Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
33. ragil datang


__ADS_3

๐Ÿ๐Ÿaku berusaha untuk tetap tegar meskipun tau kalau aku tidak akan siap bertahan untuk selamanya ๐Ÿ๐Ÿ


Aku perlahan memasuki cafe dengan sedikit rasa pusing di kepala ku, aku merasa tidak enak dengan mbak nana jika tidak hadir hari ini karena sudah meminta gajiku bulan ini diawal dan aku juga tidak hadir? Aku merasa seperti orang yang tidak tau diri saja.


"Loh, kenapa malah kerja sayang? Wajahmu saja masih pucat begitu, kamu pulang aja sayang. Mbak juga lagi ngk banyak pelanggan nih kamu istirahat saja. " Mbak nana mempersilahkan aku duduk dan kemudian ia menjemput sebuah nampan berisi makanan juga minuman.


"Tapi sebelum itu kamu makan dulu. " Aku merasa sangat terharu dengan kebaikan seorang mbak nana. Pantas saja ia sangat dicintai oleh mas arwan karena hatinya sangat baik sekali.


"Aku tidak lapar Mbak. " Aku sama sekali tidak nafsu makan karena semua terasa sangat pahit sekali. Seperti tadi pagi aku hanya makan beberapa sendok juga dikantin tadi aku hanya makan sedikit.


"Makan dulu, bagaimana mungkin kamu tidak pucat jika makan saja tidak mau. " Mbak nana sedikit rewel memang tapi aku tau ia seperti itu karena perhatian. Lagi-lagi aku melihat sosok ibu dalam diri mbak nana, tadi ragil sekarang mbak nana. Aku bersyukur sekali memiliki mereka disisi ku.


"Semua terasa pahit mbak, aku jadi tidak nafsu makan. "Aku tetap harus memakan nya walau sedikit. Mbak nana akan semakin marah jika aku tak mau makan.


" Itu tandanya kamu memang demam sayang, makanya pulang saja kerumah kamu biar istirahat dulu kalau sudah sembuh baru datang kerja kesini."mbak nana tersenyum.


Aku sih bisa saja pulang kerumah, tapi aku merasa sangat berat untuk datang kesana. Bagaimana jika mereka berdua masih disana, aku merasa sangat tidak nyaman apalagi harus melihat mbak naya aku merasa sangat malas untuk melihat mereka.


Setelah berhasil meyakinkan mbak naya kalau aku baik-baik saja barulah aku bisa kembali bekerja meskipun sesekali aku masih merasa sangat pusing sekali.


"Loh, ragil? " Aku kaget saat kulihat ragil sudah di depanku sembari melambaikan tangan.


"Kok kamu kesini? Lea mana? Bukannya kalian lagi main yah ke taman bermain? " Aku sedikit heran.


"Udah barusan, abis nganterin dia gua kesini, lu kok masih kerja. Mana bos lu? Bisa-bisanya dia biarin karyawan yang sakit kerja gini. " Ragil berbicara sangat keras sekali hingga aku langsung melihat kearah mbak nana.

__ADS_1


Aku takut mbak nana akan tersinggung saat mendengar itu, bagaimana ini? Aduhh aku jadi merasa tidak enak gara-gara ucapan ragil tadi.


"Ihh ragil kok kamu ngomong gitu? Aku yang maksain buat kerja. " Aku langsung panik dan menghampiri mbak nana.


"Maaf yah mbak, bukan maksud ragil buat ngomong gitu. " Aku sangat takut mbak nana akan tersinggung gara-gara Ucapan ragil. Ragil memang tipe orang yang suka blak-blakan tapi hatinya sangat baik kok.


Mbak nana hanya tersenyum kearahku"Santai saja zhia, dia pasti khawatir makanya berkata seperti itu. Kamu sih bandel dibilang istirahat ngk mau. "Aku langsung merasa bersalah sekali. Mbak nana padahal sudah melarang ku untuk bekerja dan aku yang tidak mau menurut tapi mbak nana yang malah di kritik.


" Maafkan aku yah mbak, bukan maksud aku mbak jadi di kritik begitu. "Aku menunduk sekali lagi.


" Kamu itu sangat suka yah merasa semua adalah salahmu, mumpung pacar kamu ada disini. Lebih baik kalian pulang saja, hei kamu pacarnya zhia kan? Bisa kan kakak minta tolong untuk antar zhia pulang? "Mbak nana tiba-tiba datang ke arah ragil dan berbicara seperti itu.


" Pacar? Apa kami terlihat seperti pasangan yah? Kenapa hanya dikatain begitu saja gua udah seneng tanpa sebab? "Batin ragil.


" Mbak, kami bukan pacaran. Dia sama aku cuma temenan. Yakan ragil? "Zhia tiba-tiba datang berkata seperti itu dan membuat ragi langsung gelagapan.


" Hmm padahal sangat serasi jika jadi pasangan. "Mbak nana lagi-lagi tersenyum menggoda.


" Mana mungkin mbak, ragil tuh mana pantas buat aku. "Aku dengan cepat menggeleng. Bagaimana bisa ragil dan aku cocok? Kami berada di tempat yang berbeda sekali, ia kaya, pintar juga tampan sedang aku hanya wajahku saja yang bisa ku andalkan.


" Loh kenapa? "Mbak nana malah bertanya lagi. Sedang ragil juga melihat kearahku seolah sedang menunggu jawaban ku.


" Karena ragil itu anak nya baik kak, pinaringan, kaya juga sangat tampan sangat berbeda jauh dariku. "Aku dengan ragu mengatakan itu. Tapi sedang berbicara jujur saat ini.


" Waduhh, kenapa saat ia muji gua gitu jantung gua langsung deg degan? "Ragil terlihat sangat bingung sembari membatin.

__ADS_1


" Yasudah kalian pergi saja, mbak titip zhia yah adik ganteng. Anterin dia pulang gih biar dia istirahat dulu."kukira mbak nana sudah lupa dengan itu.


Mau tidak mau aku pun ikut ragil keluar dari cafe meninggalkan mbak nana yang melambaikan tangan nya kearah kami sembari tersenyum.


"Gua anterin sekarang gimana? " Ragil menaiki motornya. Tadi dia tidak memakai motor tuh. Kenapa sekarang sudah? Apa setelah mengantarkan zhia ia menjemput nya yah?.


"Gil, aku ngk mau pulang dulu. " Aku merasa sangat tidak ingin pulang saat ini. Aku merasa tidak nyaman dirumah walaupun aku tidak tau apakah mereka ada disana atau bahkan pergi kesuatu tempat.


Ragil terlihat heran saat aku mengatakan tidak ingin pulang sekarang.


"Terus kita mau kemana kalau ngk pulang? Lu butuh istirahat zhia. " Ragil terlihat sangat khawatir.


Aku dengan cepat menggeleng dan menarik sedikit lengan bajunya "Kemana aja asal jangan kerumah yah, aku ngk mau pulang sekarang. " Aku benar-benar tidak ingin pulang saat ini.


"Lu ada masalah yah dirumah? Kenapa setiap gua ceritain tentang rumah lu selalu ngk nyaman? " Ragil.


Aku dengan cepat menggeleng"aku cuma lagi ngk mau pulang aja gil. Aku masih ingin berada diluar rumah, dirumah sangat membosankan. "Aku tetap tak ingin kembali kerumah saat ini.


Ragil sedikit mendengus dan langsung mengangguk" Yaudah lu naik aja dulu, abis itu kita cari tempat yang cocok buat lu istirahat. Lu sih kenapa malah ngk mau pulang kerumah sih? Bikin kesel aja. Kalau lagi sakit tuh istirahat bukan malah mau keluar rumah. "Ragil lagi-lagi rewel.


Aku dengan cepat melingkarkan tanganku di pinggang nya takut jatuh saat ia menjalankan motornya.


Ia yang awalnya rewel langsung terdiam dan sesekali berdehem membingungkan.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say๐ŸŒผ


__ADS_2