
๐๐Saat kamu dikaruniai tanggung jawab yang sangat besar apakah kamu akan menyerah atau semakin kuat๐๐
ย ย Zhia hanya diam saja setelah mendapatkan berita itu dari dokter, karena ia sudah merasakan keanehan dalam dirinya sejak beberapa hari ini dan belum lagi ia bahkan sering mual juga merasa sangat asing dengan dirinya.
Namun, siapa sangka itu adalah tanda-tanda bahwa ada malaikat kecil yang akan hadir dalam hidup mereka, seorang malaikat kini hadir dalam perut rata milik zhia.
"Sayang kamu kenapa? " Albar yang sejak tadi tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagia karena mendapat kabar bahwa istrinya tengah mengandung buah hati nya sendiri. Belum lagi orang yang pertama kalinya tau adalah dia suaminya.
Untung saja ia membawa zhia kerumah sakit hingga tau tentang kehamilan istrinya itu. Senyum tidak pernah bisa lepas dari bibir itu.
Sedangkan zhia hanya diam saja masih belum menyangka ini adalah kenyataan, ia masih ragu dan tak percaya. Gadis kecil seperti nya yang bahkan tak tau apa-apa itu akan jadi seorang ibu? Ia merasa belum cukup dewasa untuk bisa diandalkan dan dijadikan sebagai seorang ibu. Belum lagi sifat labil yang susah untuk ia rubah itu, bagaimana jika ia mengecewakan Albar juga seluruh keluarga.
"Sayang mas udah ngk sabar nih mau ngasih tau ayah tentang kabar gembira ini. Pasti beliau akan sangat senang. " Albar dengan sederap gigi rapinya sangat terekspos karena senyuman lebarnya.
"Mas, aku ngantuk nih. Kalau udah sampe mas bangunin aku yah."
"Iya sayang nanti mas bangunin deh. " Albar tidak sadar dengan kekhawatiran zhia itu. Baginya ini adalah kebahagiaan yang tiada tara. Membayangkan ia jadi seorang ayah semakin membuat ia semakin bersemangat saja.
Albar mengangkat tubuh zhia tiba-tiba saat mereka sudah sampai dirumah.
"Mas turunin akun aja, malu ih nanti diliatin. " Zhia meminta untuk turun.
Albar menggeleng sambil tersenyum "Ngkpp sayang biar mereka tau bahagianya mas hari ini dan kedepannya akan lebih bahagia lagi saat malaikat sudah lahir di tengah tengah kita. " Albar mencium kening zhia.
"Ayah, " Panggil Albar saat mereka sudah berada diruang depan. Albar mendudukkan zhia disofa sembari menunggu ayahnya datang dari kamar.
"Ayah."
"Ck, kemana sih Ayah ini? "
"Ada apa kamu teriak teriak begitu memanggil Ayah? Seperti anak kecil saja. "
Albar yang biasanya akan membalas ucapan ayahnya dengan sarkastis itu hanya bisa tersenyum lalu memeluk ayahnya dengan erat. Belum lagi ia sedikit melompat-lompat saking senang nya.
Ayah sampai kaget dengan putra bungsunya itu, mana pernah dia peluk ayahnya sejak tumbuh dewasa selalu saja cuek dan memilih untuk memendam sendirian.
"Kenapa dengan mu? " Ayah terlihat sangat heran.
Albar melepaskan pelukan nya dan menatap Ayah dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Ayah akan jadi kakek lagi kali ini, dan kali ini bukan dari mbak vio tapi dari Albar Ayah. Albar akan jadi Ayah. "
Zhia melihat kearah Albar yang sungguh sangat senang itu, begitu juga dengan Ayah yang sangat kaget juga sesenang itu. Apa yang ia khawatirkan saat semua orang menginginkan itu juga?.
__ADS_1
"Menantuku, apa benar yang dikatakan suamimu itu? " Ayah mengabaikan Albar yang masih saja senang itu dan berjalan kearah zhia.
Zhia dengan wajah tersenyum lalu menganggukkan kepala nya kearah Ayah.
"Iya Ayah. "
"Terima kasih menantuku, Terima kasih. "
Zhia jadi merasa tak enak saat merasakan keraguan itu dan melihat kesenangan sang ayah.
Sampai dikamar Zhia hanya diam saja melihat ke balkon. Ia mengelus pelan perutnya yang masih rata itu.
"Apa ini adalah awal bagiku untuk semakin dewasa lagi? Ibu takut tidak bisa menjadi ibu baik untuk mu sayang. "
Malam ini zhia benar-benar merasa sangat emosional tanpa sebab.
Zhia memandangi langit yang dipenuhi dengan bintang bintang dan tiba-tiba ia merasakan pelukan dari arah belakang. Belum lagi tangan itu mengelus pelan perut zhia.
Zhia berbalik dan mlihat orang itu adalah Albar suaminya yang baru saja mandi terlihat dari rambut nya yang basah itu. Albar tersenyum kearah zhia dan mengecup pelan bibir itu.
"Kenapa hmm? Sejak tadi mas liat kamu seperti sedang memikirkan sesuatu sayang. "
Zhia memeluk Albar lalu mengeratkan pelukannya itu. Perlahan air matanya jatuh dan masih memeluk Albar. Entah kenapa ia hanya ingin meluapkan rasa khawatir nya malam ini.
Belum lagi ia sampai kaget menyadari istrinya itu ternyata menangis dipelukan nya.
"Hiks,,, mas, aku takut. " Zhia bersuara dengan lirih masih memeluk Albar dengan erat dan menangis disana.
Wajah Albar terlihat sangat khawatir apalagi saat melihat istrinya menangis ia semakin khwatir saja.
"Kenapa hmm? Apa yang membuat istri ku ini khwatir? "
Albar mencoba untuk melepaskan pelukan itu dan melihat wajah zhia namun zhia menolak nya. Ia masih saja menangis meluapkan keresahan itu.
Jujur, ia sangat takut tanpa sebab.
Albar menuntun zhia kearas ranjang dan duduk disana. Ia memegang bahu istrinya itu, melihat wajah memerah karena baru menangis itu.
Ia usap pelan bekas air mata itu lalu mengecup mata zhia kiri kanan. Ia juga mencium kening zhia lama.
"Kenapa hmmm? Apa yang membuat istri ku ini begitu khawatir dan takut?"
Zhia menunduk dengan meremas tepi kasur dan Albar yang melihat itu meraih tangan zhia dan memegang nya erat.
__ADS_1
"Cerita sama mas, apapun yang membuat istri ku ini khawatir. Mas ingin tau. "
"Hiks,,, aku takut mas, bagaimana bisa aku akan menjadi seorang ibu saat aku masih seperti anak-anak begini. Aku belum cocok hiks, bagaimana jika aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak kita hiks,, "
Tangis zhia lagi-lagi pecah karena itu, ia sangat khawatir jika ia tak becus menjadi seorang ibu dan istri Albar akan marah dan membuangnya.
Albar tersenyum mendengar itu, ia elus surai hitam zhia dengan penuh kasih sayang.
"Mas percaya kamu bisa sayang, kita sama-sama berjuang untuk malaikat kita. Mas sendiri belum tentu bisa menjadi seorang ayah yang baik tapi mas yakin bersamamu kita bisa menjadi orang tua yang baik. Kita sama sama berjuang sayang. " Albar mencium kening zhia lagi.
Zhia merasa sedikit lega karena ucapan albar itu, ia merasa ucapan Albar memang benar adanya. Apa yang harusnya ia khawatir kan saat ada Albar disisinya.
"Maafkan mamah karena meragukanmu sayang, mamah senang dengan kehadiran mu jadi mamah harap kamu juga bangga punya ibu seperti ku. " Gumam zhia mengelus perutnya itu.
Albar tersenyum dan memeluk zhia dengan erat.
"Mas tau kamu adalah wanita yang hebat dan aku yakin anak kita adalah orang yang beruntung bisa menjadi anak dari gadis hebat seperti mu. "
Albar mencium kening zhia lagi dan lagi. Ia begitu menyayangi istrinya itu.
"Sekarang kita tidur yah sayang, " Ucap Albar membaringkan tubuh zhia lalu ikut berbaring disamping nya.
"Peluk aku mas. "
Albar tersenyum lalu memeluk zhia dengan erat sembari menepuk pelan punggung zhia.
"Selamat malam sayang. " Bisik Albar ditelinga zhia.
Zhia tersenyum lalu mengangguk"selamat malam juga sayang. "
Mereka berdua tersenyum dan saling menatap.
Cup,
Bibir tebal itu sudah berhasil meraup bibir mungil milik zhia. Mereka berciuman cukup lama dengan pelukan erat satu sama lain.
"Hmm sekarang tidur yah sayang," Ucap Albar dan di anggukan oleh zhia.
๐๐bersambung ๐๐
Huiii cie kang batu mau jadi bapak tuh๐
Jangan lupa yah like komen dan vote๐
__ADS_1
Pai pai say ๐