Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
58. Apa lagi kali ini


__ADS_3

🍁🍁Bisakah saat aku tak berarti untukmu, setidaknya hargailah bahwa setiap kehidupan seseorang sangat berarti untuk orang itu tersendiri 🍁🍁


   Aku duduk diatas sofa menunggu mas Albar selesai mandi. Hari sudah mulai menjelang maghrib dan barulah mas Albar datang kerumah ini hingga tadi ia bahkan sempat berdebat dengan ayah karena mas Albar telat pulang.


Acara sebentar lagi akan dimulai, para pelayanan sudah sibuk menyiapkan acara dibawah dan tadi juga aku sempat membantu sedikit namun, karena ayah melarang maka aku tak bisa membantah.


Perlahan pintu kamar mandi terbuka memperlihatkan mas Albar yang keluar dengan balutan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja. Bekas air masih saja menempel ditubuh indahnya itu. Buru-buru ku hilangkan pikiran pikiran aneh dari otakku.


Aku perlahan meraih pakaian dari atas kasur yang sudah ku sediakan tadi sesuai permintaan mas Albar.


Ia perlahan memakai semua nya dihadapanku, kalau bukan karena aku yang inisiatif untuk berbalik aku mungkin sudah melihat sesuatu yang tak seharusnya untuk aku lihat. Pertanyaan nya, kemana hilangnya urat malu mas Albar ini? Walaupun bagaimana pun aku adalah gadis yang sudah SMA dan itu tak baik untuk kesehatan mataku.


"Kau kemarilah, mendekat sedikit. " Mas Albar menarik ku hingga kini ada dihadapannya.


"A,, ada apa tuan? " Gara-gara mas Albar menarik ku terlalu dekat dengan nya. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak gugup.


"Kancing kemeja Saya dan Pakaikan dasi. " Mas Albar dengan entengnya.


Apa sih guna dari kedua tangannya itu? Masa sih mengancing baju saja harus aku yang kerjakan. Dasar laki-laki batu.


"Baik tuan, "lebih baik menurut saja biar cepat selesai.


Mata mas Albar tak hentinya menatap ke arah ku saat aku sedang sibuk mengancing kemeja nya juga memasangkan ia dasi. Kenapa sih melihat begitu lekat? Bikin takut saja. Apa ada sesuatu yang menempel diwajahku yah?.


" Kenapa dengan ku? Aku sungguh sangat yakin kalau aku masih mencintai Naya seorang. Tapi kenapa aku merasa berdebar saat gadis dungu ini berada di dekat ku? Kenapa ia membuat ku bingung hanya dengan melihat nya saja? "Albar membatin.


" Akhh sudahlah saya saja. Kamu lambat sekali,"tuding mas Albar tiba-tiba menarik dasi itu dari tangan ku.


Sudah tau lambat masih saja disuruh ini itu, kenapa sih suka sekali bikin orang jengkel?.


"Bagaimana dengan mu? Kenapa masih diam saja? Tidak mungkin kan kamu berniat datang kebawah dengan penampilan itu? " Mas Albar tiba-tiba melihat nyalang kearah ku.


Loh? Bagaimana lagi aku harus berpenampilan? Hanya ini yang bisa kupakai. Aku tak punya pakaian lain.


"Maaf tuan, hanya ini yang saya miliki. "


"Ck, bodoh sekali sih kamu. Kamu lupa yah dengan baju yang kita beli di toko pakaian itu? " Mas Albar.


Aku tidak lupa kok, tapi kan aku tidak tau apakah itu untuk ku atau untuk orang lain, lagian kan baju itu mas Albar yang megang bukan aku.

__ADS_1


"Maaf tuan, bukankah baju itu tuan yang pegang? " Aku menunduk malas untuk melihat wajahnya.


"Tunggu sebentar, " Maaf Albar keluar sebentar.


Aku melihat diriku di depan cermin, rasa gugup sejak tadi tak bisa kutahan. Membayangkan berhadapan dengan keluarga mas Albar membuat ku tak bisa tenang. Apalagi mengingat mereka semua adalah generasi konglomerat yang sejak kecil tidak pernah merasakan bagaimana kerasnya hidup dan selalu bergelimang harta. Pasti mereka sangat anti dengan orang-orang seperti diriku ini.


"Wajah cantik ku tak berarti karena aku bukanlah siapa-siapa. " Gumamku semakin merasa gugup.


Tuk,


Mas Albar melempar kantong pakaian yang kami beli itu "Pakailah itu. " Mas Albar.


Aku dengan cepat mengambil dress itu dan hendak berjalan ke kamar mandi"Cepatlah,"ucap mas Albar hingga aku dengan cepat menukar pakaian ku di dalam kamar mandi.


"Saya tunggu dibawah, kamu jangan lama-lama. Dan satu lagi ingat ini, kamu hanya perlu diam dan jangan mempermalukan saya. " Mas Albar berjalan keluar kamar.


Seperginya mas Albar aku langsung menghias wajahku dengan alat yang sudah disediakan oleh mas Albar juga. Aku memang pernah menjadi seorang model. Tapi aku tidak terlalu pandai dalam hal merias, karena saat menjadi model kami memiliki jasa make up.


Aku berdiri lagi di depan kaca sembari melihat diriku. Kenapa aku terlihat sangat menyedihkan saat ini? Apa aku akan selamanya seperti ini? Aku sungguh tak nyaman dengan kehidupan ku saat ini. Aku merasa tak bebas.


"Semangat zhia, kamu adalah gadis yang kuat. " Aku menarik sudut tersenyum dari arah bibir ku.


Dari atas kulihat sudah ada beberapa yang datang, tidak terlalu ramai karena ini hanya acara keluarga saja.


Albar yang sedang berbincang dengan kakaknya langsung menganga saat melihat zhia yang berjalan dianak tangga bakal seorang model yang sedang berjalan diatas red carpet. Wajah zhia sangat berseri, wajah cantik nya sungguh sangat berkilau hingga Albar tak sadar bahwa ia sedang terpesona saat ini.


Ayah yang sedang berada disana juga tersenyum sangat senang melihat zhia yang berpenampilan waw sekali malam ini. Dress gold itu sangat matching dengan zhia. Dandanan Natural itu sangat apik untuk perpaduan wajah cantik zhia.


"Pergi sambut tangan istri mu, kamu mau dia diambil orang? " Ayah seperti biasa pasti memiliki cara untuk membuat Albar dan zhia dekat.


Albar yang awalnya sangat enggan pun  menurut untuk melanjutkan akting nya sebagai pasangan sungguhan.


Aku sangat kaget saat mas Albar tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan nya ke arah ku.


"Tu,, tua, ada apa? Tuan ingin sesuatu? " Tanyaku dengan nada serendah mungkin agar tak ada yang mendengar.


Mas Albar terlihat sangat aneh menurut ku"Berikan tanganmu, jangan bertanya dan jangan banyak tingkah. Kamu harus jaga sikap, ingat!! Jangan permalukan saya. "Mas Albar menarik tanganku dengan pelan lalu membawaku menuju tempat ia berdiri tadi.


" Wahh menantu ayah sangat cantik sekali malam ini. Hari ini memang hari untuk mu menantu, kamu memang pantas menjadi seorang putri. "

__ADS_1


Kres, hati nyes banget saat mendengar itu dari ayah. Pitri palsu ini sangat tidak pantas dengan ini semua.


"Ini adalah kak Viona, kakak kedua ku. " Mas Albar berbicara dengan nada lembut. Aku sampai kaget saat mendengar itu apalagi ia bahkan menggunakan bahasa aku kamu.


"Halo mbak, nama saya zhia. " Aku merasa sangat canggung setengah mati belum lagi kakaknya mas Albar melihat ku dengan tatapan tajam seolah ia tak suka dengan ku.


"Sudah disebutkan oleh Albar yah tadi, salam kenal. " Ia melihat kearah ku dengan tatapan masih saja dengan kebencian.


Yatuhan, aku sungguh semakin gugup saja. Masih bertemu dengan kakaknya mas Albar saja aku sudah diperlakukan seperti ini, bagaimana jika tak ada satupun dari mereka untuk menerima ku? Aku takut karena aku bukanlah bagian dari bangsa mereka. Aku hanya gadis biasa.


"Yang ini kak Andi, suami dari kak Vio. " Mas Albar memperkenalkan seorang laki-laki yang berstatus sebagai suami dari mbak Viona.


"Salam kenal mas, " Aku menunduk dengan pelan. Kulihat ia menatapku dengan tatapan aneh, sejak tadi aku sudah merasa risih dengan tatapan nya itu.


"Hei, maaf yah baru dateng. " Seorang pria datang dengan seorang perempuan yang sangat cantik sekali dalam pandangan mu.


"Lama banget kamu vin, makanya kalau ayah suruh nginap kesini tuh nurut. Bandel banget, menantuku apa kamu kelelahan? " Ayah menanyakan itu perasaan gadis yang baru datang dengan pria tadi.


"Tidak ayah, heheh. " Ia terlihat sangat dekat dengan ayah. Atau ayah memang tipe orang yang sangat Penyayang dan juga ramah.


"Ini kaka pertama aku  namanya kak Alvin dan ini kaka ipar aku namanya bela. " Mas Albar kembali menjelaskan bagaimana kekeluargaan nya, dan memperkenalkan mereka satu persatu.


"Oh iya ponakan kok ngk ikut kak? " Mas Albar melihat sekeliling namun tak melihat ponakan nya itu.


"Bentar lagi mungkin, " Ucap mbak viona.


Dan tak lama dari itu seorang laki-laki datang dengan baju yang tak asing menurut ku. Kenapa terlihat sangat mirip dengan baju yang kami pilih dengan ragil tadi sore?.


Dan mataku terbelalak sangat lebar, menolak percaya dengan apa yang kulihat ini. Bisakah aku menghilang saja kali ini? Aku sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.


"Ra, ragil? " Gumamku pelan saat melihat ia berjalan mendekat kearah kami.


Yatuhan!!! Bagaimana ini?


🍁🍁Bersambung 🍁🍁


Waduhh, apa hubungan ragil dengan keluarga Albar?


Jangan lupa yah like komen dan vote😍

__ADS_1


Pai pai say🍁


__ADS_2