Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
107. Paman adil?


__ADS_3

🍁🍁 Aku tak akan keberatan saat kamu datang dengan keadaan bahagia setelah meninggalkan ku, tapi tahukah kamu betapa hancurnya hatiku saat melihat mu datang dengan keadaan hancur 🍁🍁


Zhia selesai memberikan asi pada alzi yang kini sudah merasa damai setelah bebas dari rasa lapar. Ia memberikan alzi ke arah Albar karena melihat tangan Albar telentang meminta alzi.


"Lain kali sayang sebelum kita pergi kamu masih alzi asi dulu biar ngk kayak tadi, untung aja tadi ngk banyak pelanggan pria disini. " Albar dengan wajah sedikit kesal.


Zhia tersenyum pelan dan mengangguk saja"Tapi kita mana bisa mas prediksi rasa lapar anak kita, lagian kan ada mas yang jagain kan. "Zhia mencoba untuk berbicara lembut dengan Albar mode ini.


" Aaa sini mas suapin sayang, tadi udah ngasih anak kita makan sekarang giliran mas ngasih kamu makan deh. "


"Ihh alay banget masnya, kan aku bisa sendiri mas. Atau masnya yang mau aku suapin? "


Dengan semangat Albar mengangguk mendengar itu.


"Duhh sekarang aku punya dua bayi yah sayang, satu bayi kecil dan satu lagi bayi besar. Dua-duanya ganteng. "


Zhia menyuapi Albar dengan pelan dan sesekali ia juga ikut makan, senyum tak pernah lepas dari keduanya karena melakukan hal romantis tersebut sangat menyenangkan untuk dilakukan.


Setelah selesai makan zhia dan Albar hendak pergi menuju tempat bermain yang sudah ditentukan oleh Albar itu. Namun, mereka mendengar kegaduhan didepan restaurant dan itu sangat lah keras.


"Ada apa itu mas? "


"Mungkin hanya perdebatan kecil sayang, apa kita perlu melihat nya? " Tanya Albar melihat zhia yang terlihat penasaran itu.


"Hmm tidak usah deh mas, takutnya nanti kita terlalu mengurusi urusan orang lain. Bagaimana kalau mereka tidak nyaman jika dilihat lihat seperti itu. " Zhia dan Albar hendak berlalu namun zhia menangkap sosok familiar ditengah perseteruan itu.


"Mas kita kesana sebentar yah mas, tolong jaga alzi. "


Zhia berlari lebih dulu menuju keributan itu, tidak terlalu ramai memang namun, ada beberapa orang yang saat ini sedang memperhatikan nya.


Zhia merasa jantungnya saat ini seakan berhenti saat melihat orang yang saat ini dihakimi oleh pegawai restaurant itu adalah sosok yang pernah memberikan ia hidup, pekerjaan juga rumah. Namun, orang itu sendiri yang telah tega menjual nya.


"Paman adil? " Gumam zhia dengan air mata hampir jatuh.


Zhia bukanlah sosok yang cengeng namun, menyangkut orang orang berharga dalam hidup nya entah kenapa air matanya sangat mudah untuk jatuh begitu saja. Ia sudah lama ingin bertemu dengan orang yang telah menjualnya itu.


Zhia masih saja diam memperhatikan dan mendengarkan perseteruan itu.


"Kami sudah mengisyaratkan dan memperingatkan bapak untuk tidak boleh lagi mengobrak-abrik tong sampah ini. Kenapa tidak pernah mendengarkan? Sudah berapa kali kami memperingati mu? " Kesal pegawai itu.


"Kita laporkan saja dia karena sudah menggangu kenyamanan kita. " Seru pegawai yang satu lagi.

__ADS_1


"Maafkan saya pak, saya hanya kelaparan. Saya akan membersihkannya. " Seru laki-laki yang zhia yakini itu adalah pamannya.


Zhia berjalan pelan dengan air mata berlinang dipelupuk matanya, hatinya hancur saat melihat sosok rapi itu kini terlihat sangat amburadul dan berantakan. Wajah bersih itu kini sangat kotor sekali.


"Paman adil? " Lirih zhia kini berada di depan paman adil juga pegawai itu.


Laki-laki yang zhia sebut sebagai paman itu langsung kaget saat melihat gadis muda yang pernah ia sayangi sebagai anak itu kini sudah ada di hadapan nya.


Ia terlihat gemetar hebat karena tak menyangka akan bertemu disini dengan putri angkat nya itu.


Air mata zhia masih saja mengalir deras melihat keadaan laki-laki itu kini telah hancur sudah.


"Nona mengenal laki-laki ini? Kalau kenal tolong diurus agar tidak membuat onar dan kekotoran disini lagi. "


"Hiks,,, "


Albar hanya diam saja sejak tadi, ia tak ingin ikut campur dengan urusan mereka berdua karena mereka lah yg bisa menyelesaikan ini.


"Hiks,, "


Zhia masih saja menangis sedang paman adil hanya bisa mematung dengan tangan gemetar dan air mata yang juga deras seperti air mata zhia.


"Hiks,, "


Tangisan zhia semakin keras saat mendengar panggilan yang sudah lama ia tak mendengar itu. Hatinya sangat hancur kini.


"Maafkan paman mu ini, maafkan paman mu ini. Aku tau kesalahan ku tak akan bisa kamu maafkan. "


Zhia hanya diam saja kini, ia masih tak bergerak dan hanya air matanya yang berbicara kini. Perasaan nya campur aduk, ia sangat membenci Paman nya karena telah tega menjual nya dan sekarang ia datang dengan keadaan menyedihkan ini hingga membuat zhia merasa iba dan tak bisa membenci nya. Begitu hebat dalam mengobrak-abrik hatinya.


"Hiks,, paman jahat. Aku hiks,, aku. " Zhia tak bisa lagi berbicara dengan jelas. Dadanya sangat sesak.


"Paman minta maaf nak, paman sangat menyesal. "


"Kenapa paman datang dengan keadaan seperti ini hiks? Seharusnya paman hidup bahagia setelah membawa uang itu. Aku benci saat paman malah seperti ini setelah menjual ku. Aku lebih memilih paman bahagia saja agar aku bisa membenci paman hiks,, kalau begini aku tak akan bisa mebencimu hiks,, " Zhia menangis dengan keras.


Paman adil yang mendengar itu juga semakin menangis dan memeluk zhia dengan air mata yang sangat deras.


"Maafkan paman mu yg sangat jahat ini, setelah pergi meninggalkan mu paman langsung hancur dan dihantui rasa bersalah, paman sudah tega menjual mu dan meninggalkan mu begitu saja. Maafkan paman mu ini hikss, "


"Hiks,, paman jahat hiks,, "

__ADS_1


Sudah berkali-kali zhia juga Albar membujuk paman adil untuk ikut dengan mereka tinggal dirumah. Tapi paman adil merasa tak pantas hingga memilih untuk pergi saja. Ia merasa bersalah jika terus saja melihat zhia.


"Hiks,, "


"Sudahlah sayang, kamu sudah banyak menangis sejak tadi. " Albar mencoba mendiamkan zhia yang masih saja menangis itu.


"Hiks,, "


"Tunggu yah biar mas yang urus masalah paman adil, biar mas Suruh rian saja yang membantu nya. "


Zhia mengangguk dengan pelan.


Albar menghubungi rian asisten pribadi nya untuk mencari paman adil dan memberikan tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang baik.


"Makasih yah mas hiks,, " Zhia memeluk Albar yang masih saja memangku alzi itu.


Albar memeluk zhia juga, ia mengelus pelan surai hitam zhia.


"Kamu memang gadis hebat sayang, mas kira kamu akan marah dan memaki paman adil saat bertemu tapi ternyata kamu sangat murah hati. Mas bangga sayang. "


"Aku memang pernah membenci nya mas tapi aku tau paman adil pasti punya alasan tersendiri melakukan itu, aku semakin kesal saat ia datang dengan keadaan seperti itu. Aku tak tega melihat nya. "


"Kamu memang lembut hati sayang. "


"Dan karena paman adil lah aku bisa bersama dengan kamu mas juga alzi anak kita. " Zhia dengan air mata masih saja menganak sungai dipelupuk matanya itu.


Albar mendekat dan mengusap air mata itu dengan lembut.


Ia mengecup pelan bibir zhia dan sedikit mel*matnya.


"Kamu sudah melakukan nya dengan baik sayang. Mas bangga. "


Zhia hanya diam dan kembali memikirkan bagaimana keadaan paman adil saat ini.


🍁🍁bersambung 🍁🍁


Zhia emang paling lemah kalau nyangkut orang orang terdekat nya. Kalau aku mah masih mikir mikir dulu mau maafin apa enggak hehehe


Jangan lupa yah like, komen dan vote😍


Pai pai say🍁

__ADS_1


__ADS_2