
🍁🍁Jangan pernah untuk mencoba menggenggam tanganku saat kamu masih menggenggam tangan wanita lain🍁🍁 (ini adalah salah satu quotes yang pantas untuk Albar)
Setelah merasa sedikit tenang akupun segera memperbaiki penampilan ku. Ku usap bekas air mata di pipiku. Menghapus bekas air mata di rok ku. Karena bel istirahat sudah berbunyi saatnya makan siang di kantin. Aku sebenarnya sangat lapar kini karena tadi pagi aku tidak berselera makan.
Aku keluar dari kamar mandi masih dengan mata sembab namun kucoba untuk berpura-pura tak ada yang terjadi meskipun saat ini lagi lagi tatapan mata mereka seakan menusuk ku. Aku sudah berjanji tidak akan menggubris itu. Aku harus bisa melewati ini semua sendirian karena tak ada yang bisa kujadikan sebagai teman dan tempat bersandar selain diriku sendiri.
Perlahan aku memasuki kantin langsung saja seluruh mata mengarah kearah ku. Bisik-bisik mereka saja Sangat jelas di pendengaran ku. Aku hampir saja ingin berbalik pergi namun aku tak mau kalah begitu saja. Kenapa aku harus menahan lapar karena hal yang tak kulakukan sama sekali. Kalau aku lari berarti aku mengakuinya.
"Wahhh kenapa sih dengan nya? Tidak tahu malu sama sekali. Bisa-bisanya dia masih mau memperlihatkan dirinya di hadapan banyak orang. Rasa malunya sudah tidak ada, " Ucap seseorang dan dengan cepat kucari asal suara itu. Kutatap ia dengan tatapan kesal karena sudah berani mengatai ku seperti itu.
"Waw dia marah gaes hahaha. " Mereka menertawakan ku. Inilah yang kutakutkan saat aku ingin mencoba menahan diri dan bertahan tak ada yang peduli mereka bahkan semakin gencar ingin menyudutkan ku.
Setelah aku selesai mengambil makanan ku aku mencari tempat duduk tak ada sama sekali yang tersisa untuk ku. Mereka menatapku dengan Tatapan kasihan saat aku masih saja berdiri tanpa tau harus duduk dimana kini.
Bugh,
Tiba-tiba saja ada yang lewat dan menabrak ku hingga makanan ku jatuh ke lantai ditambah aku yang hampir oleng namun masih bisa kutahan.
"Upss sorry yah gua emang sengaja. Sadar ngk sih lu tuh udah ngilangin nafsu makan kita karena udah datang kesini. Dasar ngk tau diri. " Bukannya minta maaf ia malah menghinaku. Aku ingin menampar nya namun melihat situasi sangat tidak mendukung aku lebih baik memilih untuk pergi saja. Mereka pasti punya banyak cara untuk membully mu.
Tiba-tiba saja sebuah pesan dari ragil datang. Ia menyuruhku untuk datang ke ruang bahasa. Kenapa dia tiba-tiba seolah ingin berdekatan dengan ku? Bukankah ia sudah tidak perduli lagi?.
Dengan pelan aku memasuki kelas bahasa yang disana hanya ada ragil yang sedang menunggu ku sembari melihat kearah luar.
"Gil, aku datang nih. " Aku mencoba tetap menunduk karena sangat malu dengan wajahku yang hancur karena menangis sejak tadi.
Ragil pun berbalik, sebenarnya aku ingin menjelaskan semuanya pada ragil saat memiliki kesempatan berdekatan begini. Namun, aku baru sadar kalau aku menjelaskan nya itu terdengar seperti aku memberikan ia harapan. Aku tak mau membuat ia kecewa untuk kesekian kalinya.
"Khem,, apa yang di laman sekolah benar? " Tiba-tiba saja ragil membuka pembicaraan dengan pertanyaan itu.
Satu hal yang kutangkap setelah mendengar itu. Bahwa ragil ternyata sama dengan mereka, tak percaya dengan ku. Kalau ia percaya ia tak akan menanyakan itu.
__ADS_1
Aku meremas pelan rok seragamku. Lagi-lagi air mataku hampir jatuh karena sahabat ku yang kukira mengerti ternyata sama dengan mereka. Aku tak habis pikir dengan mereka berdua.
"Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti itu untuk menjadi model, aku tidak pernah menggoda om-om untuk mendapatkan uang ak,,, " Belum juga ku selesaikan ucapanku sudah dipotong duluan oleh ragil.
"Lu yakin? Buktinya udah nyata banget di depan gua. Gua sendiri ngk nyangka lu ternyata se murahan itu. Kalau bukan menggoda mereka lantas kenapa lu bisa jadi istri paman gua selagi ia masih punya kekasih. Lu pikir gua ngk tau kalau paman gua masih punya kekasih dan menikah dengan lu? Berapa banyak uang yang paman gua berikan untuk membayar harga dirimu itu? "
Seperti jutaan paku ditancapkan diseluruh tubuhku saat mendengar itu langsung dari ragil, kenapa kata-katanya lebih menyakitkan dari semua ucapan orang. Aku tak menyangka ia bahkan lebih jahat dibanding mereka yang menghinaku.
Ku kepalkan tanganku untuk mencoba sabar. Aku ingin memukuli nya dengan keras.
"Lu nolak gua karena berpikir gua ngk mampu ngasih lu banyak uang? Gua juga bisa bayar lu seperti paman gua. Lu mau berapa banyak? Asal lu mau jadi pacar gua. "
Plak,
Aku sudah tak bisa menahan diriku saat ragil berbicara seperti itu tentang ku. Aku sungguh tak serendah itu sebagai wanita.
"Jaga bicaramu ragil, aku adalah istri paman mu. Aku sungguh bukan seperti yang kalian pikirkan. Aku sama sekali tidak melakukan hal-hal seperti itu untuk mendapatkan uang. Kalau aku butuh uang aku akan mencarinya dengan bekerja dan kamu mungkin tau itu. Lebih baik aku mati saja daripada harus melakukan itu. Jaga ucapanmu aku tak mau lebih banyak lagi berita tentang ku karena mu. " Aku mencoba untuk bangkit dan pergi karena sadar bahwa ragil bukanlah orang yang tepat untuk ku berbagi duka. Ia juga tak lebih baik dari mereka yang menyudutkan ku.
Ragil menarik ku dan menindih tubuhku diatas kursi panjang dikelas bahasa itu. Mau apa dia?.
"Hahaha lu tau ngk seberapa kecewa gua saat tau lu adalah istri paman gua. Mari kita lihat bagaimana reaksinya saat tau kalau kamu ternyata menggoda keponakan nya juga. Mari buat berita lebih besar lagi."
Apa yang sedang ragil pikirkan kini? Kenapa ia bisa memikirkan hal menjijikkan seperti ini? Aku tidak mau sangat tidak mau.
Ragil mendekat dan hampir saja mencium bibirku namun kucoba untuk menghindari nya sebisaku. Aku sangat tidak ingin dilecehkan lebih dari perlakuan mas Albar.
"Ragil kamu sudah gila, aku mohon jangan seperti ini. Aku tidak ingin seperti ini. " Kucoba untuk berontak sekuat tenaga ku.
Ragil semakin mengerahkan seluruh tenaganya hingga kini ia berhasil mencium bibirku. Air mataku langsung saja meluncur bebas. Sangat menyakitkan mendapat perlakuan tidak senonoh seperti ini. Kenapa ragil jadi seperti ini? Ia masih sangat muda dan masih SMA untuk berpikir hal-hal seperti ini?.
"Hiks,, " Aku semakin menangis saat ragil hampir saja membuka habis kancing baju seragamku.
__ADS_1
"Ragil, sadarkah kamu sudah menambah luka ku? Hidupku sudah sangat hancur. Kamu ingin membuatnya sehancur apa lagi? Hiks aku sudah tak berarti untuk hidup hiks,, "
Dan tiba-tiba saja ragil yang sedang menghisap leherku berhenti dan bangkit. Aku menangis dengan keras tanpa bergerak sedikitpun.
Ku lihat ia semakin kepalang dan terlihat sangat linglung. Matanya memerah dengan air mata tertahan juga. Aku sungguh sangat malu dan sakit hati kini. Bagaimana bisa dia melakukan hal tadi padaku. Kukira ia akan menjadi orang yang menggenggam tanganku mengatakan semuanya akan baik-baik saja seperti saat dulu. Tapi dari sekian banyak orang yang menabur luka didalam hidupku. Luka yg ia tabur lah yang paling menyakitkan untuk aku tahan.
Ragil terlihat sangat frustasi dan mengacak rambut nya dengan keras sembari terlihat kebingungan.
"Sial, kenapa dengan ku? Aku sama sekali tidak sadar tadi. " Batin ragil merasa frustasi setengah mati.
Ragil pun langsung berlari keluar. Aku langsung bangkit dan memperbaiki penampilan ku dengan air mata yang kian menderas. Kenapa hidup ku se menyedihkan ini?.
"Hiks,, . " Aku terus saja meluapkan tangisanku di ruang kosong tanpa seorang pun disana.
"Aku hanya ingin dihargai hiks,, hanya itu kenapa tak ada seorang pun yang ingin menghargai ku? Hiks,, sahabatku sendiri hiks,,,. " Aku sudah tak bisa lagi mengatakan apapun karena sesak yang kian menjadi-jadi.
Kenapa hari ini sangat berat untuk kulalui? Apakah hari-hari kedepannya akan lebih berat lagi?
Aku sudah mulai lelah untuk bertahan dengan tenaga yang tak seberapa ini.
🍁🍁Bersambung 🍁🍁
Percayalah!!
Adegan inilah yang paling menyayat hatikuu 😓😓😓
Air mataku udah ngk bisa lagi nahan nya saking sedihnya bayangin jadi zhia.
Jangan lupa yah like, komen dan vote😍
Pai pai say🍁
__ADS_1