang akan ku masak dari dalam kulkas.


Setelah selesai dengan pekerjaan rumah juga berkemas kesekolah aku berdiri sebentar didepan kaca yang biasa mas Albar gunakan untuk melihat penampilan nya.


"Huh, hidupmu penuh dengan kepalsuan. " Aku berbicara dengan diriku yang saat ini berada di depan cermin.


Tiba-tiba HP ku berdering dengan sedikit lantang. Aku dengan cepat meraihnya dan menerima panggilan itu.


"Halo, siapa?" Sahutku saat seseorang menyapa dari sana.


"Ini gua ragil, lu ngk save no gua yah?" Buru-buru kulihat nomor itu dan ternyata itu ragil, aku tidak terlalu memperhatikan namanya tadi.


"Hehehe maaf yah gil aku ngk liat tadi. Ada apa yah? " Aku sedikit bingung kenapa ia menelpon pagi-pagi begini.

__ADS_1


"Nih gua mau berangkat kesekolah, gua jemput lu sekarang yah. "


Jantung ku langsung berdetak tak karuan, bagaimana ini? Aku kan berbohong padanya soal rumah. Waduhh bagaimana ini?.


"Hah? Kenapa? Rumah kamu kan ada di dekat sekolah ragil. Nanti malah ngerepotin." Ayolah zhia pikirkan cara agar ragil tidak jadi menjemput mu.


"Biasa, warnet langganan gua kan ada disana. Sekalian aja hari ini gua males nge-warnet. "


Aku langsung buru-buru mengambil tas sekolah juga sepatuku lalu turun kebawah.


"Gua berangkat sekarang yah. " Ragil mematikan sambungan hingga aku langsung memakai sepatu ku dengan gerakan kilat.


Setelah selesai aku langsung berlari menuju rumah dimana aku berpura-pura itu adalah rumahku.


"Duhh kenapa jauh sekali sih? Aihh kamu tuh kenapa sih zhia? Hidup seperti ini tidak lelah rupanya? " Aku merutuki hidupku sendiri yang sangat berantakan ini.


"Bagaimana kalau ragil sudah ada disana? Akhh pusing nih. " Aku terus saja berlari dengan kencang seolah sedang dikejar oleh pembalap saja.


"Hosshhh." Aku menarik nafas panjang dan lega saat kulihat ragil belum juga ada disana.


"Syukurlah." Aku sedikit merasa lega meskipun pagi-pagi begini aku sudah keringatan.


"Tin, tin. " Suara klakson dari arah jalan ku dengar dan ragil sudah tersenyum dari sana.


"Udah lama nunggu? " Ia bertanya. Lama apa? Capek aku lari-lari dari tadi.


Aku dengan cepat menggeleng dan menghapus peluh yang ada di wajahku.


"Napa lu? Masih pagi aja udah keringetan gitu? Marathon lu? " Ragil sedikit tersenyum merasa lucu.

__ADS_1


Aku dengan cepat menggeleng "tadi aku sedikit berolahraga heheh jatuhnya malah keringetan gini. "


"Yaudah kuy. " Ragil dan aku langsung menaiki motornya dan kami pun melaju menuju sekolah.


Aku benar-benar lelah di pagi hari ini. Karena kebodohan ku yang berbohong aku mempersulit hidupku sendiri.


"Sayang aku berangkat kantor hari ini yah. Semalam aku udah libur. " Albar yang keluar dari kamar lengkap dengan setelan nya yg juga sudah tersedia dirumah Naya kekasih tercinta nya itu.


Naya mengangguk tersenyum dan membantu Albar untuk mengikat dasinya. Naya sangat ahli dalam mengikat dasi hingga tidak seperti zhia harus selalu mendapatkan koreksi dari Albar.


"Nanti aku ngk dirumah yah sayang, soalnya ada beberapa urusan karir aku. " Naya mengelus pelan pipi Albar dan Albar tersenyum mengangguk.


"Semoga cepet selesai yah. " Albar mendekat dan mengecup pelan bibir Naya lalu dibalas juga oleh Naya.


Mereka berciuman sedikit lama dan menyudahinya karena Albar mendapatkan sebuah panggilan.


"Sejak semalam banyak sekali yang menghubungi ku. " Albar melepaskan ciuman nya dan meraih ponsel itu.


"Sayang aku pamit yah. " Ia mengecup pelan pucuk kepala Naya dan keluar dari kediaman itu sembari menerima panggilan yang terus saja berbunyi itu.


Albar sama sekali tidak mengingat kehadiran zhia yang ia tinggalkan sejak semalam. Tanpa kabar ia bersikap biasa saja seolah zhia memang benar-benar ia anggap hanya sebagai alat saja. Padahal ia adalah seorang suami sah bagi zhia secara hukum dan ia juga memiliki kewajiban untuk memperhatikan zhia baik itu batin juga hatinya.


Albar sangat egois hanya memperdulikan perasaan nya saja tanpa peduli bagaimana keadaan zhia juga perasaannya itu. Bukankah saling menghargai adalah kunci dari setiap kerjasama juga kebersamaan.


Zhia tak meminta banyak. Ia hanya ingin dihargai dan di anggap sebagai manusia. Itu saja tidak perlu lebih dari itu Karena ia juga tau diri jika harus meminta lebih banyak lagi.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜

__ADS_1


Pai pai say๐Ÿ


__ADS_2