Menikah Cepat!!!

Menikah Cepat!!!
79. Kamu bukan kamu


__ADS_3

๐Ÿ๐ŸBiarkan aku mencoba untuk terus bertahan saat hati dan jiwa kian merasa lelah ๐Ÿ๐Ÿ


Albar masih saja memeluk zhia yang saat ini masih terus menepuk pelan punggung zhia. Meskipun sudah sangat malas tapi mau tak mau ia harus mau menurut agar pria gak jelas di dalam pelukan nya itu segera melepaskan nya.


"Tuan, kapan di lepas nih pelukan nya? " Zhia sudah mulai kesal.


"Sebentar lagi yah. " Albar masih saja menyeruak kan kepala nya dileher zhia.


"Iih tuan kenapa sih? Geli tau digituin leher nya. " Zhia mencoba menjauhkan leher nya dari Albar.


Albar tak bisa lagi menahan senyum dalam dekapan zhia. Dia pun melepaskan nya secara perlahan.


"Sudah kan? Saya masih punya banyak urusan. " Zhia mencoba untuk pergi namun ditahan oleh Albar saat melihat wajah zhia yang lebam itu.


Padahal tadi ia sempat melihat kearah zhia mungkin karena kebanyakan modus ia tak sadar dengan itu.


"Kenapa dengan wajahmu? " Elus Albar dengan pelan diare pipi zhia yang dua-duanya ditampar keras oleh siswa disekolah nya tadi.


Zhia buru-buru berpaling, ia lupa bahwa Albar adalah tipe orang yang banyak bertanya "Saya baik-baik saja tuan. " Zhia mencoba untuk pergi namun ditarik oleh Albar hingga mereka berdua terduduk diatas kasur dengan keadaan zhia diatas pangkuan Albar.


"Iih kenapa sih tuan? Lepaskan saya. " Zhia kesal.


"Jelaskan dulu pipi kamu kenapa? Kenapa bisa lebam gini? Ada yg mengganggu mu disekolah? " Albar terlihat sangat khawatir.


"Tuan kenapa sih hari ini? Tuan sakit? Kenapa tiba-tiba sok perhatian gitu? " Tanya zhia langsung pada Albar.


"Loh, memang nya kenapa kalau aku perhatian sama istri aku sendiri. Salah yah? " Tanya Albar mencoba untuk menggoda zhia.


"Kenapa sih? " Zhia semakin heran saja saat Albar memang mengucapkan kata istri dengan mulutnya sendiri.


"Sejak kapan ia benar-benar menganggap ku sebagai istrinya sendiri? " Batin zhia heran.


"Kamu belum Jawab pertanyaan aku, pipi kamu kenapa lebam begitu? " Albar lagi-lagi tak mau menyerah untuk tau itu.


"Saya baik-baik saja tuan, bisa tolong lepaskan pinggang saya? "


"Kalau kamu ada masalah beritahu aku, kamu jangan pendam sendirian. Itu gunanya aku sebagai suami kamu. "


"Kenapa sih? Bukannya dia yg bilang jangan bawa-bawa dia kalau aku kena masalah? Lagian sejak kapan sih dia nganggep aku sebagai istri nya? " Batin zhia.


"Iya tuan iya, tapi saya memang baik-baik saja. " Zhia mencoba untuk bangkit dari pangkuan Albar.


"Tuan, bisa kan lepaskan pinggang saya? "


"Kita obati dulu pipinya, " Ucap Albar tiba-tiba.


"Cuma lebam doang tuan, ngk perlu diobati nanti juga sembuh sendiri. "


"Kamu tau tidak obat yang pas untuk itu? "


"Tidak tau. "


"Kamu mau tau ngk? "


"Ihh ngk mau, saya hanya ingin lepas dari tuan itu saja. Sangat tidak nyaman dengan posisi ini. " Kesal zhia.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Albar membalikkan tubuh mereka hingga kini zhia sudah berada dalam tindihan nya.


"Bagaimana dengan ini? Masih tidak nyaman? "


"Ihh kenapa sih? Awas yah kalau tuan berani macam-macam sama saya. Saya teriak nih. "


Albar tertawa sangat lebar merasa zhia sangat lugu walaupun mulutnya cenderung melawan tapi tetap saja zhia adalah gadis lugu dan imut dimata Albar.


"Yasudah teriak saja agar mereka melihat posisi kita seperti ini. Saya sih tidak masalah dengan itu hhahaha. " Albar tak hentinya tertawa Karena itu.


"Tuan kenapa sih? Ada masalah yah? Kenapa tiba-tiba tuan terlihat seperti bukan tuan yang biasanya? Stress sudah tak tertolong. " Zhia mulai geram hingga tak bisa mem filter kata-katanya.


"Ciee perhatian... " Albar tersenyum dan menggoda zhia yang melihat kearah nya dengan tatapan heran.


"Kenapa sih dengan nya? Apa cuma aku yang merasa mas Albar ini mulai tak waras. " Batin zhia heran.


"Gimana? Kamu masih tidak ingin tau yah obat paling mujarab untuk pipimu itu? "


"Tidak mau. "


"Yasudah kalau tidak mau tau, kita begini saja sampai subuh berikutnya datang. "


"Iya iya saya mau tau tuan, emang obatnya apa yah? " Zhia dengan segala keterpaksaan mengikuti permainan gila Albar ini.


Cup,


Cup,


Albar dengan pelan mencium pipi zhia kiri kanan dengan sedikit lama hingga sangat empu membelalak kan matanya kaget.


Zhia benar-benar ingin membunuh laki-laki yang saat ini menindih tubuhnya itu. Benar-benar sudah tidak waras dan sudah gila.


Tuk,


"Akhhh." Albar berteriak saat zhia dengan kesal menendang otong nya lagi hingga ia dengan menahan sakit memegangi nya.


Sudah sejak tadi zhia mencoba untuk bersabar menghadapi Albar. Tapi laki-laki itu semakin menjadi jadi hingga zhia tak bisa menahan nya lagi.


"Kamu kenapa sih suka sekali menendangnya? Bisa-bisa hilang fungsi nih. Kamu mau nanti dia ngambek harusnya tahan 12 ronde jadi 10 ronde? Duhhh. " Albar masih saja mencoba untuk menenangkan si Dedek dibawah sana yang ditendang oleh zhia tadi.


"Kalau tuan lancang lagi cium-cium saya, bukan hanya ditendang tapi saya sunat sampai tuan ngk punya anu lagi. " Kesal zhia berjalan keluar kamar sebelum itu ia menyenggol Albar terlebih dahulu.


Albar sudah tak bisa lagi menahan tawa karena merasa zhia benar-benar menggemaskan bahkan saat marah. Mencoba untuk mencari perhatian zhia juga cintanya benar-benar membuat Albar sangat penasaran dan bersemangat.


"Kita lihat sejauh mana kamu akan menolak pesona ku ini. Tak ada yang bisa menolak seorang Albar seorang pun. Kamu akan tau bagaimana diriku sebenarnya dan akan menginginkan ku lebih dari aku. " Albar bergumam dengan senyuman.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


"Gil, aku takut kamu kena masalah jika berdekatan dengan ku. " Zhia yang sejak tadi mencoba untuk melepaskan genggaman ragil ditangan nya.


"Udah diem aja, setidaknya gua cuma bisa bantu lu dengan berada di dekat lu. Untuk menghentikan mereka butuh waktu dan lu tau kan kita masih SMA semuanya terbatas. " Ragil masih saja membawa zhia berjalan menuju kelas bahkan saat banyak sekali pasang mata yang melihat heran dan kaget dengan itu.


Ragil adalah laki-laki idaman banyak gadis disekolah itu. Mereka tentunya kaget sekali zhia bisa bersama dengan nya. Mereka tau mereka adalah sahabat tapi apa harus yah berpegangan tangan kesekolah?.


"Wahh ada apa nih? Kenapa ragil bisa bareng sama ja*ng itu? Pasti ragil udah kemakan rayuan gadis rubah itu. " Bisik-bisik yang lain hingga zhia semakin takut saja.

__ADS_1


"Kalau gua jadi ragil gua ngk bakal mau lagi sahabatan sama manusia kotor itu. " Sambung yang lain.


"Lu masa ngk tau sih, kucing dikasih ikan asin mana pernah nolak. Nah gitu juga dengan ragil, kalau dikasih gratis kan mana nolak dia hahaha. " Mereka terus saja berbicara yang tidak tidak dengan ragil juga zhia.


Zhia tak pernah takut untuk diperlukan seperti itu. Ia hanya tak ingin ragil terkena masalah karena nya.


"Gil, aku mohon lepasin tangan aku. Aku ngk mau kamu kena masalah karena ku. " Zhia benar-benar tak ingin itu terjadi.


"Gua punya banyak penyesalan sama lu, gua ngerasa jahat karena udah salah faham, belum lagi gua udah nyakitin lu. Ini masih belum apa-apa untuk menebusnya. "


"Aku udah maafin itu semua gil, jadi aku mohon jangan nyari masalah lagi. Aku ngk mau kamu kena batunya karena ku. " Zhia melepaskan tangan ragil namun ragil tak mau melepaskan itu dengan menarik zhia lebih dekat lagi dengan nya.


"Anggap saja mereka hanya iri sama lu. Jangan menunduk dan jangan memasang wajah takut. Terus jalan kedepan. " Ragil mendudukkan zhia di kursinya.


Setelah itu ragil langsung menarik Lea yang sedang menatap marah dan kesal kearah mereka berdua.


"Ikut gua. "


Seisi kelas langsung melihat heran kearah ragil juga lea yang berjalan keluar kelas.


"Iihh kenapa sih? Lepasin gua. " Lea dengan kesal mencoba untuk lepas dari ragil. Lea memang seorang anak Karate tapi saat bersama ragil tenaganya bukanlah tandingannya.


"Kenapa sih? "Lea kesal setelah mereka sudah berada di belakang sekolah.


" Kenapa lu bilang? Apa sebenarnya masalah lu? Lu pikir gua bakal suka sama lu dengan ngelakuin semua ini sama zhia? "Ragil langsung to the poin hingga Lea kaget.


" Apa maksud lu? Gua ngk ngerti. "


"Alah, ngk usah pura-pura lagi. Gua kenal lu siapa, lu itu egois Lea. Sejak dulu ngk mau berubah kalau lu ngk bisa dapetin sesuatu lu ngk bakal biarin orang lain dapetin itu. Dan lu pikir dengan ku kayak gini lu bakal bisa bahagia? "


"Lu ngomong apa sih? Gua ngk ngerti sama sekali. "


"Ini akun lu kan? Lu yang posting berita palsu tentang zhia kan? " Ragil menunjukkan ponsel nya yang tertera sebuah akun disana.


Lea terlihat kaget namun ia mencoba untuk tenang "Lu kenapa sih gil? Apa benar kalau lu udah kemakan rayuan zhia? Gua bahkan baru tau setelah liat postingan itu. Gua juga kaget saat tau itu zhia. Gua ngk bisa nerima kenyataan itu. Jangan asal nuduh gua sembarangan. "


Ragil tersenyum dengan geram kearah Lea"Lu emang ngk pernah berubah yah, tempramen lu itu udah buat hidup seseorang hancur. Coba tarik ke diri lu sendiri. "Ragil benar-benar kesal kepada Lea.


" Lu pernah ngk mikirin perasaan gua? Kenapa lu cuma liat sisi buruknya gua? Gua,,, "


"Ingat ini, lu pikir dengan cara seperti ini bisa bikin lu bahagia dan dia menderita. Tanya hati lu yang paling dalam. Masih adakah perikemanusiaan disana? " Ragil pergi begitu saja meninggalkan Lea yang bahkan belum selesai mencurahkan isi hatinya.


"Akhhh, " Lea berteriak kesal karena itu.


Ia menangis dan duduk diatas tanah. Ia merasa marah kesal juga sedih bercampur aduk.


"Ja*ng sialan, awas saja gua bakal cari cara lebih lagi biar lu tau kehancuran yang sebenarnya. " Lea dengan tangan terkepal keras.


๐Ÿ๐Ÿbersambung ๐Ÿ๐Ÿ


Aku jadi bingung gaes๐Ÿคฃ๐Ÿคฃmilih ragil apa Albar nih. Dua-duanya kusuka ๐Ÿ˜


Jangan lupa yah like, komen dan vote๐Ÿ˜


Pai pai say ๐Ÿ

__ADS_1


__ADS_2